Aqidah dan Ideologi

Manusia sebagai makhluk yang berakal, tidak terlepas dari teka-teki terbesar yang pernah hadir dalam kehidupannya. Pertanyaan itu terkait dengan asal-usulnya, tujuan hidupnya di dunia, dan akan kemana dia setelah di dunia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti pernah terlintas dalam benak manusia, walau hanya salah satunya saja, pada setiap masa, tidak melihat manusia tersebut berkeyakinan apa. Pencarian jawaban selalu diusahakan atas pertanyaan terbesar dalam hidup manusia tersebut (uqdatul kubro). Manusia melakukan banyak penelitian mengenai asal-usul alam semesta, banyak teori bermunculan. Manusia juga merancang penerbangan ruang angkasa, untuk mencari sosok Sang Penciptanya. Manusia juga membuat banyak prediksi tentang masa depan dan musnahnya kehidupan di Bumi. Semua dilakukan demi menjawab rasa penasaran tentang pertanyaan terbesar dalam hidup manusia.

Jawaban atas tiga pertanyaan terbesar
Tiga pertanyaan itu adalah: i) darimana asal manusia, ii) apa tujuan hidupnya di dunia, iii) akan kemana setelah hidup di dunia. Jawaban atas tiga pertanyaan tersebut dapat dirangkum menjadi pandangan hidup atau aqidah yang akan mempengaruhi perilaku manusia.

Sepanjang sejarah manusia, hanya ada tiga pemikiran di dunia yang cukup mendasar sehingga dapat disebut aqidah yang dapat menjawab tiga pertanyaan terbesar di atas. Aqidah itu diantaranya: sekulerisme, materialisme, dan Islam (Tabel 1).

Tabel 1. Aqidah di dunia (An-Nabhani, 1953)

Aqidah Islam

Aqidah Materialisme

Aqidah Sekulerisme

Dari mana

Penciptaan Allah

Materi

Penciptaan Tuhan

Untuk apa

Menghamba pada Allah

Kebahagiaan materi

Kebahagiaan materi

Mau kemana

Kembali pada Allah

Kembali menjadi materi

Kembali pada Tuhan

 

Aqidah melahirkan ideologi
Ketika pertanyaan mendasar di atas sudah dijawab, maka terjawablah masalah-masalah manusia yang lainnya. Aqidah akan menghasilkan ideologi, yang merupakan seperangkat pemikiran yang menghasilkan peraturan hidup dalam manusia (An-Nabhani, 1953). Ideologi menghasilkan aturan untuk sebuah kelompok masyarakat dalam mengatur sistem ekonomi, politik, hukum, pendidikan, persanksian, dan sebagainya. Aqidah yang benar akan menghasilkan ideologi yang benar dan akan menghasilkan peradaban yang benar. Sejarah panjang manusia telah mencatat bahwa hanya peradaban dengan ideologi yang benar dia yang akan menang dan bertahan paling lama.

Aqidah sekulerisme yang mengakui penciptaan Tuhan namun tidak mengakui bahwa Tuhan berhak mengatur hidup manusia dapat dikatakan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Manusia selalu terikat dengan upaya untuk menyucikan sesuatu, terlepas itu Tuhan atau benda lainnya. Kebutuhan manusia terhadap Zat Yang Maha Agung tersebut adalah fitrah yang tidak dapat dipungkiri. Manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas. Dalam menentukan benar dan salah manusia juga selalu berubah-rubah, karena tidak adanya suatu standar kebenaran yang berasal dari Zat Yang Maha Benar. Sekulerisme telah gagal menjadi landasan ideologi bagi banyak masyarakat dunia.

Aqidah materialisme menganggap bahwa manusia berawal dari materi dan akan menjadi materi kembali. Namun yang tidak bisa dijawab dari aqidah adalah bagaimana mungkin sesuatu terjadi tanpa adanya sebab? Adanya yang diciptakan mewajibkan adanya yang menciptakan. Dari sini membuktikan bahwa aqidah materialisme bertentangan dengan akal.

