Ketika Barat Bangkit (2)

Di dunia ini, akan selalu tampil yang namanya negara adidaya. Dulu Mesir kuno pernah tampil menjadi negara nomor satu yang dibayang-bayangi oleh imperium Asyiria. Pada awal masehi Romawi mendapat giliran menjadi superpower dunia yang bersaing ketat dengan Kerajaan Persia. Kemudian Daulah Khilafah yang tegak sejak era Sahabat (abad 7 M) hingga era Utsmaniyah juga pernah menguasai dunia hingga abad 16 masehi. Pada era Perang Dunia di awal abad 20 M, Jerman, Inggris, Prancis, saling berpacu menjadi nomor satu [3]. Setelah itu, Amerika yang hadir di Perang Dunia II menjadi salah satu pemenang yang akhirnya tampil menjadi negara adidaya hingga kini.

Tiga abad Barat menjadi negara bangkit nomor satu, menjadi dalang di setiap konflik politik global, dan berlagak seolah ‘polisi’ dunia. Pangkalan-pangkalan militer dibangun di banyak negara guna menunjukkan eksistensi Amerika. Konflik timur tengah dipelihara oleh Amerika demi jaminan pasokan migas. Berbagai organisasi internasional dibentuk dalam rangka melanggengkan kepentingan mereka. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak pernah tegas menyinggung hukuman buat negara pelanggar HAM berat seperti Amerika menguatkan bukti bahwa PBB dibawah kendali mereka. Bank Dunia, IMF, CGI, dan kroni-kroninya juga tidak pernah absen di setiap negara berkembang untuk menggerogoti ekonomi mereka. Lebih ironis lagi, penguasa-penguasa mereka pun harus menjadi kepanjangan tangan barat walau sering tidak disadari.

Namun orang bijak bilang bahwa harus sejarah harus berulang. Dulu kaum muslim pernah bangkit di saat negara barat dalam abad kegelapan. Kini kehancuran Amerika yang sudah dekat memang telah dibicarakan oleh banyak pakar. Analisa ini diperkuat dengan fakta bahwa jerat hutang Amerika yang semakin besar –negara dengan hutang terbesar nomor satu-, semakin tingginya frekuensi dan kualitas krisis moneter global, dan kian ‘sakit’nya generasi muda di Barat. Kebangkitan Barat dinilai oleh sebagian pihak hanyalah kebangkitan semu.

Ekonomi Barat yang Rapuh

Bencana krisis besar yang melanda Amerika yang pengaruhnya juga dirasakan oleh seluruh dunia terjadi pertama kali saat The Great Depression pada 1929. Krisis susulan terjadi pada 1980 dan juga yang termasuk besar adalah pada 1997 dan 2008 lalu.

Teorinya, kapitalisme akan bekerja dengan sendirinya dengan menciptakan pasar yang dinamis lewat mekanisme “invisible hand”. Namun dalam perkembangannya, karena sifat serakah manusia, kapitalisme tidak bisa dipisahkan dari perbankan dan perdagangan modal yang penuh ketidakpastian.

Bank mengambil untung dari kredit yang dikucurkan untuk mendanai kegiatan usaha. Yang namanya usaha, kadang naik kadang turun, tidak pasti. Ketika kredit perbankan macet maka kegoncangan tinggal menunggu waktu. Inilah yang terjadi pada Lehman Brothers, salah satu bank terbesar di Amerika, saat krisis besar pada 2008 lalu.

Kapitalisme tidak bekerja (http://beyondclicktivism.files.wordpress.com/)

Ekonomi kapitalis juga mengenal mekanisme pasar modal. Pasar ini menjual “kertas” yang berupa saham, obligasi, atau surat berharga lainnya. Pada perkembangannya, pasar yang harusnya menjual modal ini ternyata tidak benar-benar menjual modal, artinya tidak melandaskan transaksi pada modal nyata yang berputar di perusahaan (sektor riil). Ada harga di atas harga dari suatu surat. Dan ini terjadi hingga 9 bahkan 13 turunan [1]! Akibatnya, ketika ada surat utang yang macet, maka runtuhlah bangunan besar turunan-turunan surat berharga tadi. Inilah yang terjadi pada Subprime Mortgage pada 2008.

