home Event, Opini Congratulation! Graduate!

Congratulation! Graduate!

Pekan pertama bulan April 2016, Kampus ITB sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara wisuda kedua tahun ajaran 2015/2016. Wisuda adalah momen yang dinanti oleh setiap mahasiswa dalam rangka menyambut jenjang kehidupan baru seiring ditutupnya perjuangan mereka menimba ilmu di perguruan tinggi. Mengingat banyaknya usaha dan kerja keras untuk mencapai jenjang tersebut. Hampir dapat dipastikan momen wisuda disambut dengan sangat meriah dan penuh sukacita oleh mahasiswa, alumni, dan terlebih lagi bagi orang tua wisudawan. Sebenarnya apa yang menyebabkan wisuda di Indonesia dipandang sebagai peristiwa yang istimewa dan disambut dengan penuh rasa gembira? Berikut ulasan singkatnya.

1. Wisuda merupakan akhir dari masa financial bleeding
Sudah bukan hal aneh lagi ketika wisuda diartikan sebagai hari terakhir orang tua membiayai kehidupan anaknya selama kuliah mulai dari biaya akademik hingga ongkos kehidupannya sehari-hari. Wisuda dianggap sebagai titik balik untuk memperoleh keuntungan setelah sekian lama menghabiskan biaya tanpa ada pemasukan balik. Hal ini dianggap wajar ketika pendidikan diperlakukan sebagai objek komersil. Pembiayaan pendidikan formal, termasuk juga pendidikan di universitas, dilepaskan kepada mekanisme pasar. Sekolah berkualitas tinggi sudah barang tentu membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit, dan sebagian besar beban pembiayaan itu diserahkan kepada pihak sekolah untuk mengelolanya. Apakah ingin memperoleh pemasukan dari sektor bisnis, uang kuliah, atau mencari dana hibah. Negara lepas tangan, atau sebutan kerennya meliberalisasi pendidikan. Berbeda ketika kita melihat contoh yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat pada masa lampau. Ketika di Madinah, Rasulullah mengambil peran yang sangat besar dalam menjamin terbentuknya individu dan masyarakat yang melek ilmu. Terlihat dari Rasulullah yang bertanggung jawab atas majelis-majelis ilmu yang beliau adakan ataupun ketika tawanan perang Badar diberi kompensasi berupa pembebasan apabila mampu mengajari beberapa anak membaca.

2. Wisudawan menjadi simbol kehormatan keluarga
Dalam masyarakat kita, anak yang mampu menyabet gelar akademik yang tinggi apalagi dari kampus bergengsi, bisa menjadi simbol kehormatan keluarga. Dengan diwisudanya anak tersebut, maka pihak keluarga pun akan merasa bangga dan predikat sebagai keluarga terdidik pun melekat bersama prosesi tersebut. Sehingga tidak jarang “anak kuli bisa jadi sarjana”, atau “anak PKL bisa jadi doktor”, dan sebagainya menjadi fenomena langka yang seakan mustahil. Sebab fenomena tersebut seakan merubah predikat keluarganya dari keluarga kurang terhormat menjadi keluarga yang terhormat. Hal ini pun tidak lepas dari cara pandang yang keliru dalam masyarakat, yang memandang kemuliaan seseorang dari gelar atau jabatan. Padahal sangat jelas dalam Islam diajarkan bahwa, yang paling mulia di antara manusia ialah yang paling baik ketaqwaannya.

3. Wisuda menjadi gerbang memasuki dunia kerja
Memasuki dunia kerja atau lebih lugasnya meraih penghasilan yang sebesar-besarnya pasca wisuda ialah salah satu sebab mengapa wisuda itu sangat diinginkan. Dengan bermodal selembar ijazah ditambah dengan riwayat akademik dan non-akademik lainnya, maka dengan mudah pekerjaan dengan upah tinggi pun akan tercapai. Begitu mungkin pikir para wisudawan. Namun, tahukah bahwa saat ini  sebanyak 400 ribu lulusan sarjana S1 menganggur. Setiap hari mereka berjibaku mengirim lamaran kerja, berdesakan di setiap acara Job Fair sekedar mengambil formulir pendaftaran. Dengan peluh di sekujur tubuh. Dengan wajah kusut dan rasa frustasi. Membuat kehidupan pasca-wisuda tidak semenarik yang dibayangkan.

4. Wisuda menandakan selesainya penderitaan dan kejenuhan kuliah
Hal ini hanya akan terjadi ketika aktivitas kuliah hanya dimaknai sebagai aktivitas tahapan untuk dapat bekerja dan menghasilkan uang. Sehingga kegiatan-kegiatan akademik hanya dipandang sebagai beban yang menyulitkan dirinya. Berbeda bagi mahasiswa yang menjadikan kuliah dan belajar terkait ilmu tertentu adalah passion yang sangat ia gemari. Maka kejenuhan dan rasa malas adalah hal yang tidak ia kenali sewaktu kuliah. Dan begitu pula bagi seorang muslim yang menyadari bahwa mempelajari suatu disiplin ilmu di bangku kuliah adalah fardhu kifayah. Yang wajib untuk dipenuhi agar kemaslahatan umat dapat diwujudkan. Tidak hanya kebahagiaan selama kuliah, tapi juga insyaAllah pahala pun terus mengalir selama ia menjalani proses tersebut.

5. Dengan diwisuda, maka resmi lah menjadi manusia dewasa
Bagi mahasiswa tugas akhir, pertanyaan yang paling menjenkelkan ialah, “kapan wisuda?” Hingga akhirnya wisuda, ternyata pertanyaan serupa tetap ada, namun dimodifikasi menjadi, “kapan nikah?”. Masyarakat sudah cukup paham, bahwa setelah resmi menjadi sarjana maka sudah selayaknya seorang pemuda atau pemudi adalah menikah. Hal ini menyiratkan suatu cara pandang bahwa pernikahan hanya dapat dilaksanakan setelah menyelesaikan kuliah. Cara pandang ini yang menjadi salah satu faktor mengapa wisuda itu disambut dengan suka cita. Seakan setelah wisuda, seseorang sudah resmi menjadi manusia dewasa, pantas untuk bekerja secara profesional, pantas untuk membangun keluarga, dan sebagainya. Padahal dalam Islam parameter kedewasaan itu ditunjukkan ketika seseorang mencapai masa baligh. Ketika itu ia dibebani kewajiban-kewajiban syar’i dan juga hak-hak sebagaimana yang diperoleh oleh orang dewasa.

Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab momen wisuda disambut dengan meriah. Bukan sekadar karena sukses menyelesaikan agenda akademik yang ditentukan oleh kampus, tapi juga karena beberapa persepsi yang berkembang di masyarakat, yang tidak sedikit bukan merupakan persepsi yang Islami.

Lantas, bagaimana Islam memandang acara wisuda? Paling tidak ada dua hal yang membuat wisuda itu menjadi suatu acara penting. Pertama, wisuda merupakan prosesi pemberian ijazah, yang artinya sang wisudawan mendapat izin atau lisensi dari Profesor atau institusi tempat ia belajar, bahwa sang wisudawan mampu dan dapat dipercayai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang ia pelajari. Kedua, prosesi wisuda ialah proses peralihan aktivitas rutin. Dari yang sebelumnya wajib untuk memenuhi agenda akademik menjadi tidak lagi wajib. Proses ini bukan menandakan berakhirnya proses belajar. Karena proses belajar terus berjalan dimanapun dan kapanpun, dalam institusi pendidikan maupun di luar institusi pendidikan.

Sehingga, jika kita memahami dengan baik hakikat wisuda, maka seharusnya tidak perlu ada euforia berlebihan, apalagi ditambah dengan pesta-pesta yang cenderung kepada hura-hura dan foya-foya. Apalagi hingga membuat acara-acara yang tidak memberikan manfaat sedikitpun kepada masyarakat selain kebisingan dan kemacetan di jalan. Karena sesungguhnya proses wisuda hanya sekadar prosesi sederhana yang seharusnya dimaknai dengan bijak. Bahkan dengan resminya pemberian ijazah dan penyematan titel kesarjanaan seharusnya membuat wisudawan semakin tawadhu, bijak, dan bersyukur atas karunia tersebut.

Akhirnya, sebelum mengakhiri tulisan ini saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan. Semoga ilmu dan dan titel yang kalian dapatkan diberkahi oleh Allah azza wa jalla, serta dimudahkan dalam mengaplikasikan ilmu dan keahlian dalam  mewujudkan kemaslahatan ummat serta turut berkontribusi dalam membangun peradaban dunia di bawah tuntunan Islam yang diridhai oleh Allah. Barakallahu fiikum!

Selamat wisuda, via gea.itb.ac.id
Selamat wisuda, via gea.itb.ac.id

970 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 304 times, 1 visits today)