home Opini, Pemikiran, Tsaqofah Invasi ala Islam

Invasi ala Islam

Islam kini menjadi agama terbesar kedua setelah Nasrani dengan jumlah pemeluknya mencapai 1,6 Milyar. Namun banyaknya jumlah kaum muslim tersebut tidak sebanding dengan nasibnya. Di banyak tempat, mereka dilecehkan, darah mereka mudah sekali ditumpahkan, dan generasinya dibodohkan. Bagai buih di lautan, itulah yang dikabarkan Nabi SAW 14 abad lalu.

Serangan dan miskonsepsi terhadap ajaran Islam juga sering dilontarkan kaum pembenci. Stereotype muslim seperti jenggot, cadar, dan celana cingkrang diidentikkan dengan ekstrimisme. Kata “Islam” kini identik dengan terorisme. Kondisi Timur Tengah –representasi negara muslim- yang sering bergejolak juga dituding akibat ulah Islam. Akibatnya, di hampir seluruh dunia kini ada anggapan bahwa Islam sebagai ajaran kekerasan, benarkah demikian?

Visi Islam

Islam, sebagai mana visinya, mewujudkan rahmatan lil ‘aalamin, mendorong ummatnya untuk terus ber-amar ma’ruf nahi munkar agar menjadikan Islam sebagai dominasi atas ‘aalam. Visi ini tertuang dalam beberapa ayat yang sekaligus menjadi parameter kualitas suatu ummat .

Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta [QS al-Anbiya’: 107].

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah … “ [QS Ali Imran: 110]

Disebut dalam hadis, bahwa generasi Nabi adalah generasi terbaik. Walau berbekal teknologi perang dan sumber daya manusia yang minimal, Rasul dan Sahabat mampu menjalankan amar ma’ruf nahi munkar yang maksimal. Invasi Islam oleh Rasul dan Sahabat di Semenanjung Arabia terjadi hanya dalam kurang dari 3 tahun. Walau kita tahu kecanggihan iptek generasi setelahnya disebut sebagai jaman keemasan, namun tingkat pemikiran Islamnya –modal dasar aktivitas da’wah dan jihad- kalah secara kualitas dan di beberapa negeri terjadi disparitas.

Kualitas ummat terbaik adalah ditemui pada generasi Nabi, generasi  sesudahnya (Tabiin) dan generasi sesudahnya lagi (Tabiit-Tabiin)”  (HR Bukhari, dll).

Rahmatan lil ‘aalamin diberitakan oleh ulama dapat berarti syari’at Islam, hidayah, sebab kebahagiaan, atau maslahat [1]. Yang jelas, ketika penduduk Bumi mengganti ajaran nenek moyangnya dengan ajaran Islam, maka keberkahan akan terasa dan kebahagiaan menyelimuti negerinya (QS 7: 96). Dan kebahagiaan –karena berkah- tersebut memang bukan ditentukan oleh akal manusia, tetapi oleh syara’. Kita melihat kebahagiaan ala kapitalisme saat ini pun bukanlah kebahagiaan hakiki yang meniscayakan penjajahan manusia satu dengan yang lain.

Perintah untuk Rasul adalah juga perintah untuk ummatnya, jika tidak ada pengkhususan. Ummat Islam sepanjang sejarahnya terus melanjutkan estafet da’wah yang disponsori oleh institusi khilafah (Negara Islam). Dalam rangka memenuhi tugas menjadi rahmat bagi seluruh alam, Islam disebarluaskan utamanya dengan jalan mengubah pemikiran (da’wah). Rasul dan sahabat ketika sebelum berdiri Negara Islam di Madinah terus menerus mengajak person to person untuk memerdekakan masyarakat Arab dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan pada Rabb semesta alam. Hingga revolusi Madinah, yakni tegaknya Daulah di Madinah pada 622 M, itu pun terjadi tanpa pertumpahan darah.

Perang dalam Islam

Ketika berdiri Negara Islam, da’wah menjadi aktifitas kolektif yang dikoordinir oleh imam negara, atau khalifah atau amirul mu’minin. Aktifitas tersebut jelas akan berbenturan dengan pemikiran masyarakat eksisting. Hingga suatu saat da’wah menemui halangan fisik, maka disitulah diperlukan aktivitas jihad, yang arti teologisnya hanya berarti perang (qitaal).

Dalam Islam, perang memang bukan aktivitas yang bisa sembarangan. Nabi sendiri telah mengajarkan dan mencontohkan bagaimana perang yang beradab ala Islam. Islam melarang membunuh non-kombatan, orang tua, anak kecil, wanita, pemuka agama, penyandang disabilitas. Mayat yang sudah tergeletak pun tidak boleh dimutilasi dan untuk para prajurit yang menyerah, Islam memerintahkan untuk tidak dihabisi. Khalifah Abu Bakar juga mencontohkan agar tidak menebang tetumbuhan, membunuh hewan, dan menghancurkan bangunan tanpa alasan yang jelas [2].

Untuk para tawanan perang, mereka diperlakukan secara adil. Tercatat dalam sejarah, Nabi pernah memerintahkan sahabatnya untuk mengganti pakaian tawanan perang yang lusuh dengan pakaian yang layak. Pasca perang Badar, ketika tidak ada harta untuk bisa menebus tawanan, mereka diminta untuk mengajarkan baca tulis pada anak-anak Anshar. Islam memperkenalkan konsep ramah tawanan tersebut 1400 tahun sebelum adanya Konvensi Genewa.

Paksaan untuk pindah agama juga tidak berlaku dalam Islam (QS 2:286). Mereka yang mau bergabung dalam barisan kaum muslim hanya diarahkan untuk membuktikan Islam sebagai satu-satunya ajaran yang benar secara rasional. Dalam naskah perjanjian antara Khalifah Umar dengan penduduk Jerussalem tertulis:

Gereja-geraja mereka tidak akan diambil alih oleh muslim, dan tidak akan dihancurkan. Juga bukan mereka, tanah mereka, dan salib mereka atau properti mereka juga tidak akan dirusak. Mereka juga tidak akan dipaksa pindah agama (ke Islam)….” [3]

Menjawab Tuduhan

Meski banyak diantara Orientalis yang menuding Islam sebagai agama perang, namun tuduhan tersebut hanyalah bentuk tutup mata dari kebiadaban peradaban lain yang pernah ada. Seorang dari Barat, muallaf Jerman, Piere Vogel pernah beretorika:

Perang Dunia Pertama 17 juta tewas, disebabkan oleh non-Muslim,
Perang Dunia Kedua 50-55 juta tewas, disebabkan oleh non-Muslim
Nagasaki bom atom 200 ribu tewas, disebabkan oleh non-Muslim
Perang di Vietnam lebih dari 5 juta orang tewas, disebabkan oleh non-Muslim
Perang di Bosnia / Kosovo lebih dari 500 ribu tewas, disebabkan oleh non-Muslim
Perang di Irak (sejauh ini) 1,2 juta tewas, dan disebabkan non-Muslim
Afghanistan, Burma juga disebabkan oleh non-Muslim.
Anda masih berpikir ISLAM adalah masalah, apakah Islam Teroris?!
[4]“

Saat ini, ketika Islam sudah tidak menjadi adidaya, praktis masyarakat dunia hanya memandang Islam dalam sudut pandang media saja –yang seringkali sekuler. Jihad dipahami identik dengan terorisme, bukan kewajiban suci. Khilafah dianggap ide gila, bukan solusi ummat yang paripurna. Dunia seakan tutup mata terhadap kekejian invasi Amerika di Vietnam, Afghanistan, dan Irak, serta bengisnya Komunisme Soviet ala Lenin, Stalin, dan Mao yang membunuh hingga 130 juta jiwa [5].

Dulu, ketika masih ada kekhilafahan Utsmani, kaum muslim yang pergi keluar negeri selalu dihormati karena dianggap representasi negara hebat. Para raja Hindu dan Budha pun tidak segan menjadikan pelancong muslim sebagai penasehat hingga muncul banyak kesultanan Islam di Nusantara [6]. Da’wah islam nyaris tanpa kontak fisik yang hasilnya masih dapat dinikmati hingga abad 21 kini.

Sejarah panjang ummat Islam justru membuktikan, diaspora Islam tidak lah dibangun dengan pedang namun dengan lisan (spread by the words, not by swords). Da’wah Islam memegang pakem bahwa pemikiran kufurlah yang harus disingkirkan, bukan makhluknya. Kekuatan fisik yang merintangilah yang harus dimusnahkan, bukan peradabannya. Maka invasi ala Islam tersebut memang jelas berbeda dengan bentuk invasi peradaban lain yang pernah ada. [tomas]

 

Referensi

[1] http://hizbut-tahrir.or.id/2015/08/04/islam-rahmatan-lil-alamin/

[2] http://ilmfeed.com/8-rules-of-engagement-taught-by-the-prophet-muhammad/

[3] http://lostislamichistory.com/did-islam-spread-by-the-sword/

[4] http://www.voa-islam.com/read/christology/2014/05/24/30570/piore-vogel-tangkis-tuduhan-teroris-pada-islam-1500-orang-jerman-bersyahadat/#sthash.vUmytmRx.dpbs

[5] http://www.creation-vs-evolution.us/death-by-communism.gif

[6] http://www.fahmiamhar.com/tag/imperium-islam

sumber gambar: http://ilmfeed.com/wp-content/uploads/2016/01/surrender.jpg

540 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 248 times, 1 visits today)