home Opini, Pemikiran, Tsaqofah Hukum Islam Tidak Hanya Potong Tangan

Hukum Islam Tidak Hanya Potong Tangan

Kini masyarakat sudah semakin tidak asing dengan istilah syari’ah Islam. Opini syari’ah sedang berjuang mencari tempat di tengah masyarakat sebagai solusi alternatif terhadap kehidupan sekuler-kapitalistik yang gagal menciptakan keamanan seperti saat ini. Beberapa dari masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana ketika Islam diterapkan. Interpretasi kebanyakan orang adalah syari’ah identik dengan hukuman yang ‘kejam’: hukuman bunuh untuk pembunuh (qishash), hukum potong tangan untuk pencuri, cambuk atau rajam bagi pezina, dan sebagainya. Tentu ini tidak salah.

Namun yang juga harus diketahui adalah sebelum Islam berbicara sanksi untuk tindakan kriminal, Islam juga berbicara mekanisme pencegahan yang berlapis-lapis. Ini yang tidak banyak dipahami oleh kaum muslim sendiri. Kaum sekuler-liberal merasa di atas angin ketika menghujat muslim awam bahwa hukum Islam itu barbarik, tidak toleran, dan kuno. Sedang kaum muslim dengan terbata-bata hanya bisa terpojok di sudut defensif sambil sedikit memoles-moles bahwa penerapan Islam bisa dikompromikan sesuai dengan zaman.

Ketika Islam berbicara pencegahan untuk tindakan pencurian saja, dihitung-hitung kira-kira ada sepuluh (bisa lebih) konsep Islam sebelum diterapkannya sanksi potong tangan.

  1. Ketakwaan individu

Dalam Daulah Islam (Negara Islam), yang diterapkan Islam secara kaffah, salah satu pilar terpenting penegakan Islam adalah ketakwaan individu. Sistem yang baik akan percuma saja bila tanpa dukungan individu yang baik. Takwa adalah benteng terdepan seorang muslim dalam menjalani setiap aktivitas. Seorang muttaqin akan takut mengerjakan yang dimurka-Nya dan hanya akan mengerjakan yang dicinta oleh-Nya. Motivasi ini tertancap kuat dalam rangka mendapat reward terbaik disisi-Nya (surga) dan menghindari siksa-Nya (neraka). Motivasi ini tidak akan muncul bila seorang individu hanya sekedar ingin digelari “berani jujur hebat”.

 

  1. Pendidikan keluarga

Pendidikan keluarga mutlak diperlukan dalam membentuk karakter anak yang Islami. Orang tua yang sadar bahwa anak adalah tanggung jawabnya di hadapan Allah nanti, maka mereka tidak akan segan-segan mengingatkan anaknya hingga dengan cara yang sedikit memaksa sekalipun. Keluarga akan menjadi sekolah pertama bagi anak. Seorang Abraham Samad, mantan ketua KPK, selalu teringat bahwa orang tuanya pernah marah hebat kepadanya, setelah mengetahuinya menguntit kapur tulis dari kelasnya waktu dulu SD. Harus diakui, karakter jujur ini secara primer dibentuk oleh keluarga.

  1. Kontrol masyarakat

Masyarakat berperan dalam membentuk lingkungan yang islami. Dalam lingkungan karir yang selalu berkutat dengan proyek ‘basah’, seseorang tentu tidak tahan dengan godaan dari kiri-kanan. Walau opini yang berkembang adalah korupsi itu salah, tetap saja budaya ini diselubungkan dengan berjamaah. Berbeda apabila masyarakat sepakat bahwa murka Allah akan turun bila terdapat kelompok maksiat dan fasiquun diantara mereka.

Selain itu peran kelompok dakwah di tengah-tengah masyarakat juga diperlukan dalam rangka mengamalkan QS Ali Imran ayat 104, yakni menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

  1. Sistem pendidikan Islam oleh negara

Pendidikan sekuler hanya menggarap IQ (intelegensi) dan EQ (emosi) namun tidak menggarap SQ (spritual). Sains dan matematik di-UAN-kan dan itu hanya formalisasi. Pelajaran agama hanya diajarkan dua jam seminggu yang itu hanya mengulang-ulang materi yang disampaikan dengan gaya ilmiah tanpa menggugah hati.

Pendidikan Islam akan memberi penanaman aqidah Islam sebelum belajar sains yang bebas nilai. Pemahaman akan konsep Islam tentang rezeki akan mencegah generasi terhadap rasa sempit dunia yang akan memicu tindakan maling dan korupsi. Peserta didik juga akan diarahkan pada konsep penggalian dan pengembangan pengetahuan, bukan tuntutan pekerjaan. Pendidikan pun dibebaskan dari pungutan. Mau sampai ngaji sampai mati pun jadi, yang penting anak-istri tetap dinafkahi.

  1. Kewajiban nafkah suami

Nafkah adalah kewajiban seorang suami. Rasul bersabda: “Dan mereka para istri mempunyai hak diberi rizki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami)” (HR. Muslim). Ini akan membentengi seseorang dari tindak pencurian yang kadang dilakukan seorang ibu-ibu demi sekedar mendapatkan susu bayi. Sudah pasti nafkah ini harus bersumber dari yang halal. Asupan nasi dan gizi yang halal akan membentengi keluarga dari bencana dan fitnah.

  1. Kewajiban sedekah pada keluarga yang tidak mampu

Ketika Islam benar-benar menjadi rahmatallail’aalamiin, maka tidak mustahil bila masyarakat menuju kondisi “sulit untuk miskin”. Setiap muslim dianggap belum beriman sebelum mencintai saudaranya. Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika salah seorang diantaramu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya, jika ada kelebihan maka untuk keluarganya, jika ada kelebihan lagi untuk kerabatnya.” Juga beliau bersabda : “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim).

  1. Zakat untuk kesejahteraan bersama

Zakat sudah diketahui luas oleh kita sebagai salah satu pilar ekonomi Islam. Zakat diwajibkan dalam Islam juga dalam rangka mengamalkan QS Al-Hasyr ayat 7, bahwa supaya harta jangan beredar diantara orang kaya saja. Potensi zakat kaum muslim Indonesia saja mencapai 270 Triliun rupiah dan saat ini hanya terserap 1% dari potensi yang ada (republika.co.id, 2014). Bila ini didistribusikan dengan benar, sudah pasti bisa semua anak SD di Indonesia akan bersekolah gratis. Beban kepala rumah tangga pun akan semakin berkurang.

  1. Penerapan sistem ekonomi Islam

Berbicara sistem ekonomi Islam tidak hanya bicara zakat dan keuangan non-ribawi. Sistem ekonomi Islam juga mengenal pembagian kepemilikan. Kepemilikan (al milkiyyah) dalam sistem ekonomi Islam dibagi menjadi: kepemilikan negara, kepemilikan umum, dan kepemilikan individu. Sistem pembagian ini akan membuat batas yang jelas; mana saja sumber daya yang bisa dikelola individu, mana yang harus dikelola negara. Migas, barang tambang, dan hutan sudah pasti menjadi milik negara, mengingat sifatnya yang kontinu dan menjadi kebutuhan vital ummat. Kita mengenal hadits Nabi SAW: ‘‘Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (energi)“ (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah)

Kekayaan alam Indonesia yang dikelola dengan sistem ekonomi Islam diperkirakan akan menghasilkan Rp 1600 triliyun per tahun, surplus Rp 100 triliyun dari belanja negara Indonesia tahun 2012 yang mencapai 1500 triliyun (Amhar, 2012). Dan harus diingat, pemasukan tersebut murni dari pengelolaan sumber daya alam, tanpa pungutan pajak sedirham pun!

Secara historis, penerapan sistem ekonomi Islam juga terbukti memberi kesejahteraan. Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz bahkan pernah sampai tidak ada rakyat yang berhak dizakati.

  1. Jaminan negara terhadap pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok

Pembebasan biaya bagi pendidikan dan kesehatan sudah diteladankan oleh Nabi dan khalifah setelahnya. Nabi SAW pernah mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sedang sakit secara cuma-cuma. Khalifah Umar selalu berpatroli tiap malam mengecek kondisi makan malam rakyatnya. Pun ada yang kelaparan, Umar langsung mengangkutkan mereka makanan dari Baitul Maal. Di bidang pendidikan, Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan oleh Khalifah al-Muntashir Billah di Kota Baghdad bahkan memberi beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas) per bulan pada tiap siswanya.

Pendidikan dan kesehatan yang bebas biaya akan meringankan kewajiban nafkah bagi kepala rumah tangga, sehingga sang suami tidak perlu bekerja hingga memeras keringat. Lebih lanjut, seorang ayah akan lebih sering berada di rumah, membina harmoni keluarga dan mendidik anaknya dengan tsaqafah Islam agar tidak salah gaul dan jadi maling.

  1. Subsidi harta negara pada fakir miskin

Negara berkewajiban menjamin kesejahteraan warganya. Baitul Maal dikenal sebagai tempat menyimpan harta kaum muslim yang berguna menalangi warganya yang membutuhkan. Seorang sahabat bernama Hanzhalah bin Shaifi yang menjadi penulis (katib) Rasulullah SAW menyatakan : “Rasulullah SAW menugaskan aku dan mengingatkan aku (untuk membagi-bagikan harta) atas segala sesuatu (harta yang diperoleh) pada hari ketiganya. Tidaklah datang harta atau makanan kepadaku selama tiga hari, kecuali Rasulullah SAW selalu mengingatkannya (agar segera didistribusikan). Rasulullah SAW tidak suka melalui suatu malam sementara ada harta (umat) di sisi beliau”. (Zallum, 1983).

  1. Sanksi potong tangan bagi pencuri

Nah, setelah hal di atas dapat diimplementasikan, barulah treatment terakhir diterapkan, yakni ancaman sanksi potong tangan. Sanksi ini berlaku bagi orang yang mencuri lebih dari seperempat dinar dan bukan karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan pangan. Potong tangan untuk pencuri tersebut berfungsi sebagai pencegah (zawajir) dan penebus (jawabir). Proses eksekusi potong tangan akan diperlihatkan secara umum untuk memberi efek jera kepada khalayak (pencegah). Sanksi tersebut juga menjadi penggugur dosa sang pencuri yang juga menjadi penggugur siksa mencuri di akhirat kelak (penebus).

Allah SWT berfirman:

Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa (TQS Al Baqarah [2]: 179)

 

Maka masyarakat yang islami yang sesunggunhya adalah masyarakat yang “sulit untuk berbuat kriminal”. Jika ada yang sampai hati untuk berbuat jahat, maka dia memang orang “kebangetan”. Dalam konteks pencuri yang lalu dipotong tangan, maka hukum Islam memang sudah berbuat ‘sewajarnya’. Masyarakat Islam juga menghasilkan pribadi-pribadi yang ‘takut’, terbukti pada zaman Nabi SAW, seorang sahabat Ghamidiyah justru pernah mengaku dan menyerahkan diri untuk dirajam karena telah berbuat zina. Sahabat takut bila dosa zinanya tidak bisa gugur hingga akhirat nanti.

Hal ini tentu berkebalikan dengan aturan sekular buah akal manusia. Dengan dalih kemanusiaan, pelaku kejahatan cenderung dipidana dengan penjara yang kita lihat justru tidak menyelesaikan masalah. Penjara malah menjadi ‘sekolah’ gratis bagi maling dan kriminal lainnya: pengedar narkoba, copet, dan begal. Belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai para napi yang jelas menjadi beban negara. Ironisnya, fakta pun menunjukkan bahwa semakin hari perilaku kriminal bukannya semakin berkurang, namun semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Maka dari sini jelas, bahwa Islam bukan hanya bicara soal apa-apa terlanjur terjadi dengan cara “menakut-nakuti”. Tapi lebih dari itu, Islam memberi guidance yang jelas yang membuat hampir tidak ada celah bagi masyarakat untuk berbuat kriminal. Semua itu hanya terwujud dengan diterapkannya syari’ah dalam bingkai negara Islam, yakni Khilafah. Dari situlah Islam kemudiandapat mewujudkan rahmat bagi semesta alam. []

#IslamRahmatanLil’alamin

 

Daftar pustaka:

276 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 123 times, 1 visits today)