home Analisis, Opini Bela Islam

Bela Islam

Sudah berlalu 2 bulan, sejak sang Gubernur Jakarta itu melontarkan kalimat yang tidak pantas yang kuat diduga menista kitab suci umat Islam. Sudah tak terhitung, unjuk rasa baik di daerah maupun ibukota yang dilakukan kaum muslimin dalam rangka menuntut para penegak hukum untuk menindak Sang Gubernur dengan seadil-adilnya. Terakhir, ratusan ribu massa (ada yang bilang 1 jutaan) dari berbagai penjuru memadati kawasan Istana Merdeka pada 4 November yang dikenal dengan aksi 411. Kabarnya, pada 212 nanti (atau hari ini?), akan ada aksi susulan yang lebih masif.

Dalam sejarah panjang ummat Islam, tidak pernah dijumpai usaha kaum muslim yang serepot dan semelelahkan itu untuk dapat menindak penghina agama. Pernah ada nabi palsu seperti Abhalah ibnu Ka’ab yang hidupnya berakhir tragis dihabisi oleh istrinya sendiri, Idzan. Sedangkan yang termasyhur, Musailimah Al-Kadzdzab, mati ditangan Wahsyi bin Harb di masa khalifah Abu Bakar. Ada juga penghina Nabi seperti Ka’ab ibnu Al-Asyraf, Abu Rafi’ Abdullah Ibnu Abi Al-Huqaiq, dan beberapa wanita yang akhirnya berhasil diberantas oleh kekuatan negara. Sedangkan Bani Quraidhah, kelompok yang melindungi penghina Nabi, nasibnya juga kurang lebih sama.

Di era modern, ada Sultan Abdul Hamid II (berkuasa pada 1876-1909) yang memperingatkan pemerintah Prancis agar menghentikan pementasan drama yang diadaptasi dari karya filusuf Voltaire. Sebuah drama yang masih diduga akan menghina Nabi. Turki Utsmani mengingatkan akan dampak politik yang bakal dihadapi Prancis jika pementasan tersebut nekat dilanjutkan. Prancis pun serta-merta membatalkannya. Tak mau menyerah, EO drama itu kemudian memindahkan acara ke negeri seberang, Inggris. Tapi pentas juga tidak berhasil digelar lantaran ancaman keras dari Sang Sultan.

Hari ini, penista agama sudah merasa merdeka. Tidak hanya di Indonesia, di benua Eropa, misalnya, hal serupa juga sudah jadi sego-jangan. Filem Fitna di Belanda dan Charlie Hebdo di Perancis contohnya. Seperti kata Nabi, ada suatu masa dimana kaum muslim hanya dianggap buih di lautan, banyak tapi tidak berarti apa-apa. Di sisi lain, bagi beberapa ummat beragama, mungkin penghinaan agama hanyalah perkara biasa. Beragama hanyalah urusan manusia yang dipilih sesuai selera. Bahkan gonta-ganti agama juga tidak apa-apa. Kita meihat bahwa tontonan-tontonan dari negeri Amerika mengajarkan seperti itu adanya.

Buntut penistaan agama oleh sang Gubernur Jakarta itu di satu sisi memang punya hikmah (haruskah berterima kasih pada dia?). Kaum muslim berhasil dipolarisasi antara yang pro-Islam dan yang imannya masih tanda tanya. Fenomena Bela Islam hari ini bercerita satu hal kepada kita, bahwa peraaan Islam di benak kaum muslim hari ini memang masih ada. Ummat serentak bersatu, ketika kitab suci mereka dituduh jadi alat pendusta. Berbondong-bondong manusia rela meninggalkan waktu produktif mereka demi ambil bagian dalam suatu unjuk rasa kolosal di ibukota. Ini jelas pertanda tegas, bahwa kaum muslim siap berkorban demi agamanya. Dan satu hal, kebangkitan Islam tinggal menunggu waktu saja.

Namun arah perjuangan tersebut nampaknya masih apologetik dengan kondisi sekitar bahkan cenderung mengambil tema-tema lokal. Kita tahu bahwa narasi “menegakkan konstitusi” dalam aksi itu jelas belum islami. Hari ini penista agama diproses dengan hukum produk nafsu petualang demokrasi. Sedang di satu sisi, jargon seperti “NKRI bersyariah” membuat transnasionalisme Islam jadi ‘terpagari’. Ummat hendaknya belajar untuk keluar dari sekat-sekat ajaran semu bapak pendiri negeri.

Pekerjaan rumah yang tersisa bagi kaum muslim hanya tinggal mengkanalisasi ghirah tersebut pada suatu perjuangan yang lebih sahih. Hendaknya disadari, bahwa benteng paripurna terhadap berbagai keliaran yang menimpa Kitab dan Rasulnya adalah sebuah persatuan Islam yang bersifat formal-global, bukan sekedar persatuan perasaan, ritual haji, gerakan nasional, atau bahkan badan kerjasama. Formal berarti adanya pengukuhan bersama, yang bisa jadi berbentuk sebuah prosesi. Itulah yang disebut dengn bai’at (sumpah taat) kepada khalifah kaum muslim. Global berarti kepemimpinan itu memang untuk muslim di seluruh dunia yang akan membuang batas-batas semu nasionalisme diantara mereka. Persatuan kaum muslim sedunia tersebut tidak hanya akan menyelesaikan persoalan sederhana seperti menghukum penista agama, tapi juga akan menuntaskan berbagai problema pelik yang kini menjangkiti ummat.

Problema sistemik dalam negeri –dalam kacamata syar’i- seperti peneraban riba, pemberlakuan Undang-Undang yang berbau ekonomi-liberal, legalisasi terbatas miras, beserta perda-perda bermasalah lainnya jelas tidak boleh terlupa. Sedangkan pembantaian kaum muslim di Rohingya, Palestina, Syria, dan di belahan bumi lainnya juga tidak bisa dianggap sebagai masalalu atau masalah loe. Terlalu sibuk pada satu urusan memang bukan sikap bijak. Ummat harus ingat bahwa adanya kondisi mereka yang semrawut hari ini memang bukan idealitas Islam yang biasanya. Islam hari ini jelas berbeda dengan Islam dulu di abad 7 hingga 15 yang jumawa menebar rahmat, disegani oleh peradaban di timur hingga barat.

Perjuangan mewujudkan supremasi itulah bela Islam yang sesungguhnya. Ia tidak sekedar berbekal semangat yang tak pernah padam, tapi pemikiran yang cemerlang dan mendalam. Perjuangan yang menuntut kita untuk “marah” tidak hanya ketika Islam dihina, tetapi mencoba aktif menebar ancaman bagi musuh-musuh Islam dimana saja. Perjuangan yang sadar bahwa di luar sana ada jutaan pelanggaran syara’ –yang tak kasat mata dan telinga- tiap detiknya yang menuntut sebuah solusi. Mari, bela Islam tiap hari! [tomas]

 

 

512 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 76 times, 1 visits today)