Masyarakat Barat yang Sakit

Ekonomi Amerika dan Uni Eropa menguasai hampir setengah ekonomi dunia. 9 dari 10 negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi diraih negara-negara Barat. Masyarakat Barat memang nomor satu dalam pencapain materiil. Namun di sisi lain, semua prestasi tersebut harus disandang oleh Barat yang masyarakatnyanya kian hari kian ‘sakit’. Kebebasan yang sering diagung-agungkan nyatanya malah menimbulkan masalah sosial disana-sini. Meski ada beberapa kelompok sosial yang masih bisa diharapkan, namun kuantitas perceraian, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai masalah sosial di barat memang paling tinggi.

Setidaknya 6 dari 10 negara dengan angka pemerkosaan tertinggi di dunia adalah negara Barat [5]. Amerika merupakan pemimpin klasemennya bersamaan dengan angka perceraian, jumlah tahanan, dan kriminalitas tertinggi.

Di AS, satu orang wanita diperkosa setiap 2 menit, dipukuli setiap 15 detik, dan 3 wanita dibunuh oleh mitra mereka setiap harinya. Di Inggris satu orang wanita diperkosa atau  menghadapi upaya pemerkosaan setiap 10 menit. Di seluruh Eropa 1 dari 4 wanita menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga [7].

Hancurnya keutuhan keluarga dalam masyarakat sekular Barat juga terjadi akibat budaya pergaulan bebas. Hasilnya, ada jutaan ibu menjadi orangtua tunggal, banyak anak dilahirkan dari ayah yang berbeda-beda. Di Inggris 40% dari anak-anak  yang lahir adalah anak luar nikah. Hampir 1 dari 2 pernikahan berakhir dengan perceraian. Sekitar 9 dari 10 anak-anak antara usia 13 dan 17 telah melakukan hubungan seksual luar nikah [7].

Masyarakat barat yang dikenal sekuler memang rentan terhadap penyakit mental. Sebuah survei pada tahun  2011 oleh lembaga perempuan di Inggris Platform 51  telah menemukan bahwa hampir 1/3 dari wanita berusia di atas 18 telah mengkonsumsi obat anti-depresi. Ada lebih dari satu juta orang dilaporkan mencoba bunuh diri setiap tahun di Amerika Serikat, sementara di Inggris setiap dua jam ada 1 orang yang mengakhiri kehidupan mereka [7].

Tidak cukup di negeri sendiri, Barat juga mengekspor gaya dan budaya hidup itu ke negeri-negeri berkembang. Inilah mengapa di banyak kesempatan kita mendapati banyak remaja kita dihinggapi persoalan gaya hidup bebas seperti di Barat.

Berdiri diatas Penderitaan Negara Miskin

Seperti “tidak ada Islam tanpa dakwah dan jihad”, maka “tidak ada kapitalisme tanpa imperialisme”. Tanpa hitungan halal dan haram, Barat sudah sejak awal mengambil cara pandang liberal dalam mengaktualisasikan ekonomi mereka. Sejarah panjang nusantara –dan banyak negeri muslim lainnya- yang tidak pernah lepas dari campur tangan bangsa-bangsa Barat membuktikan hal itu.

Penjajahan dengan metode militer sudah nyaris ditinggalkan sejak pasca Perang Dunia. Di beberapa negeri muslim yang pernah dijajah, beberapa tatanan kenegaraan mereka akan dibiarkan –dan dipertahankan- agar tetap mengikuti apa yang sudah diterapkan oleh penjajah sebelumnya. Bank ribawi dan pabrik miras masih berjalan, sumber daya alam seperti migas dan minerba juga perkebunan besar masih dikonsesikan ke pemodal besar. Demikian juga konstruksi sistem hukum dan sistem pendidikan kurang lebih sama [4].

Kemerdekaan bangsa kita sering dianggap sudah berusia 70 tahun. Padahal sejak 1945 hingga 1950 pemerintahan Indonesia berjalan darurat, pajak belum bisa ditarik, aparat pemerintahan masih amburadul, dan berbagai laskar bersenjata masih berkeliaran [4]. Belanda baru bisa ihlas melepas Indonesia pasca Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada Desember 1949. Itu pun dengan meninggalkan hutang sebesar 4.3 miliar Gulden (setara Rp 231 triliun). Pasca KMB, Indonesia hanya keluar dari “mulut buaya masuk ke mulut buaya yang lain”. Kondisinya bahkan tidak lebih baik dari ketika diperintah oleh Hindia Belanda.

Di banyak negeri-negeri berkembang, birokrat mereka didesain agar lebih suka meminjam lembaga keuangan internasional yang sebenarnya hanya jebakan. Pemimpin mereka dibuat seolah pahlawan namun sebenarnya hanya kepanjangan tangan (ini yang banyak terjadi di negera-negara timur tengah). Hadirnya perusahaan asing juga sudah banyak membuat bangsa buntung daripada untung. Kalaupun ada dana untuk masyarakat, namun semangatnya kurang lebih sama dengan politik etis ketika jaman jajahan Belanda. Kemajuan Barat bukanlah kebangkitan yang “rahmatallil’alamin”, mereka berdiri diatas darah dan tangis negeri-negeri muslim & berkembang.

 

Banyak diantara kita sendiri yang silau dengan negara Barat dan berdalih agar kita maju maka harus meniru Barat. Namun permasalahannya tidak sesederhana itu. Kadang kita lupa, selain aspek material, manusia juga tetap membutuhkan pemuasan kebutuhan spiritual. Oleh karenanya kita sering menjumpai narasi semacam “kebahagiaan tidak berasal dari materi”. Inilah yang tidak dijawab oleh tantanan masyarakat Barat yang sekuler.

Membuktikan Qur’an adalah firman Allah SWT Sang Pencipta Alam adalah hal pertama yang harus dilakukan seorang mukmin. Setelah itu, biarkan Qur’an memberi guideline bahwa tujuan hidup kita di dunia hanyalah untuk menghamba pada Allah dan meninggalkan segala bentuk penghambaan pada selain Allah (QS Adzaariyat: 56). Dari sini maka manual hidup seorang mukmin akan dijawab oleh syariah yang berasal dari Qur’an dan sunnah yang sudah fixed sepanjang waktu. Ijtihad juga dibuka dalam rangka menjawab segala macam perkara yang baru, yang tetap berpegang pada Islam.  Kerangka inilah yang melahirkan peradaban mulia sejak zaman Nabi Saw hingga khilafah yang telah berdiri 13 abad lamanya.

Walhasil, kebangkitan yang haqiqi tidak pernah kita jumpai di peradaban Barat. Meski dalam aspek materi benar-benar digarap, namun sebenarnya persoalan manusia seutuhnya tidak hanya itu. Terlalu rumit untuk menjawab segala persoalan dengan pemecahan ala sekulerisma Barat. Terlalu prematur jika menyandingkan hukum produk manusia ala Barat dengan hukum yang berasal dari Allah Tuhan Semesta Alam.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah ayat 50)

[tomas]

Daftar Pustaka

[1] http://kseirsundip.wordpress.com/2011/07/22/krisis-ekonomi-global-sampai-kapan-akan-berakhir/ (diakses 31 Desember 2014)
[2] Condro, Dwi. 2013. Krisis Ekonomi Global dan Solusi Sistem Ekonomi Islam. Proceeding of Jakarta International Conference of Muslim Intelectual. Jakarta: HTI Press.
[3] An-Nabhani, Taqiyuddin. 2005. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir cet. IV. Jakarta: HTI Press.
[4] http://www.fahmiamhar.com/2013/08/kita-masih-dijajah.html (diakses 15 Januari 2015)
[5] http://www.wonderslist.com/10-countries-highest-rape-crime/ (diakses 15 Januari 2015)
[6] https://www.facebook.com/normangoldman/photos/a.10150183157979090.328863.128983569089/10151040782234090/?type=1 (diakses 15 Januari 2015)
[6] http://hizbut-tahrir.or.id/2012/10/07/dr-nazreen-nawaz-masyarakat-barat-tak-layak-dicontoh-2/ (diakses 15 Januari 2015)

 

(Visited 99 times, 1 visits today)