Aqidah Islam dibangun berdasarkan akal. Akal pertama-tama harus membuktikan keberadaan wahyu yang turun pada Rasulullah SAW yakni Al-Qur’an. Untuk membuktikan kebenaran Al-Qur’an, dapat dilakukan banyak cara. Salah satunya dari segi ketinggian sastranya. Jika kita memahami Bahasa Arab, maka kita akan melihat kesempurnaan dari Bahasa Al-Qur’an yang tidak mungkin dibuat oleh manusia maupun Nabi Muhammad sendiri. Bahkan, Al-Qur’an sendiri telah menantang manusia untuk membuat satu surat yang semisal dengan ayat al-Qur’an:

Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang kami turunkan (Al-Qur’an) kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah: 23).

Dan selama ini belum pernah ada yang berhasil membuat ayat yang semisal Al-Qur’an pun juga hingga akhir zaman nanti. Selain itu, dengan cocoknya isi Al-Qur’an dengan fenomena ilmiah di alam juga menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memang berasal dari Sang Pencipta. Al-Qur’an dapat menjelaskan proses perkembangan janin, siklus hidrologi, penciptaan bumi, terpisahnya dua laut, dan sebagainya yang keberadaannya baru diungkap manusia belasan abad setelahnya. Dari sinilah, ketika kita yakin bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang berasal dari Sang Pencipta, maka selanjutnya Al-Qur’an menjadi sumber kebenaran.

Dalam Al-Qur’an, dijawab bahwa manusia berasal dari penciptaan oleh Allah SWT, hidupnya ditujukan untuk menghamba pada Allah, dan setelah kehidupan, mereka akan mempertanggungjawabkan segala apa yang diperbuatnya di dunia kepada Allah SWT. Dari sini dapat kita katakan bahwa aqidah Islam yang bersumber dari Zat Yang Maha Benar telah menjawab pertanyaan mendasar dalam hidup manusia yang melahirkan ideologi Islam.

Islam: sebuah ideologi
Islam hadir sebagai agama sekaligus ideologi (mabda’) yang keduanya harus berjalan secara bersamaan. Menjalankan Islam dalam dimensi spiritual saja tanpa adanya Islam sebagai ideologi yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat belum bisa disebut sempurna. Pun juga sebaliknya, tidak ada penerapan ideologi Islam tanpa landasan ketaatan pada Allah SWT. Islam berbeda dengan agama pada umumnya yang hanya mengajarkan prosesi-prosesi spritual saja tanpa adanya sistem peraturan yang dapat diterapkan pada kehidupan. Islam juga berbeda dengan ideologi yang lainnya yang hanya mengatur masalah keduniaan tanpa ajaran kerohanian.

Menjalankan Islam hanya bisa sempurna apabila ada peran negara yang menerapkan segala aturan Islam. Negara (daulah) ini adalah khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang bertanggungjawab atas kepemimpinannya (ri’ayah). Di dalam Islam misalnya disebutkan larangan untuk berzina. Namun larangan ini tidak sekedar pada level individu saja, karena ada peran kekuasaan yang wajib mengambil peran dalam menghindarkan rakyatnya dari zina. Negara wajib menjaga interaksi pria dan wanita di kehidupan umum, menyortir tayangan di media massa dari tayangan yang berbau zina, menerapkan kurikulum pendidikan yang mengantarkan rakyatnya agar semakin bertaqwa, mempermudah lapangan kerja agar peran ayah sebagai pendidik dalam keluarga dapat terlaksana, memfasilitasi pemuda-pemudi yang telah siap nikah, menerapkan sanksi rajam bagi pezina, dan sebagainya. Islam menyajikan seperangkat aturan lengkap yang tidak hanya berbicara konsep, namun juga bagaimana metode menerapkannya.

Ideologi yang terbaik lahir dari cara pandang yang benar mengenai jawaban atas tiga pertanyaan mendasar dalam hidup manusia. Bila masalah terbesar dalam hidup manusia ini telah selesai terjawab, maka akan terurai masalah-masalah cabang lainnya. Ideologi Islam memberi solusi pada berbagai persoalan yang telah terbukti ketika diterapkan dalam sebuah negara pada era Rasul hingga kekhilafahan yang bertahan hingga 13 abad lamanya. []

 

Pustaka

An-Nabhani, Taqiyuddin (1953) Peraturan Hidup dalam Islam (judul asli: Nidhom Al Islam), Edisi Mu’tamadah (2001), HTI Press: Jakarta.

 

Featured image: http://editorialbomarzo.es/

723 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 671 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *