Ghouta dan Perdamaian Dunia

Nama Ghouta menyeruak akhir-akhir ini sejak di penghujung bulan Februari 2018 akibat tragedi yang terjadi disana. Perang bumi hangus yang dilancarkan oleh rezim pemerintah Suriah dan sekutunya membuat kelompok pejuang Ghouta Timur mundur. Dalam dua minggu terakhir, Suriah dan sekutunya dituding melancarkan serangan udara dan artileri terhebat yang menewaskan ratusan orang. Observatorium mengatakan bahwa pemboman Suriah terhadap Ghouta Timur telah membunuh lebih dari 600 orang sejak 18 Februari 2018. Data PBB menyebutkan, sekitar 400.000 warga sipil terjebak di medan perang di pinggiran Ibu Kota Damaskus tersebut.[i] Anak-anak tak bersalah merupakan korban pertama dari tragedi ini. Kekurangan nutrisi meningkat lima kali lipat dalam 10 bulan terakhir. Terlepas dari fakta mengerikan ini, bantuan kemanusiaan dan relawan kemanusiaan tidak diizinkan memasuki Ghouta Timur dan membantu populasi sipil.[ii]

Tragedi di Ghouta adalah ekses dari tragedi di Suriah secara keseluruhan semenjak Arab Spring tahun 2011. Pada bulan Maret ini (2018), konflik Suriah akan memasuki tahun ke 8. Sudah lebih dari 465.000 warga Suriah tewas dalam arena konflik, lebih dari satu juta orang terluka, dan lebih dari 12 juta (setengah populasi negara itu) telah mengungsi dan terusir dari rumah mereka. Hingga memicu reaksi dunia untuk mengutuk keras perilaku pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat dalam bentuk kejahatan genosida sistemis (systemic genocide) di Suriah yang dilakukan oleh rezim pemerintah Bassar al Asad. Ghouta Timur juga telah menjadi tempat serangan-serangan kimia. Dengan serangan tersebut, Konvensi Jenewa 1925 – yang melarang penggunaan senjata kimia dan biologis – dan Konvensi Senjata Kimia 1993 jelas-jelas telah dilanggar. Sebagai tanggapan atas serangan kimia pada penduduk sipil pada 27 September 2013, Dewan Keamanan memutuskan bahwa pemerintah Suriah harus menghancurkan persediaan senjata kimianya.

Suriah menjadi sorotan mata dunia sejak 2011 yang muncul tidak lama setelah Arab Spring yang muncul di Afrika Utara dan negara-negara Arab lain. Arab spring terjadi karena kurangnya kebebasan dan kesengsaraan ekonomi memicu kebencian terhadap pemerintah Suriah, tindakan keras terhadap pemrotes memicu kemarahan publik. Arab Spring, yang dianggap keberhasilan bagi pemberontakan juga memicu keinginan untuk menggulingkan presiden Tunisia dan Mesir. Ini memberi harapan kepada aktivis pro-demokrasi Suriah.

Keberadaan OKI dan PBB pun tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Penanganan yang lamban ditambah dengan posisi Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang juga merupakan sekutu dekat rezim Suriah, membuat banyak keputusan digagalkan dengan hak vetonya. “Dewan Keamanan PBB dan pihak terkait lain gagal untuk bertindak cepat dan tegas, untuk mewujudkan gencatan senjata, mengamankan warga sipil, serta memberikan bantuan kemanusiaan,” kata IPHRC seperti dilansir Arab News, terkait dengan perang di Aleppo pada 2016.

Hal ini memunculkan kekhawatiran akan kondisi perdamaian yang semakin gawat dan mengingatkan tentang potensi terjadinya perang dalam skala global karena adanya kepentingan banyak negara yang saling bersilang di Suriah. Mengutip Huffington Post, Suriah telah menjadi teater perang terselubung (proxy war) antara Amerika Serikat, Rusia, Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan bahkan Hizbullah di Lebanon.[iii] Sehingga setelah 7 tahun perang, permasalahan di Suriah bukan lagi soal demokratisasi versus kediktatoran. Setidaknya ada dua alasan perang di Suriah tetap berkobar. Yakni tarik menarik pengaruh antar poros politik dan persaingan membuat jalur pipa gas yang lebih murah menuju Eropa.

