Platform KKI untuk Pemira Kabinet KM ITB 2014

Mahasiswa dan Perubahan
Ditinjau dari struktur sosial kemasyarakatan, mahasiswa dan kampus merupakan satu kesatuan sistem sosial yang mempunyai peranan penting dalam perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan dari potensi manusiawi, mahasiswa merupakan sekelompok manusia yang memiliki taraf berpikir di atas rata-rata. Dengan demikian, kedudukan mahasiswa adalah sangat strategis dalam mengambil peran yang menentukan keadaan masyarakat di masa depan.
Dengan potensi intelektualitasnya, mahasiswa sangat pantas untuk menjadi garda depan dalam barisan yang membawa perubahan. Menjadi pemberi inspirasi dan memberi semangat pada masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik. Namun dalam sejarah dunia kemahasiswaan ada beberapa pertanyaan yang sangat jelas belum dijawab secara utuh dan lugas sebelum mengadakan perubahan. Yang mana pertanyaan-pertanyaan ini menentukan metodologi pergerakan yang diusung oleh mahasiswa itu sendiri, yaitu:

1. Mengapa harus ada perubahan?
2. Bagaimana kondisi yang diharapkan setelah perubahan?
3. Bagaimana metode perubahannya?

Ketiga pertanyaan ini mau tidak mau harus dijawab dengan tepat agar perjuangan pergerakan yang mengusung perubahan ini memiliki latar belakang, tujuan, dan metode yang jelas serta dapat dijalankan secara konsisten. Nah, sekarang, bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut? Agar dapat menjawab ketiga pertanyaan di atas, diperlukan suatu landasan yang konsisten atau kita sebut sebagai ideologi. Ideologi adalah suatu pemikiran mendasar yang dari padanya lahir konsep-konsep serta metode-metode pengaplikasian ideologi tersebut. Kekuatan ideologi inilah nantinya yang akan menentukan bagaimana kita menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Ideologi ini pula yang akan menentukan apakah jawaban terhadap ketiga pertanyaan tersebut sudah benar, keliru, atau bahkan salah total. Sehingga, gerakan mahasiswa harus mempunyai ideologi yang jelas dan kokoh sebagai landasannya, yang mana ideologi ini pun didasari pada pertanyaan yang serupa dengan 3 pertanyaan, namun tidak sama persis, yaitu:

1. Dari mana kehidupan?
2. Mau kemana setelah kehidupan?
3. Untuk apa hidup?

Persepsi Dasar
Ketiga pertanyaan di atas harus dijawab dengan benar, yaitu dengan parameter memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Jawaban atas tiga pertanyaan mendasar itulah, yang akan menjadi pemikiran mendasar sekaligus landasan kehidupan bagi manusia. Itulah aqidah. Jawaban dari tiga pertanyaan mendasar ini yang menentukan gaya hidup seseorang atau model peradaban manusia.

Perbedaan jawaban atas tiga pertanyaan mendasar inilah yang menimbulkan terjadinya perbedaan aqidah, sekaligus akan melahirkan perbedaan peraturan dalam berbagai sendi kehidupan.

Aqidah Islam sendiri memiliki jawaban jawaban khas terhadap tiga pertanyaan mendasar diatas.

Dari mana manusia, alam semesta dan kehidupan ini berasal? Islam menjawab bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada sang pencipta (al-khaliq), yang mengadakan semuanya dari tidak ada menjadi ada.
Bukti adanya pencipta ini terlihat dari realitas alam semesta, manusia dan kehidupan memiliki sifat yang sangat terbatas. Segala sesuatu yang ada dalam alam semesta, laut, matahari, gunung, pohon dan sebagainya tampak bersifat terbatas dan mengikuti aturan tertentu. Lihatlah sebuah pohon yang awalnya sebuah benih, kemudian tumbuh dan terus tumbuh hingga sampai masanya dan akhirnya mati. Begitu pula halnya dengan manusia dan kehidupan, bersifat terbatas dan tunduk pada aturan tertentu. Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin ketiga hal itu, ada dengan dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya, Dialah Sang Pencipta (al-khaliq). Al-khaliq ini pasti bukan makhluk, karena sifat-Nya sebagai Sang Pencipta memastikan diri-Nya bukanlah makhluk. Ia bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), wajibul wujud (pasti adanya), dan mutlak keberadaannya.

Dengan demikian, setiap orang yang berakal pasti akan dapat meyakini keberadaan sang pencipta, karena dengan mengamati segala yang ada di dunia ini akan dapat memberikan pemahaman bahwa segala sesuatunya membutuhkan adanya Sang Pencipta. Karena itu, perintah untuk memikirkan alam semesta, manusia dan kehidupan, banyak sekali kita temukan dalam al-Qur’an, diantaranya:

“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Juga firman-Nya:

“(Dan) diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakannya langit dan bumi serta berlain-lainnya bahasa dan warna kulitmu.” (QS. Ar-Rum: 22).

Demikian, Aqidah Islam mengharuskan beriman akan adanya Sang Pencipta dengan melakukan aktivitas berfikir terhadap ciptaan-Nya.

Namun, perlu difahami bahwa kemampuan berfikir manusia hanya sampai pada pemahaman tentang keberadaan Allah. Akal manusia tidak akan bisa langsung memikirkan tentang zat dan hakikat Allah swt. Karena, Allah swt. berbeda dengan makhluk-Nya yang dapat diindera.

Setelah mengimani adanya pencipta, manusia pun dituntut untuk mengimani al-Qur’an sebagai wahyu dari Sang Pencipta. Untuk membuktikannya, jika kita memahami Bahasa Arab, maka kita akan melihat ketinggian dari Bahasa al-Qur’an yang tidak mungkin dibuat oleh manusia maupun Nabi Muhammad sendiri. Bahkan, al-Qur’an sendiri telah menantang manusia untuk membuat satu surat yang semisal dengan ayat al-Qur’an:
“Dan jika kamu meragukan (al-Qur’an) yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 23).

Hingga akhir zaman nanti, pasti tidak ada yang sanggup membuat yang semisal dengan al-Qur’an. Ini menjadi bukti bahwa al-Qur’an berasal dari Sang Pencipta dan merupakan firman-Nya. Dengan terwujudnya iman terhadap al-Qur’an sebagai pencipta, maka kitapun akan diantarkan untuk mengimani Nabi Muhammad sebagai Utusan Allah (Rasulullah). Karena Muhammad lah yang membawa al-Qur’an itu kepada umat manusia, sehingga ini menjadi bukti bahwa beliau adalah Nabi dan Rasul Allah. Dan bahwa, segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah wahyu dari Allah swt.
Demikian, dalil logis untuk mengimani keberadaan Sang Pencipta, al-Qur’an dan kerasulan Muhammad saw.

Konsekuensi Persepsi
Dengan terwujudnya keimanan akan adanya Sang Pencipta, al-Qur’an dan kerasulan Muhammad saw. maka kitapun harus percaya dengan segala berita yang dikabarkan oleh al-Qur’an dan Muhammad saw. melalui sabda-sabdanya. Al-Qur’an menyebut nama Sang Pencipta dengan nama Allah swt. maka kitapun menyebut pencipta dengan nama Allah dan nama-nama lain yang disebutkan dalam al-Qur’an. Al-Qur’an maupun Sabda Rasul mengabarkan tentang hal-hal yang ghaib, maka kita harus mempercayainya, seperti keberadaan malaikat dan tugas-tugasnya, hari kiamat, hari penghisaban, surga dan neraka, iblis dan jin, serta perkara-perkara ghaib lainnya, semuanya harus kita yakini, karena telah dikabarkan dalam al-Qur’an dan sabda (sunnah) Rasul saw.

Tidak hanya itu, kita pun harus tunduk pada segala aturan, perintah dan larangan Allah swt. yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah memerintahkan kita shalat, maka kita harus shalat. Begitupula jika Allah memerintahkan kita zakat, puasa, berbakti kepada orangtua, berdakwah, berjihad dan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, kitapun harus melakukannya.

Demikian pula, jika Allah swt. melarang sesuatu maka kita harus meninggalkannya. Seperti larangan meminum khamar, berkhalwat (berdua-duaan dengan yang bukan muhrim), berzina, mencuri, merampok, dan memakan riba, maka kitapun harus meninggalkan semua itu.

Tidak boleh kita mengimani sebagian perintah dan larangan Allah dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, seraya mengingkari sebagian perintah dan larangan Allah dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena mengingkari sebagian itu, oleh al-Qur’an menyebutnya berarti telah mengingkari seluruh wahyu Allah swt.

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan yang pantas bagi yang telah berbuat demikian diantara kamu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. (al-Baqarah: 85).

Bisa dikatakan, keterpurukan umat manusia saat ini, dikarenakan telah melupakan atau mungkin telah mengingkari sebagian besar perintah dan larangan Allah swt. Selama manusia masih bersikap demikian, maka keterpurukan dan kenistaan akan terus menimpanya.

Dengan demikian, Islam telah menjawab tiga pertanyaan mendasar (al-uqdatu al-kubra) dengan memuaskan akal, sesuai fitrah manusia dan menentramkan jiwa. Manusia, alam semesta dan kehidupan ini, berasal dari Allah swt. selaku Sang Pencipta, dan bukan sekedar menciptakan, Allah juga mengatur dan menuntun makhluk-Nya. Ada kehidupan setelah kehidupan dunia yaitu akhirat, tetapi bukan sekedar berpindah, tapi juga merupakan tempat untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalan kita di dunia. Di sanalah, kita akan mendapat balasan. Orang yang berat amalan shalehnya maka akan diberi ganjaran Surga, sebaliknya orang yang lebih berat amalan buruknya akan dilemparkan ke dalam neraka. Untuk apa manusia hidup di dunia? Aqidah Islam menjawabnya tidak lain untuk beribadah kepada Allah swt.
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk menyembah kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzariat: 56).

Setelah keyakinan terhadap aqidah ini tertancap kuat di dalam diri masyarakat, maka secara otomatis akan lahir dorongan untuk melaksanakan Islam sebagai ideologi yang sempurna secara total. Masyarakat wajib melaksanakan hukum Islam seputar pernikahan, ekonomi, pemerintahan, dan peradilan untuk menegakkan keadilan, sebagaimana wajib melaksanakan hukum seputar ibadah, seperti puasa, shalat, zakat, haji, dan sebagainya. Karena mereka yakin akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kelalaian dalam pelaksanaan kewajiban ini.
Hanya dengan melaksanakan sistem Islam secara total, manusia secara keseluruhan akan kembali dapat menikmati kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT. Dalam kehidupan seperti itulah, manusia dapat merealisasikan ketundukan, ketaatan, dan kepasrahannya kepada Allah SWT. Inilah realisasi dari misi hidup untuk beribadah kepada Allah SWT secara nyata.
Satu-satunya institusi yang mampu melaksanakan tugas tersebut adalah sebuah kekuasaan yang menrapkan sistem Islam secara murni dan menyeluruh. Institusi yang dimaksud tidak lain adalah Daulah Khilafah.

Menuju Perubahan
Dewasa ini sebagian masyarakat telah sadar dan ingin bangun dari kehinaannya. Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi belum banyak pengaruhnya terhadap keadaan yang sedang terjadi. Hal ini tentu banyak faktor penyebabnya. Oleh karena itu harus dikembalikan pada masalah utama dan kenyataan yang sebenarnya. Yakni masyarakat telah jauh dari pemikiran Islam dan kehidupan Islam. Maka sangat diperlukan usaha-usaha strategis untuk mengembalikan fikrah (pemikiran), tsaqofah (khazanah pengetahuan), dan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat.

Kampanye Kampus Islami sebagai gerakan yang menjadikan Islam sebagai pondasi pergerakannya, memandang bahwa permasalahan terbesar masyarakat ialah salahnya mereka dalam memandang alam semesta, kehidupan, dan manusia yang kemudian menyebabkan masyarakat mengambil ideologi yang juga salah, tidak memuaskan akal, dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sehingga lahirlah permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat yang saling berkaitan secara sistemik akibat dilahirkan dari ideologi yang salah.

Dengan memahami permasalahan utama ini, maka harus ada usaha menuju pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap alam semesta, kehidupan, dan manusia, menjadi cara pandang yang benar dan kemudian mengambil ideologi yang dihasilkan oleh cara pandang tersebut untuk kemudian diterapkan secara institusional oleh Daulah Khilafah. Sehingga kehidupan akan berjalan secara tenteram, karena didasari oleh ideologi yang benar, dan secara otomatis mencegah tumbuhnya permasalahan-permasalahan sejak akarnya.

Dalam rangka mewujudkan hal itu, Kampanye Kampus Islami mengambil peran dalam hal mencerdaskan masyarakat melalui civitas akademika kampus terhadap pandangan hidup yang benar. Kegiatan pencerdasan ini dilakukan dengan cara menjelaskan kerusakan sistem dan ideologi yang diterapkan saat ini. Kemudian menjelaskan dan mengejawantahkan kebijakan dan langkah praktis yang akan diambil oleh Daulah Khilafah dalam mengelola kehidupan masyarakat serta menyelesaikan permasalahan di dalam masyarakat.

Kampanye Kampus Islami
Setelah memahami akar persoalan, menetapkan kondisi ideal yang diharapkan, serta metode yang diadopsi untuk dijadikan metode perjuangan, maka selanjutnya perlu ada pendeskripsian kerja yang akan dijadikan program oleh Gerakan Kampanye Kampus Islami. Kampanye Kampus Islami menjadikan kampus sebagai basis pergerakannya, sehingga menjadikan ciri khas intelektualitas menjadi pilihan dalam berjuang. Kampanye kampus islami berusaha untuk mencerdaskan komponen intelektual dengan memberikan penjelasan yang benar secara logis dan ilmiah. Ada 2 haluan besar dalam pergerakan ini, yang dicirikan oleh solusi-solusinya, yaitu:

1. Menyampaikan solusi yang sistemik, sebagai ganti dari kondisi sistemik yang diakibatkan oleh dianutnya ideology yang salah.
2. Menyampaikan solusi yang sifatnya parsial, berupa langkah-langkah yang bersifat teknis yang dihasilkan dari kerja ilmiah mahasiswa yang inovatif dan tepat guna.

Dengan adanya solusi yang ditawarkan oleh Kampanye Kampus Islami ini, diharapkan mampu menjawab permasalahan terbesar rakyat Indonesia, dan juga danpat mengoptimalkan potensi besar yang tersimpan dalam individu-individu intelektual kampus.

VISI:
“Indonesia Mandiri Dengan Syariah dan Khilafah”

MISI:
1. Membangun role model pergerakan mahasiswa: Ideologi Islam sebagai falsafah dasar kebangkitan
2. Membangun karakter mahasiswa ITB yang ideologis:Pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam
3. Mengarahkan potensi intelektual civitas akademika ITB untuk kemandirian Indonesia: Kontribusi intelektual dalam membangun model peradaban khilafah
4. Menyampaikan dan mengawal pemikiran Islam ideologis sebagai solusi bagi masyarakat dan negara: Menjadikan model peradaban khilafah opini umum dan solusi pemasalahan bangsa
5. Membangun gerakan mahasiswa yang berkelanjutan: Melanjutkan estafet perjuangan kepada mahasiswa selanjutnya

PROGRAM KERJA
1. Dinamisasi kampus:
a. Advokasi pakaian olahraga yang syar’i dan/atau olahraga laki-laki dan perempuan dipisah
b. Jilbab Day
c. Apresiasi karya mahasiswa.
2. Kaderisasi: Kaderisasi Ideologis: Menjawab Uqdatul Qubro dan mengarahkan potensi mahasiswa untuk membangun Khilafah Islam
3. Kegiatan politik kampus: Menggalakan kajian ideologis
a. Output Kajian: RAPBN Syariah
b. Gerakan Eksternal: audiesni dengan capres atau kunjungan ke Istana Negara

657 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

(Visited 106 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan