home Analisis, Opini Energi Nuklir Untuk Indonesia

Energi Nuklir Untuk Indonesia

 

oleh: Rasito T. dan Hasan A.R.
Peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional

…Pemanfaatan energi nuklir dalam berbagai bidang sudah sangat maju dan berkembang. Namun pemanfaatannya untuk energi listrik masih menjadi permasalahan yang mengundang pro dan kontra di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Di satu sisi permasalahan kebutuhan energi yang semakin besar, sementara ketersediaan sumber-sumber energi masih sangat terbatas. Hal tersebut memunculkan opsi penggunaan nuklir sebagai sumber energi. Permasalahan yang menjadi pro dan kontra seputar nuklir adalah bahwa energi nuklir yang sangat efisien, ekonomis dan bersih di satu sisi, harus berhadapan dengan limbah radioaktifnya yang sangat berbahaya di sisi lain. Untuk itu beberapa permasalahan yang menjadi pro dan kontra di masyarakat perlu dikaji dan dijelaskan secara imbang dan proporsional. Pada makalah ini akan diuraikan beberapa masalah yang menjadi pro dan kontra di masyarakat seputar pemanfaatan energi nuklir untuk listrik. Kajian akan dilakukan terhadap tiga aspek yaitu biaya, dampak lingkungan dan ketersediaan bahan baku. Hasil dan pembahasan dalam makalah ini diharapkan dapat membantu pertimbangan opsi pemanfaatan energi nuklir sebagai salah satu sumber energi alternatif untuk pembangkit listrik di Indonesia…

 

PENDAHULUAN

Energi adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dia merupakan penggerak kehidupan, bahkan dapat dikatakan tanpa energi tidak akan ada kehidupan. Energi merupakan sesuatu yang menguasai hajat hidup manusia, hingga Nabi Muhammad SAW menyatakan;

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api”

[HR Abu Dawud, Ahmad, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah]

“api” dalam hadits tersebut dapat dinisbatkan kepada sesuatu yang lebih umum yaitu “energi”. As-Sarakhsi dalam Al-Mabsûth menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat penetapan berserikatnya manusia baik muslim maupun bukan dalam ketiga hal itu: padang rumput, air dan api [1]. Karena seluruh masyarakat berhak dalam mendapatkan energi maka adalah kewajiban negara untuk menyediakan sumber daya dan teknologi agar pemenuhan kebutuhan akan energi dapat dilakukan secara mudah.

Pemenuhan kebutuhan energi masih menjadi persoalan dunia, termasuk di Indonesia. Kebijakan dalam distribusi dan keterbatasan sumber energi masih menjadi persoalan utama dalam pemenuhan kebutuhan energi. Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kesenjangan yang tinggi antara intensitas energi dengan energi per kapitanya.

 1

Gambar 1. Konsumsi dan intensitas energi [2]

Masalah keterbatasan sumber energi perlu diatasi dengan melakukan inovasi terkait pemanfaatan sumber-sumber energi baru dan terbarukan. Salah satu opsi penggunaan sumber energi yang masuk kategori energi baru adalah “nuklir”. Nuklir atau disebut juga inti atom adalah struktur penyusun terkecil dari suatu benda. Namun istilah nuklir sering digunakan untuk menyebut materi metastabil yang melepaskan sejumlah energi selama proses menuju kestabilanya. Energi yang dilepaskan dari nuklir dapat berupa panas serta radiasi partikel maupun gelombang elektromagnetik. Sementara pengertian penggunaan nuklir untuk energi saat ini telah lebih disempitkan makna hanya untuk energi panas. Salah satu teknologi pemanfaatan energi panas nuklir adalah untuk pembangkit listrik (PLTN) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2.

2

Gambar 2. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pada PLTN panas yang dihasilkan dari reaksi nuklir dimanfaatkan untuk menguapkan fluida yang kemudian digunakan sebagai penggerak turbin. Reaksi nuklir sendiri dapat berupa suatu penggabungan nuklir (reaksi fusi) dan pembelahan nuklir (reaksi fisi). Adapun pemanfaatan panas nuklir yang memiliki teknologi yang cukup mapan saat ini adalah fisi, sementara hasil reaksi fusi belum bisa diterapkan karena teknologinya masih dalam taraf penelitian. Reaksi fisi nuklir dibuat dengan menembakkan partikel neutron ke suatu bahan target dapat belah (fisil) seperti Uranium-235 atau plutonium-239. Panas yang dihasilkan dari reaksi tersebut sangat besar, 1 kg uranium (U) dapat menghasilkan energi setara dengan 20.000 kg batubara atau 10.000 kg minyak bumi. Pada Tabel 1 diperlihatkan beberapa sumber energi dengan nilai energi per satuan massa atau volumenya.

Tabel 1. Energi yang dihasilkan dari beberapa material [3]

t1*(dalam MJ/m3)

Namun demikian, pemanfaatan energi nuklir ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi nuklir merupakan sumber energi yang sangat efisien karena memiliki kapasitas energi paling besar, namun di sisi yang lain nuklir juga memiliki potensi bahaya yang cukup tinggi. Potensi bahaya dari nuklir adalah radiasi yang dihasilkan. Radiasi memiliki sifat merusak jaringan tubuh sehingga dapat membahayakan manusia dan lingkungan. Untuk itu dalam menentukan opsi penggunaan nuklir akan sangat bergantung kepada hasil hitungan untung dan rugi dari dua sisi tersebut.

Sebagaimana nuklir, perhitungan keuntungan dan kerugian juga berlaku umum untuk semua sumber energi. Dibandingkan dengan fosil, pemanfaatan bahan bakar fosil akan memberikan efek pencemaran udara dan pemanasan global, serta cadangan mineralnya yang semakin berkurang. Juga dibandingkan dengan sumber energi terbarukan (renewable) seperti angin, air, cahaya matahari dan pasang surut air laut. Energi cahaya matahari akan memiliki kekurangan yaitu mahalnya panel surya dan kecilnya energi yang dihasilkan karena sifatnya yang tidak kontinyu. Energi yang berasal dari angin juga sulit untuk diharapkan mengingat kecepatan dan arah angin di daerah khatulistiwa tidak selalu sama. Energi panas bumi (geothermal) sangat berpotensi akan tetapi tidak selalu berada di daerah yang dibutuhkan sehingga ada kendala dalam transmisi. Faktor yang dijadikan pertimbangan dalam keputusan umumnya adalah efisiensi, ekonomis dan ramah lingkungan.

Penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik hingga saat ini masih menjadi permasalahan yang memunculkan pro dan kontra. Masalah utama yang masih menjadi pro dan kontra adalah seputar ekonomi, lingkungan dan ketahanan sumber energi. Oleh karena itu perlu kajian terhadap tiga aspek yaitu biaya, dampak lingkungan dan ketersediaan bahan baku. Hasil dan pembahasan dalam makalah ini diharapkan dapat membantu pertimbangan opsi pemanfaatan energi nuklir sebagai salah satu sumber energi alternatif untuk pembangkit listrik.

PELUANG DAN PERMASALAHAN PLTN DI INDONESIA

Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang penggunaan energi nuklir untuk listrik di Indonesia ditinjau dari tiga aspek yaitu biaya, dampak lingkungan dan ketersediaan bahan baku. Perbandingan akan dilakukan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir dengan beberapa jenis pembangkit berbahan bakar fosil. Adapun parameter yang akan dibandingkan antar jenis pembangkit adalah sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 2;

Tabel 2. Data parameter teknis dan ekonomis pembangkit [4,5]
t2

Biaya

Dalam kegiatan membangun sebuah pembangkit diperlukan biaya awal, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan, serta biaya dekomisioning. Pada Tabel 3 diperlihatkan biaya investasi dari beberapa sistem pembangkit. Pembiayaan ini meliputi biaya persiapan tapak, konstruksi, manufaktur, komisioning dan lain-lain. Membangun reaktor nuklir berskala besar membutuhkan ribuan pekerja, sejumlah besar baja dan beton, ribuan komponen, dan beberapa sistem untuk penyediaan listrik, pendinginan, ventilasi, informasi, kontrol dan komunikasi. Pada Tabel 3 terdapat dua jenis biaya awal yaitu biaya sesaat yaitu jika pemilik memiliki dana cukup besar, dan biaya investasi yaitu biaya yang dikeluarkan jika pemilik melibatkan pihak lain sebagai investor.

Tabel 3. Biaya modal pembangkit listrik tahun 2010 [4,5]

t3

Selama beroperasinya pembangkit diperlukan sejumlah bahan bakar, meski khusus untuk pembangkit tenaga nuklir memiliki sistem bahan bakar yang dipasang sejak awal dan dapat digunakan untuk puluhan tahun tanpa disuplai. Pada Tabel 4 diperlihatkan biaya bahan bakar nuklir dan bahan bakar sumber fosil. Dalam perhitungan biaya bahan bakar dari suatu pembangkit diperlukan data jumlah bahan bakar untuk menghasilkan daya yang setara.

Tabel 4. Biaya bahan bakar [4,6]

t4

Untuk menjadi bahan bakar nuklir maka sebelumnya harus dilakukan proses pengayaan dan fabrikasi terhadap bahan baku yaitu uranium alam, kecuali untuk reaktor nuklir model CANDU yang dapat menggunakan uranium alam langsung sebagai bahan bakarnya. Biaya untuk pengayaan dan fabrikasi bisa mencapai separuh dari biaya total bahan bakar. Dalam skema biaya bahan bakar nuklir yang diupdate pada bulan Juni 2013, untuk menghasilkan 1 kg bahan bakar nuklir Uranium (UO2) dari bahan baku uranium alam (U3O8) maka rincian biaya yang dibutuhkan adalah sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 5 berikut;      

Tabel 5. Harga bahan bakar nuklir [4]

t5

Untuk bahan bakar nuklir dengan pengayaan 3,6 % dan penggunaan hingga fraksi bakar 45.000 MWd/t maka akan dapat menghasilkan daya sebesar 360 MWh/kg. Sehingga harga bahan bakar tersebut dapat dihitung setara dengan 6,6 USD/MWh. Untuk PLTN, dalam perhitungan biaya juga dimasukkan biaya penyimpanan limbah bahan bakar yaitu sebesar 10% dari biaya bahan bakar. Misalnya di USA biaya yang dikeluarkan untuk penyimpanan limbah bahan bakar adalah 1 USD/MWh [4]. 

Selama waktu efektif operasi sebuah pembangkit juga diperlukan sejumlah biaya untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan (O & P) sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6. Biaya tetap O&P merupakan biaya operasional rutin yang antara lain meliputi biaya pegawai, perawatan gedung dan bangunan, asuransi pembangkit, dan pemeliharaan rutin.

Tabel 6. Biaya operasi dan pemeliharaan [4,5]

t6
Setelah suatu pembangkit dinyatakan tidak akan dioperasikan lagi maka dilakukan pembongkaran atau yang disebut dekomisioning. Dalam PLTN biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan dekomisioning cukup besar karena melibatkan pemindahan bahan bakar bekas serta komponen dan peralatan yang telah menjadi radioaktif. Berdasarkan publikasi hasil survei yang dilakukan OECD tahun 2003 dilaporkan bahwa biaya dekomisioning adalah 200-500 USD/kWe untuk reaktor tipe PWR, 330 USD/kWe untuk VVER, 300-550 USD/kWe untuk BWR dan 270-430 USD/kWe untuk CANDU [17]. Biaya dekomisioning pembangkit listrik diperlihatkan pada Tabel 7 berikut;

Tabel 7. Biaya dekomisioning [6,7]

t7

Nasrullah, dkk [6] telah melakukan perhitungan total biaya untuk tiap pembangkit setelah sebelumnya dikonversi ke dalam satuan USD/MWh berdasarkan data biaya awal, biaya bahan bakar, biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya dekomisioning dengan hasil sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 8. Dari hasil perhitungan tersebut tampak bahwa biaya termurah adalah pembangkit dengan bahan bakar batubara yaitu sebesar 59,66 USD/MWh. Namun jika dimasukkan biaya pajak emisi karbon yaitu sebesar 40 USD/MT atau 44,1 USD/ton maka urutan biaya pembangkitan listrik yang paling murah adalah nuklir yaitu sebesar 60,54 USD/MWh, karena tidak ada pajak karbon untuk pembangkit nuklir.

Memang belum semua negara menerapkan adanya biaya pajak karbon, termasuk di Indonesia. Namun seiring dengan menguatnya isu lingkungan dan pemanasan global maka industri termasuk pembangkit yang mengemisikan karbon besar kedepannya dimungkinkan akan dikenakan pajak karbon meski dengan nilai yang bisa berbeda-beda. Dari tinjauan biaya tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir termasuk kompetitif dan relatif lebih murah dibandingkan pembangkit lain yang berbahan bakar fosil

Tabel 8. Biaya total pembangkit

t8

Dampak lingkungan

Dampak terhadap lingkungan merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan sebuah pembangkit. Pencemaran lingkungan di air, tanah maupun udara saat ini menjadi permasalahan besar dunia. Isu pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca (CO2) dari pembakaran bahan bakar fosil maupun lainnya menjadikan dunia membentuk protokol Kyoto guna membatasi emisi gas CO2 dari suatu negara. Pada 2011 IPCC, yang merupakan lembaga antar pemerintah yang menangani perubahan iklim mengeluarkan hasil kajiannya tentang emisi gas CO2 (gram per kWh) dari beberapa tipe pembangkit sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Emisi gas CO2 dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan fosil [8]

t9

Dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar fosil maka nuklir adalah yang paling rendah emisi CO2. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan jenis pembangkit ramah lingkungan dan sejalan dengan upaya dunia memperlambat pemanasan global. Laporan dari WNA terkait emisi CO2 dari pembangkit listrik sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 3 juga tidak jauh berbeda dari hasil kajian IPCC.

3

Gambar 3. Emisi gas CO2 dari beberapa jenis pembangkit [9]

Bahan bakar dalam pembangkit listrik tenaga nuklir setelah digunakan akan mencapai nilai fraksi bakar tertentu dan akan menjadi limbah radioaktif jenis aktivitas tinggi. Dibandingkan dengan limbah dari pembangkit bahan bakar fosil, limbah nuklir memiliki volume yang lebih sedikit dan berkurang seiring dengan pertambahan waktu. Hanya saja limbah radioaktif dari bahan bakar nuklir bekas ini sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya dikarenakan menghasilkan radiasi tinggi dan bersifat racun. Bahan bakar yang semula berupa uranium akan berubah menjadi unsur transuranik (seperti plutonium) dan jenis hasil fisi lainnya. Limbah bahan bakar yang berupa unsur plutonium (Pu-239) sebenarnya dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar, namun untuk membuatnya perlu fasilitas reprocessing dimana hanya negara tertentu yang memilikinya sebagai konsekuensi dari adanya pakta non-proliferasi.

Menurut grafik Boulton, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 4, toksisitas dari limbah bahan bakar nuklir akan mendekati sama dengan radioaktif alam dalam waktu sekitar 10.000 tahun. Sifat racun dari limbah bahan bakar nuklir tersebut dikarenakan kandungan plutoniumnya yang tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dibuat suatu fasilitas yang disebut dengan penyimpan limbah lestari. Sebuah fasilitas yang digunakan untuk menyimpan limbah radioaktif aktivitas tinggi yang harus memenuhi beberapa syarat diantaranya geologi yang stabil yang memungkinkan konstruksinya bisa bertahan hingga lebih dari 10.000 tahun [10,11,12,13].

4

Gambar 4. Grafik Boulton: toksisitas limbah nuklir dan radioaktif alam [14]

Cadangan Uranium

Dalam membangun suatu pembangkit maka hal lain yang harus dipertimbangkan adalah ketersediaan bahan baku energi atau bahan bakar. Untuk potensi sumber energi fosil dan nuklir di Indonesia diperlihatkan pada Tabel 10 berikut;

Tabel 10. Potensi energi nasional tahun 2005 [2]

t10

Bahan baku nuklir yang ditampilkan dalam Tabel 10 adalah cadangan yang terdapat di kawasan Kalan, Kalimantan Barat. Nilai 24 ton hanya dapat menghasilkan daya setara 3000 MW untuk 11 tahun. Jumlah tersebut adalah termasuk sangat kecil sehingga masih sangat perlu dilakukan eksplorasi lebih jauh. Beberapa daerah yang telah dilakukan kajian dan survei potensi kandungan sumber energi nuklir hingga tahun 2004 diperlihatkan pada Gambar 5.

5

Gambar 5. Potensi kandungan bahan nuklir di Indonesia [2]

Adapun cadangan Uranium terbesar di dunia saat ini adalah di Australia dan Kazakhstan, sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 11. Meski belum memiliki PLTN, Australia saat ini merupakan negara pengekspor uranium alam terbesar di dunia setelah Kanada dan Kazakstan. Untuk menekan biaya bahan bakar dan mengurangi ketergantungan luar negeri bisa dilakukan dengan adanya kondisi yang mendukung diantaranya adalah kecukupan bahan baku serta dimilikinya fasilitas pengayaan dan fabrikasi. Ketersediaan bahan baku berupa deposit di alam tentu belum cukup, karena untuk menjadi sebuah bahan bakar harus dilakukan proses pengayaaan dan fabrikasi.

Tabel 11. Kandungan uranium dunia tahun 2011 [15]

t11

Untuk mengatasi minimnya ketersediaan bahan baku nuklir di Indonesia maka solusi yang umum adalah impor, baik impor bahan bakar siap pakai atau impor uranium alam. Jika impor uranium alam maka Indonesia harus memiliki fasilitas pengayaan dan fabrikasi. Namun demikian permasalahan tersebut tidak perlu terjadi atau relatif mudah diatasi jika ada solusi politis yaitu berupa kesatuan negeri-negeri Islam. Solusi politis yang dimaksud adalah bersatunya negeri-negeri muslim ke dalam satu bentuk negara yang disebut dengan negara khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin untuk menerapkan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia [16]. Dengan konsep negara khilafah maka Indonesia dengan negeri-negeri muslim yang lain tidak lagi dibatasi oleh dinding nasionalisme berupa batas-batas bangsa, tetapi akan melebur menjadi sebuah negara. Dengan menjadikannya sebagai satu negara maka akan ada satu sistem pengelolaan sumber-sumber energi bagi seluruh negeri muslim termasuk energi nuklir. Oleh karena itu permasalahan keterbatasan bahan baku di satu negeri dapat diatasi dengan cara dipasok dari negeri yang melimpah cadangan uraniumnya seperti Kazakstan, Uzbekistan dan Yordania. Kazakstan yang memiliki cadangan uranium melimpah dan selama ini lebih banyak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi nuklir Rusia bisa berubah menjadi negeri pemasok uranium terbesar untuk negeri-negeri muslim.

KESIMPULAN

Berdasarkan kajian mengenai pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik di Indonesia dengan mempertimbangkan tiga aspek yaitu biaya, dampak lingkungan dan ketersediaan bahan baku maka opsi pemanfaatan energi nuklir untuk listrik di Indonesia adalah opsi yang rasional. Dari sisi biaya cukup kompetitif bahkan bisa lebih rendah dibandingkan pembangkit bahan bakar fosil dan dari sisi dampak lingkungan berupa emisi gas CO2 nuklir termasuk yang sangat rendah. Sementara permasalahan limbah radioaktif dari bahan bakar bekas yang menghasilkan radiasi tinggi dapat diatasi dengan dibangunnya fasilitas penyimpanan limbah lestari. Adapun permasalahan kecilnya ketersediaan bahan baku nuklir di Indonesia maka masih perlu diberikan solusi teknis dan solusi politis. Solusi teknisnya yaitu dengan membangun fasilitas pengayaan dan fabrikasi untuk mengolah bahan baku menjadi bahan bakar nuklir, sementara solusi politisnya adalah penyatuan negeri-negeri muslim menjadi sebuah negara khilafah. Dengan ini maka permasalahan kekurangan uranium di satu negeri dapat diatasi.

PENUTUP

Solusi teknis dan politis masih sangat diperlukan untuk Indonesia dalam upaya memenuhi kebutuhan energi terutama penggunaan energi nuklir. Konsep negara Khilafah bisa menjadi solusi politis yang dapat menyelesaikan beberapa permasalahan teknis yang dihadapi negeri-negeri muslim saat ini seperti ketersediaan sumber energi semisal nuklir. Karena dalam negara Khilafah negeri-neregi Islam akan bersatu dan bersama-sama mengakses energi. Hubungan antara nergeri-negeri muslim bukan lagi hubungan jual-beli tetapi hubungan sesama pengguna yang sama-sama memanfaatkan sumber energi, sehingga hadits tentang kepemilikan bersama atas energi akan bisa diimplementasikan secara sempurna.

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] As-Sarakhsi, al-Mabsûth, XXIII/164, Dar al-Ma’rifah, Beirut. 1406
[2] Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2006 – 2025, 10 November 2007 – Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (www.esdm.go.id)
[3] World Nuclear Association, Energy for the World – Why Uranium? (www.world-nuclear.org)
[4] World Nuclear Association, “Economic of Nuclear Power Plant” WNA (2013), (www.world-nuclear.org)
[5] PT. PLN (Persero) (2010), Jakarta
[6] Nasrullah, M., Suparman, Perbandingan Biaya Pembangkit Listrik Nuklir dan Fosil Dengan Mempertimbangkan Aspek Lingkungan, Prosiding Seminar Nasional ke-16 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir, hal 348 – 352
[7] OECD/NEA 2003, Decommissioning Nuclear Power Plants – policies, strategies and costs.
[8] Moomaw, W., P. Burgherr, G. Heath, M. Lenzen, J. Nyboer, A. Verbruggen, 2011: Annex II: Methodology. In IPCC: Special Report on Renewable Energy Sources and Climate Change Mitigation (ref. page 10)
[9] WNA Report, Comparison of Lifecycle Greenhouse Gas Emissions of Various Electricity Generation Sources,  (www.world-nuclear.org)
[10] IAEA, Siting of Geological Disposal Facilities, Safety Series No. I I I-G-4. I, IAEA-Vienna (1994)
[11] BAPETEN, SK Ka.BAPETEN No.03/Ka.BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif, BAPETEN-Jakarta (1999)
[12] IAEA, Design, Construction Operation and Closure of Geological Repositories, Safety Series No. III-G-4.2, IAEAVienna (I 994)
[13] IAEA, Design, Construction Operation and Closure of Near surface Repositories, Safety Series No. III-G3.2, IAEA-Vienna (1994)
[14] J. Boulton, Ed, “Management of Radioactive Fuel Wastes The Canadian Disposal Program”, AECL-6314, 1978
[15] OECD NEA & IAEA, Uranium 2011: Resources, Production and Demand (“Red Book”)
[16] An-Nabhani, Taqiyuddin, Nizham al-Al-Islam, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan VI, edisi 2010

 

Makalah asli: “ENERGI NUKLIR UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA”

featured image: http://enformable.com/wp-content/uploads/2014/02/Nuclear-Power-Industry-Radiation-Protection-Standards.jpg

\

994 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 652 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *