home Analisis, Opini Idul Fitri yang Islami

Idul Fitri yang Islami

Idul Fitri ummat Islam di abad 21 kini memang beda. Selain kejadiannya yang berada di tengah abad informasi –dimeriahkan oleh acara-acara TV-, mereka juga harus merayakannya di tengah tatanan masyarakat yang masih bercorak kapitalistik. Pusat perbelanjaan begitu ramai dengan pernak-pernik lebaran, acara TV berikut reklamenya menyajikan tayangan khas hari raya yang menambah meriah suasana.

Di hari-hari akhir Ramadhan, pasar malam dan mall begitu berjubel disesaki muslim dan muslimat yang sedang melangsungkan ‘laylatul diskon’. Padahal default-nya, kaum muslim merasa harus menyibukkan diri dengan amal-amal demi menggapai laylatul qadar. Mungkin ada yang beranggapan bahwa waktu belanja bisa diagendakan pada sepertiga malam pertama dan qiyamul lail di sepertiga malam terakhir. Tapi, bukankah setiap detik Ramadhan begitu berharga untuk dilewatkan dengan hal-hal yang mubah? Lebih-lebih, kaum muslim dijanjikan pahala berlipatganda yang kadarnya lebih baik dari 1000 bulan. Apakah ganjaran pahala –yang ghaib- ini lebih ‘nyata’ dibanding ganjaran diskon di mall yang kita tahu tidak seberapa?

Ramadhan 2016 juga Ramadhan yang cukup ‘spesial’ karena seluruh dunia merayakan kompetisi bola di benua Eropa. Rata-rata setiap ba’da tarawih hingga sebelum sahur, kaum muslim di Indonesia menyetel televisi demi menjagokan tim kesayangannya. Di satu sisi, mereka lupa, bahwa detik demi detik pahala Ramadhan dikorbankan oleh jam-jam tontonan bola. Sedangkan di luar siaran bola, stasiun televisi begitu liar menampilkan tontonan ‘spesial Ramadhan’ yang kita tidak tahu dimana letak ‘spesial’nya. Yang ada, malah sinetron atau acara guyon yang melalaikan dari taqarrub kepada-Nya.

Kaum muslim –di Indonesia- juga terpaksa menghabiskan hari-hari terakhir Ramadhan di jalan bergumul dengan kemacetan. Tradisi mudik memang sesuatu yang layak dirayakan. Namun di tengah kondisi jaringan jalan kita yang masih belum support untuk ledakan arus kendaraan, mudik menjadi sesuatu yang kontra dengan semangat produktif Ramadhan. Keadaan infratruktur kita yang sering dipengaruhi iklim politis yang transaksional dan serangan impor kendaraan asing membuat sektor transportasi kita tidak pernah memberi servis waktu yang terbaik. Jalan berbayar (jalan tol) yang sejatinya adalah jalan alternatif, kini seolah sudah dianggap masyarakat sebagai jalan utama yang kita tahu sesaknya juga luar biasa. Tradisi mudik memang tidak terjadi di belahan bumi muslim lainnya. Karenanya, pemerintah harus mendesain khusus infrastruktur transportasinya dengan terobosan keinsinyuran yang tidak biasa.

Kini, ummat cenderung ikut sumringah bila hari rayanya tiba sedangkan lingkungannya menampilkan pernak-pernik yang mendukung meriahnya suasana. Namun mereka lupa bahwa inti dari hari raya adalah melaksanakan ajaran Rasulnya, bukan ber-euforia dengan baju baru atau hidangan khas hari raya. Ummat juga sering sedih ketika melihat saudaranya di belahan bumi lainnya ditimpa kesengsaraan, dan marah ketika Al-Qur’an atau Nabi mereka dilecehkan. Sedangkan ummat tidak marah ketika di tengah-tengah mereka masih berlangsung praktik riba, migas dan barang tambangnya diserahkan pada penjajah, atau pemimpinnya menerapkan aturan jahiliyah. Sejatinya, yang tertinggal di tengah ummat saat ini ialah hanya perasaan Islam, sedangkan pemikirannya hilang entah kemana.

Ummat juga sering mengalami perpecahan soal tanggal awal Ramadhan dan awal hari Raya. Padahal perpecahan ini tidak mesti terjadi ketika muslim seluruh dunia mengangkat satu pemimpin yang akan menengahi perbedaan di tengah mereka.

Walhasil, perayaan Idul Fitri kini lebih menampilkan sosok euforia yang sebenarnya tidak ada beda dengan hari raya ummat beragama lainnya. Rakyat Indonesia –termasuk muslim- cenderung bahagia bila hari raya tiba, yang artinya libur sekolah atau libur kerja. Rencana piknik bersama keluarga atau belanja besar-besaran sudah dirancang sedemikian rupa. Di sisi lain, para kapitalis, pemilik pusat perbelanjaan, dan pengusaha bisa tersenyum sambil kipas-kipas uang menikmati jerih payahnya.

Syair-syair tentang pemimpin dan rakyatnya yang saling mendoakan kini hanya jadi hiasan telinga yang ummat juga tidak pernah tau faktanya. Idul Fitri kini tidak seperti dulu ketika pemimpin muslim seluruh dunia berkhutbah di hadapan mereka sambil menggenggam tombak sebagai simbol perjuangan. Idul Fitri kini jauh dari atmosfer ‘aidzin (kembali) dan faizin (menang) seperti dulu ketika kaum muslim melangsungkan berbagai penaklukan pada bulan Ramadhan dan meraih kemenangan. []

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa-Llah wa-Llahu Akbar, Allahu Akbar wa li-Llahi al-hamd.

 

 

638 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

(Visited 55 times, 1 visits today)