home Opini, Pemikiran Ketika Barat Bangkit (1)

Ketika Barat Bangkit (1)

Sejak runtuhnya motor Blok Timur, Soviet, di tahun 1991, praktis tidak ada satu bangsa pun yang berhasil menyaingi pencapaian negara pemenang Perang Dingin. Negara barat, yang sering disematkan pada negara-negara di Amerika Utara dan beberapa negara eropa, merupakan potret peradaban nomor satu saat ini. Meski muncul calon pesaing-pesaing baru seperti China dan India, setidaknya hal itu yang masih diyakini dalam dua dekade terakhir.

Negara-negara Barat bagi sebagian orang adalah model kemajuan yang sering diagung-agungkan. Mahbubani (2011) menyebutkan ada tujuh pilar kebijaksanaan Barat yang patut dijadikan teladan, yaitu: ekonomi pasar bebas, sains dan teknologi, meritokrasi, pragmatisme, budaya perdamaian, aturan hukum, dan pendidikan. Fahmi (2012) menyebutkan bahwa nyaris dalam segala aspek kehidupan, masyarakat Eropa lebih unggul dari negeri kita yang notabene mayoritas muslim.  Dalam politik, mereka lebih bisa bertatakrama.  Demokrasi disana berjalan tanpa ekses-ekses negatif seperti money politik atau biaya tinggi, yang di Indonesia berujung pada korupsi. Gaya hidup bebas yang begitu menonjol dalam keseharian mereka pun tetap diimbangi dengan perilaku tahu diri.

Peradaban barat telah melahirkan manusia-manusia berkualitas. Setidaknya 9 dari 10 negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi adalah negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Negara muslim baru ‘kelihatan’ di urutan 30 yakni Brunei Darussalam lalu disusul Arab Saudi di peringkat 34. Selain itu 42 dari 50 kampus terbaik di dunia terletak di negara-negara Barat (Amerika 27, UK 7, Kanada 3, Swiss 2, Jerman 1, Belanda 1, Australia 1). Sedangkan kampus dari dunia Islam harus puas berada di urutan 70-an, yakni Middle East Tech Technical University yang terletak di Turki (timeshighereducation.co.uk, 2014). Ilmuwan-ilmuwan Barat yang didukung fasilitas super lengkap menjadi perumus teknologi yang memimpin zaman. Tak kurang dari 170an dari 199 penerima Nobel Fisika dari sejak awal diterbitkan (1901) adalah warga-warga negara Barat.

Awal kebangkitan Barat

Harus diakui, Eropa pada awal masehi masih diliputi dengan praktik-praktik pemerintahan teokrasi yang nyatanya kurang ‘pro-rakyat’. Kondisi ini dikenal dengan “Abad Kegelapan” (Dark Ages) yang berlangsung hingga abad ke-17. Raja-raja eropa menerapkan pajak dhalim, memeras rakyat, memerintah dengan tangan besi, hingga menolak kebenaran ilmiah. Kondisinya jauh berbeda dengan peradaban yang jaraknya hanya sejengkal dari Eropa, yakni khilafah Islam. Bila pada abad 8 M jalanan di Baghdad dan Cordoba sudah mulus berlapis aspal dan penuh penerangan, namun di Paris, London, dan Madrid masih becek dan gelap gulita.

Kebangkitan barat sebenarnya baru dimulai sekitar 3 abad yang lalu ketika terjadi Revolusi Prancis pada 1789 yang menggantikan kekuasaan monarki gereja menjadi kekuasaan kompromi parlementer. Revolusi yang tak kalah pentingnya adalah Revolusi Amerika pada 1776 dan “Glorious Revolution” di Inggris pada 1688 yang mengawali ide-ide tentang pembagian kekuasaan, kesetaraan, dan hak asasi. Acemoglu (2014) menyebutkan bahwa Revolusi Inggris tersebut memacu pertumbuhan institusi ekonomi yang ‘membumi’, yang masyarakat luas dapat berpartisipasi secara adil sehingga kemakmuran dapat dinikmati bersama. Pajak ekstraktif mulai dihilangkan, feodalisme dimusnahkan, dan praktik monopoli diberantas. Pemerintahan revolusioner tersebut juga melahirkan iklim yang kondusif untuk mengembangkan eksperimen-eksperimen sains. Inilah yang kemudian melahirkan Revolusi Industri di Inggris yang merembet ke negeri-negeri Barat dengan cepat.

Abad Kebangkitan Barat yang revolusioner itu disebut Renaissance. Mereka mulai menerapkan pemerintahan trias politica yang membagi kekuasaan menjadi eksekutif, yudikatif, dan legislatif sehingga gereja dan raja tidak semena-mena. Masyarakat Barat mulai menjunjung tinggi budaya ilmiah. Berubah total dari masyarakat yang divine-driven menjadi masyarakat sekuler pembelajar yang penuh dengan percobaan sains yang dinamis. Banyak pemikir, filosof, dan ilmuwan Barat lahir di abad ini. Kebangkitan barat menjadi tak terbendung ketika khilafah Islam untuk pertama kalinya benar-benar dimusnahkan pada awal abad 21.

Peran Peradaban Islam

Ide-ide revolusioner buah dari pemikir dan filosof Renaissance Eropa tidak akan lahir bila tanpa inspirasi dari ilmuwan-ilmuwan kekhilafahan Islam. Ibnu Tufail, Ibnu khaldun, Ibnu al Haytsam, dan Al-Mawardi adalah sedikit dari banyak ilmuwan dan pemikir Islam yang berperan dalam perumusan ide-ide revolusioner tentang pemerintahan dan budaya ilmiah di Eropa.

Ide awal mengenai kesetaraan dalam berwarga-negara dicetuskan oleh filosof Inggris, John Locke (1632-1704) sang peletak dasar ide Enlightenment. Dalam karyanya “An Essay Concerning Human Understanding”, Locke mengemukakan konsep tabula rasa, yakni bahwa manusia pada dasarnya adalah dalam keadaan ‘kosong’ yang kemudian akan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Konsep ini diambil dari filosof muslim Ibnu Tufail dari bukunya “Hayy bin Yaqdahan” yang terinspirasi oleh hadits Nabi Saw. bahwa “tidak ada bayi lahir kecuali dalam keadaan fitrah.” Ide ini kemudian mempelopori konsep bahwa manusia tidak boleh dikekang oleh pemerintahan keji dan opresif. Pada akhirnya dari sini muncullah konsep kotrak sosial yang juga prinsip dalam demokrasi [6].

Seorang historian dan sosiologis Islam yang hebat, Ibnu Khaldun juga menginspirasi Locke. Di dalam bukunya yang terkenal, Muqaddimah, dia menyatakan,

“Hal yang menyertai pemerintahan yang baik adalah kebaikan dan perlindungan kepentingan rakyat. Arti sejati dari autoritas kerajaan akan disadari jika pemerintah melindungi kepentingan mereka.”

Di sini Ibnu Khaldun mencetuskan salah satu ide utama adalah Gerakan Enlightenment, 300 tahun sebelum Locke mengenalkan argumen yang sama, bahwa pemerintah harus melindungi, bukan menyalahi hak warganya. Deklarasi kemerdekaan Amerika rintisan Thomas Jefferson pada 1776 juga mengambil semangat yang sama [6].

Isaac Newton banyak dipengaruhi oleh Ibnu Al-Haytham, saintis Muslim yang memprakarsai metode ilmiah, optika, dan hukum gerak benda. Di Eropa, Ibnu Al-Haytham telah dikenal luas, baik ide-ide filosofi maupun sainsnya. Isaac Newton meminjam dari Ibnu Al-Haytham tentang ide bahwa ada hukum-hukum alam yang berlaku di alam semesta [6].

Pada eranya di Eropa, raja mempunyai kekuasaan absolut dan tidak membagi konrol negara pada siapapun. Secara historis dunia Islam tidak pernah menjalankan sistem tersebut. Meskipun Khalifah pada era Umayyah dan Abbasiyah menggenggam kekuasaan yang besar, tetapi masih terdapat konsep mengenai syura’, yang merupakan dewan yang bekerja untuk menasehati khalifah. Pemerintahan Islam juga mengenal wazir yang turut membantu pemerintahan yang berada dibawah pengawasan khalifah. Kemudian ada para qadhi, atau hakim, yang membentuk sistem legal berbasis hukum Islam yang tidak terikat oleh khalifah. Desain pemerintahan yang terbaik ini tertuang dalam “Al-Ahkam As-Sulthaniyyah”, yang ditulis pada awal tahun 1000an oleh Imam Al-Mawardi. Di kitab tersebut, Al-Mawardi menjelaskan bagaimana khalifah dan pejabat lainnya memainkan perannya dalam bidangnya masing-masing, yang semuanya harus tetap dalam kerangka Islam [6]. Inilah yang kemudian menginspirasi para filosof Eropa dalam mencetuskan pembagian kekuasaan seperti Montesquieu.

Satu kontribusi yang tidak kalah penting adalah hadirnya kopi di tengah-tengah masyarakat eropa. Masuk pada tahun 1600-an, awalnya ada resistensi dari kalangan Paus untuk menolak “minuman muslim” ini. Namun perlahan kebijakan gereja bisa dipelintir, kopi dihalalkan dan rumah-rumah kopi berkembang pesat di dataran eropa. Kopi mengambil hati masyararakat eropa dan mengganti minuman asli eropa pada waktu itu, beer dan wine, yang kemudian merubah kebiasaan mabuk warga eropa.  Begitu revolusioner, kopi kemudian menjadi alasan dari diskusi-diskusi serius di kalangan pemikir-pemikir eropa yang juga mendukung lahirnya budaya intelektual di Eropa.

Begitulah peradaban Islam yang punya andil besar dalam kebangkitan Eropa. Abad Pertengahan, selain disebut sebagai “Islamic Golden Age”, pantas juga disebut sebagai abad transfer budaya dan ilmu dari Timur ke Barat. Phillip K. Hitti, dalam karya fenomenalnya “History of Arab” menyebutkan bahwa

“Tidak ada satu pun bangsa pada Abad Pertengahan yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan manusia sebesar kontribusi yang diberikan oleh orang Arab dan orang-orang yang berbahasa Arab (dunia Islam-red)” [10]

(bersambung…ke “Ketika Barat Bangkit (2)” )

 

Referensi

[1] http://www.timeshighereducation.co.uk/world-university-rankings/2014/reputation-ranking (diakses 22 Desember 2014)
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Human_Development_Index (diakses 22 Desember 2014)
[3] http://www.republika.co.id/berita/shortlink/38929 (diakses 25 Desember 2014)
[4] http://www.fahmiamhar.com/2012/10/belajar-mencintai-bangsa-dan-tanah-air.html (diakses 24 Desember 2014)
[5] http://www.fahmiamhar.com/2009/02/islamic-physicists-surpass-their-era-translate-english-by-rizkisaputro.html (diakses 25 Desember 2014)
[6] http://lostislamichistory.com/how-muslims-helped-cause-the-american-revolution/ (diakses 25 Desember 2014)
[7] Mahbubani, Kishore. 2011. Asia Hemisfer Baru Dunia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
[8] Acemoglu, Daron dan Robinson, J.A. 2014. Mengapa Negara Gagal. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_penerima_Nobel_Fisika (diakses 28 Desember 2014)
[10] Hitti, Philip K. (1937) History of Arabs: From The Earliest Time to Present. Terjemahan. Edisi revisi kesepuluh (2002). Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

276 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 105 times, 1 visits today)