home Event, Opini Halaqoh Intelektual: “Kapan Freeport Hengkang?”

Halaqoh Intelektual: “Kapan Freeport Hengkang?”

BANDUNG – Kamis sore, 11 Desember 2015 di salah satu sudut kampus Institut Teknologi Bandung, sekelompok mahasiswa berkumpul duduk bersama. Mereka adalah peserta acara rutin yang diselenggarakan oleh Unit Kajian Islam Ideologis HATI ITB. Acara yang bertajuk Halaqoh Intelektual pada sore itu mengangkat topik “Kapan Freeport Hengkang?”.

Acara ini menghadirkan 3 orang pembicara yakni Firman (Mahasiswa Magister Rekayasa Pertambangan ITB), R. Aji Saputro (Ketua Umum HATI ITB), dan Andika Putra (Lajnah Khusus Mahasiswa HTI Bandung). Dalam suasana hujan di sore hari itu Firman menyampaikan bahwa tambang emas Freeport di Timika Papua merupakan salah satu tambang emas terbesar di dunia.

Sekalipun sudah menyepakati Kontrak Karya dengan pemerintah Indonesia semenjak 1967, Freeport kerapkali melanggar banyak kesepakatan, diantaranya ialah yang berkaitan dengan royalti yang selalu dibayar lebih kecil dari yang seharusnya. Sementara itu Aji memaparkan bahwa nasionalisasi Freeport sebenarnya bukanlah hal yang mustahil.

Aji menjelaskan bahwa alasan-alasan yang menyebutkan bahwa Indonesia belum mampu untuk mengelola tambang emas di Papua merupakan alasan yang terbantahkan. Sebab Freeport pun memulai kegiatan penambangan di Papua dengan modal finansial yang tidak terlalu baik. Hal senada disampaikan oleh Andika Putra. Ia menjelaskan bahwa yang menjadi penyebab Freeport tetap berada di Indonesia sesungguhnya bukan karena Indonesia tidak mampu atau rakyat Indonesia enggan untuk mengusir Freeport.

Tapi karena Indonesia memang masih menjadikan paradigma kapitalisme sebagai panduannya dalam mengambil kebijakan ekonomi. Sehingga wajar saja Freeport dan juga perusahaan swasta asing lainnya masih mendapat fasilitas istimewa di negeri zamrud khatulistiwa ini. Andika memaparkan bahwa ideologi Islam sesungguhnya memiliki tata aturan yang khas dalam mengatur pengelolaan sumber daya alam termasuk tambang emas, dan ketika Islam diterapkan tidak akan muncul masalah seperti yang terjadi pada tambang emas Freeport saat ini sebab Islam sudah menetapkan bahwa tambang dengan deposit yang melimpah haruslah dikembalikan kepada umat sebagai pemiliknya yang sah.

Acara yang dimoderatori oleh Ricky Aditya (Mahasiswa Program Studi Kimia ITB) ini ditutup pada pukul 18:00 WIB dengan kesimpulan bahwa Freeport dapat hengkang kapan saja apabila Indonesia mencampakkan ideologi kapitalisme dalam hal pengaturan ekonominya, dan apabila tidak, maka dapat dipastikan hengkangnya Freeport dari bumi nusantara bisa jadi hanya isapan jempol belaka. [gardabumi]

kajian freeport

284 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 101 times, 1 visits today)