home Analisis, Opini, Pemikiran Belajar Memahami Masalah Sistemis

Belajar Memahami Masalah Sistemis

Kadang ketika kita menemui suatu masalah, kita terburu-buru untuk menyimpulkan solusinya, apakah ganti orang, ganti teknologi, atau bahkan ganti sistem. Padahal sebelum suatu permasalah dicarikan solusinya, alangkah lebih baik jika kita memetakan masalah tersebut terlebih dahulu, apakah level teknis, perorangan, sistemis, atau ideologis.

Setiap masalah pada suatu level harus ditembak dengan solusi pada level yang sama. Permasalahan yang sederhana apabila diselesaikan dengan pergantian sistem tentu sangat memakan tenaga. Sedangkan permasalahan kompleks yang diselesaikan dengan hanya ganti orang, atau ganti alat, tentu membuang-buang waktu saja. Kadang juga solusi teknis yang brilian yang diterapkan pada permasalahan sistemis hanya akan mengkonfirmasi kerusakan sistem yang sudah ada.

Levelisasi permasalahan boleh jadi berbeda menurut setiap orang. Yang pasti, setiap spektrum level  tipikal-nya membentang dari yang level dimana cukup berpikir pada lingkup yang sempit hingga lingkup yang sangat luas. Jika menurut Prof. Fahmi Amhar, level atau tingkatan masalah bisa dibagi menjadi tujuh: 1) praktis, 2) mekanis, 3) teknis, 4) yuridis, 5) politis, 6) akademis, dan 7) ideologis [1].

Jika tidak mau repot, paling tidak kita bisa membagi level persoalan itu menjadi dua: 1) individu-teknis dan 2) kebijakan-sistemis. Gambaran masing-masing level ini bisa dipahami dengan analogi pada konstruksi bangunan. Mari disimak:

Sebuah bangunan lantai 5 yang terdiri dari semen, pasir, agregat (kerikil) -yang dipadu menjadi adonan beton-, juga batu bata, kayu, baja ringan, dan bahan pelengkap (genteng,  kaca, plitur, triplek, dll), tidak serta merta menjadi bangunan tanpa adanya desain yang kemudian dikonstruksikan. Desain inilah yang menjadi sebuah rancangan awal yang menentukan keandalan bangunan.

Desain bangunan lantai 5 tentu berbeda dengan desain rumah lantai 1, walaupun keduanya terdiri dari material yang sama. Bangunan lantai 5 harus dibangun dengan rangka beton dengan kualitas tertentu dan geometrinya memenuhi standar tertentu (di Indonesia ada SNI), karena selain harus menahan beban sendiri, dia juga harus bisa menahan gaya gempa. Sederhananya, bangunan lantai 5 memiliki desain struktur yang lebih kompleks. Sedangkan bangunan lantai 1, hanya dibangun dengan susunan batu-bata saja tanpa rangka beton pun sudah cukup (ini terjadi di mayoritas rumah di desa).

Bangunan pencakar langit
Bangunan pencakar langit membutuhkan desain (sistem) yang pasti berbeda dari rumah lantai 1

Apa jadinya bila bangunan lantai 5 didesain dengan seperti bangunan lantai 1? Mungkin saja akan bertahan, namun tidak lama akan ambruk. Inilah contoh sederhana pentingnya sebuah rancangan awal, yang dalam dalam konteks ini adalah “sistem”.

Bangunan lantai 5, meski dibangun dengan semen terbaik, batu bata kualitas nomor satu, pasir dari Gunung Merapi (harganya bisa dua kali lipat pasir biasa),  namun jika desainnya tetap seperti bangunan lantai 1, maka keandalannya tetap tidak terjamin. Masalah sistemis, walau itu diperbaiki dengan pengusahaan perbaikan SDM dan teknologi yang pol-polan, tentu tidak akan merubah banyak. Demikianlah kerusakan level kebijakan-sistemis, harus diselesaikan dengan solusi sistemis juga. Dalam kasus bangunan tadi, maka suka atau tidak suka, solusinya harus di-redesign lalu di-reconstruct. Walau ini kedengarannya cukup radikal.

Dalam konteks masyarakat pun demikian. Ambil kasus kerusakan jalan di Indonesia misalnya. Mungkin ketidakcakapan para pekerja konstruksi kita, misalnya memanaskan aspal pada suhu yang berlebihan, adalah satu sebab. Namun ini bisa jadi karena tidak adanya supervisor. Atau bahkan ada pengawas, namun kompetensinya dipertanyakan karena kampusnya dulu kurikulumnya tidak lengkap atau dosennya suka mangkir karena mroyek. Faktor yang pertama tadi bisa disebabkan malasnya pejabat kita mendidik pekerja agar memiliki skill tinggi, dan ini bisa jadi karena dana yang ada dikorupsi. Korupsi sendiri adalah akibat mahalnya biaya pemilu akibat sistem demokrasi. Sedangkan yang kedua bisa jadi disebabkan kurangnya kampus berkualitas akibat kurangnya dana yang bisa jadi akibat korupsi juga. Itu masih dari segi skill pekerjanya, belum lagi kalau membahas ‘permainan’ penjatahan material, desain konstruksi, dan sebagainya.

Akibat problem sistemis ini, masalah turunan yang ada akan muncul berulang kali dan terjadi di semua lini. Fakta bahwa korupsi yang terjadi di negara kita ternyata tidak sekali dua kali, berganti generasi malah makin menjadi-jadi, ini menunjukkan ada yang salah dalam sistem demokrasi. Juga fakta bahwa rakyat kecil yang juga suka main suap sana-sini, harusnya juga semakin membuat kita sadar akan hal ini.

Maka dari sini tentu kita bisa mengambil pelajaran, secanggih apapun teknologi, selurus apapun manusia, tetap saja tidak akan berbuat banyak untuk menghadapi persoalan yang sistemis. Bahkan Mahfud MD pun pernah nyeletuk kalau malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia (saking rusaknya) pun bisa jadi iblis juga [3]. []

[1] http://www.fahmiamhar.com/2013/02/banjir-persoalan-teknis-hingga-ideologis.html

[2] http://hizbut-tahrir.or.id/2014/01/21/penyebab-banjir-jakarta-dari-teknis-hingga-ideologis/

[3] http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/10/07/muasnx-mahfud-md-malaikat-masuk-ke-sistem-indonesia-pun-bisa-jadi-iblis

 

542 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 206 times, 1 visits today)