Tata kehidupan modern sejak abad 20 ternyata gagal memberikan kehidupan yang aman dan damai. Sudah 2 kali terjadi perang dunia dan sampai saat ini, perang tidak berhenti dengan korban sipil hingga jutaan. Chris Hedge, jurnalis dan penulis berkebangsaan Amerika Serikat, menulis dalam ‘What Every Person Should Know About War’, The New York Times, 6 Juli 2003, bahwa di abad ke-20 saja, setidaknya 108 juta jiwa melayang akibat perang, terutama dalam Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan serangkaian perang proksi selama Perang Dingin.[iv] Ditambah lagi dengan pembantaian massal di negara-negara konflik. Kita tentu tidak lupa dengan Hiroshima dan Nagasaki, Chechnya, dan Sreberenica di Serbia. Pada masa kini, pembantaian terhadap warga sipil tak berujung juga terjadi di Rohingya, Gaza, Afghanistan, Iraq, dan Suriah.

Hegemoni atas nama demokrasi oleh negara-negara adidaya ternyata gagal menjadi pengayom bagi negara-negara kecil di sekitarnya. PBB yang dibentuk dengan alasan sebagai badan netral penjaga perdamaian dunia, bertindak tidak lebih sekadar sebagai alat pemuas syahwat para pemimpin negara-negara besar. Bahkan dengan kekuatan militernya yang masih nomor satu di dunia, AS terus menebar teror dengan menginvasi negara-negara yang mereka anggap ‘nakal,’ seperti Afghanistan, Irak, dan Libya hingga mengorbankan ribuan nyawa dari warga sipil. Invasi ini membawa embel-embel penyebaran demokrasi. Padahal, ia lebih terlihat seperti ‘iklan’ produk-produk militer. Lebih terlihat seperti etalase alutsista yang diharapkan akan jadi tren baru bagi negara-negara lain.[v]

Fakta-fakta ini semakin meyakinkan kita betapa jauhnya abad ini dengan kata perdamaian sejati. Perdamaian yang dipertontonkan oleh para pemimpin dunia saat ini tidak lebih dari perdamaian semu. Sebagaimana yang disebutkan oleh Imanuel Kant, perdamaian semu hanyalah jeda sementara menuju masa perang yang berikutnya. Setiap tahun tanggal 21 September, dunia memperingati hari perdamaian, yang ternyata juga hanya slogan basi. Sungguh ironi memang, dunia yang ‘katanya’ sedang dibangun di dalam kehidupan yang katanya makin demokratis, yang mencita-citakan terwujudnya perdamaian dunia, ternyata masih saja diwarnai dengan kebijakan-kebijakan yang identik dengan kekerasan. Dan tentu kita pun mestinya bertanya-tanya, apakah memang demokrasi mampu memberikan kedamaian sejati di dunia ini? Ataukah justru demokrasi semakin menunjukkan kegagalannya menciptakan tata kehidupan yang beadab dan membawa kita pada pembantaian umat manusia yang tidak beda dengan abad-abad sebelumnya? Sepertinya tragedi di Ghouta dan Suriah dapat membantu kita menjawab pertanyaan itu.

[i] https://international.sindonews.com/read/1286759/43/taktik-bumi-hangus-suriah-bikin-pemberontak-ghouta-timur-mundur-1520137820

[ii] https://www.hidayatullah.com/spesial/analisis/read/2018/02/28/136684/pelanggaran-serius-hukum-internasional-di-ghouta-timur.html

[iii] https://www.antaranews.com/berita/585522/geopolitik-dan-perang-dunia-terselubung-di-suriah

[iv] https://www.rappler.com/indonesia/146899-merengkuh-perdamaian-sejati-deritanya-tiada-akhir

[v] https://indoprogress.com/2014/03/diplomasi-militer-dan-masa-depan-perdamaian-dunia/

(Visited 36 times, 1 visits today)