Mendefinisikan Kebangkitan

Sebuah perubahan ke arah kebangkitan tentu akan memiliki arah yang jelas ketika memiliki parameter baku untuk menilai apakah suatu kondisi dapat dikatakan bangkit atau tidak. Dengan parameter yang jelas, sebuah entitas akan merasakan bahwa kondisi nya sekarang merasa perlu untuk diubah ke arah yang lebih baik atau tetap dipertahankan.

Kondisi bangsa kita sekarang tentu belum dapat dikatakan baik oleh beberapa pihak, namun ada juga pihak-pihak yang beranggapan bahwa kondisi sekarang harus dipertahankan. Mahasiswa yang dikenal dengan sifat kritisnya menganggap kondisi sekarang adalah sesuatu yang rusak dan harus dirubah. Sebaliknya, bisa jadi pejabat tinggi negara kita berharap bahwa kondisi sekarang ini harus dipertahankan, yang mana orang-orang seperti adalah orang yang diuntungkan dengan keberadaan sistem yang ada.

Sebuah kondisi dapat disebut bangkit apabila telah beralih dari kondisi yang dikatakan rendah atau berkemampuan rendah kepada kondisi yang lebih tinggi atau berkemampuan lebih. Misalnya dari keadaan duduk, lalu dikatakan “bangkit” ketika beralih ke posisi berdiri. Dalam konteks sosial-politik, bangkit bisa berarti beralih dari keadaan ‘statis’ menjadi kondisi ‘dinamis’ secara sosial politik (Amhar, 2012).

Beberapa dari kita tidak bisa memungkiri bahwa materi adalah parameter kebangkitan, semakin suatu bangsa ekonominya maju semakin bisa dikatakan bangkit. Kita dapat mengatakan bahwa bangsa kita terpuruk karena membandingkan dengan kemajuan ekonomi yang dicapai bangsa lain. Dua negara ideologis yang kita kenal, Uni Soviet dengan sosialismenya, Amerika dan negara barat dengan kapitalismenya pernah menjadi adidaya. Dua kubu negara tersebut pernah tampil hebat di kancah internasional dan menebar kontribusi materiil dalam skala besar –terlepas positif atau negatif- ke banyak negara di dunia.

Sebuah parameter kebangkitan yang hakiki harus menjawab problema dalam hidup manusia dengan setuntas-tuntasnya. Kebangkitan Uni soviet menjadi negara adidaya ternyata tidak bertahan lama, hanya berumur 70 tahun peradaban sosialis ini kemudian runtuh. Amerika yang mulai bangkit di awal Perang Dunia I kini pun diterjang badai krisi yang semakin sering. Kebangkitan peradaban barat meniscayakan imperialisme atas negeri-negeri berkembang, membodohkan rakyat-rakyatnya secara sistemis, dan menebar banyak kerusakan alam. Peradaban barat juga gagal memuaskan salah satu naluri manusia, yakni naluri beragama. Paham sekulerisme telah membawa manusia dunia berlomba dalam materi namun hampa dalam pemenuhan kebutuhan spiritual mereka. Barat pun “kuwalahan” ketika harus menangani banyaknya kasus kriminalitas remaja, minimnya angka pernikahan yang berakibat pada merosotnya pertumbuhan penduduk, angka bunuh diri yang tinggi akibat stres, dan sebagainya. Barat gagal memberi ‘rahmat’ bagi seluruh alam. Alhasil, semua capaian kebangkitan peradaban barat maupun timur adalah kebangkitan semu.

Indonesia mengklaim bahwa Pancasila sebagai ideologi kebangkitannya. Namun kita belum cermat menyadari bahwa Pancasila hanyalah sekedar falsafah , yang belum memberi jawaban mendasar dalam kehidupan manusia. Dalam prakteknya selama ini, Pancasila dapat ditarik-tarik ke arah sosialis seperti di era Orde Lama, ke arah kapitalis di era Orde Baru, atau ke arah kapitalis-liberal seperti di era Reformasi sekarang. Alhasil, Indonesia belum menemukan definisi yang baku mengenai visi kebangkitan sebuah bangsa.

Parameter kebangkitan yang hakiki bersumber dari ideologi yang jelas dan sesuai dengan fitrah manusia. Ideologi itu adalah ideologi Islam. Pengalaman empiris sejarah mencatat peradaban Islam mampu bertahan selama 13 abad yang dihiasi berbagai bentuk kebangkitan di setiap lini kehidupan manusia.

Visi kebangkitan dalam Islam secara jelas tertuang dalam QS Ali Imran ayat 110:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah … “.

4211230790_7df29fa30c

Al-Qur’an memberi predikat ummat terbaik bagi ummat Islam ketika mereka mampu menggencarkan amar ma’ruf nahi munkar semasif mungkin. Misi ini membutuhkan manusia-manusia muttaqin yang hanya takut pada Allah saja dan taat pada perintah-Nya, yang mewajibkan pembangunan negara adidaya ala Islam, penerapan Islam secara keseluruhan dengan visi da’wah ke seluruh penjuru dunia. Ambisi ini meniscayakan fardhu kifayah untuk maju di segala bidang: ekonomi, pendidikan, teknologi guna menyempurnakan fardhu untuk berdakwah. Peradaban Islam telah mendefinisikan kebangkitannya secara hakiki.

Sebuah kebangkitan tidak dinilai dari apa yang dipahami manusia, namun kebangkitan dinilai dari ideologi yang diilhami dari wahyu Sang Pencipta. Kebangkitan ini menghasilkan peradaban yang dinamis yang berprogres baik saat ada lawan maupun tidak, yang memberi kepuasan pada fitrah manusia semaksimal mungkin, yang tidak hanya berbicara bagaimana membangun dominasi atas banyak peradaban dunia, namun juga mengantarkan rahmat bagi seluruh alam. [tomas]

sumber gambar: https://kissanak.files.wordpress.com/2011/12/4211230790_7df29fa30c.jpg?w=544

286 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 94 times, 1 visits today)

One thought on “Mendefinisikan Kebangkitan

  1. Benar sekali, setiap peradaban apakah itu barat maupun timur memiliki ideologinya masing-masing. Ideologi yang menjadi suatu ciri khas dan menjadi roda penggerak kehidupan masyarakatnya. Ideologi menjadi ruh bagi setiap manusia untuk menjalankan kegiatannya, sebagai suatu motivasi. Tanpanya maka kehidupan ini layaknya robot yang tidak memiliki tujuan dan aturan main.

    Ideologi yang cocok untuk diterapkan dan dihayati oleh manusia adalah ideologi yang bersumber dari Sang Pencipta. Karena Dia yang telah menciptakan manusia, tentu lebih mengetahui cara kerja manusia, apa yang baik dan apa yang buruk bagi kita. Oleh karena itu Islam diperkenalkan melalui para rasulnya sebagai “aturan main” yang tentunya akan mengangkat derajat manusia dan membawa kearah kesejahteraan yang hakiki. Kesejahteraan yang tidak terbatas pada fisik melainkan ruhani juga.

    Yang perlu diusahakan oleh pemeluk Islam sekarang adalah, menjadikan agama sebagai nafas kehidupan, dengan kata lain dijiwai oleh masing-masing. Kita perlu melandaskan setiap kegiatan kita dengan Islam, yaitu dengan meluruskan niat untuk Allah semata. Selain meluruskan niat, perlu juga setiap aktivitas kita dilakukan sesuai aturan main yang dijelaskan oleh Islam, misalkan tidak curang dalam berdagang, ataupun aturan untuk menundukkan pandangan dalam muamalah antara ikhwan dengan akhwat. Insya allah apabila seluruh kegiatan sehari-hari kita dilaksanakan dengan dua ini; niat untuk Allah dan dilakukan sesuai dengan Islam, maka kita sudah mempraktekkan Islam sebagai Ideologi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *