home Analisis, Opini, Pemikiran, Tsaqofah Ketika Kapitalisme Dicap Gagal

Ketika Kapitalisme Dicap Gagal

The Failure Era

Perkembangan ilmu pengetahuan memaksa manusia membuat suatu cabang ilmu baru. Dari yang dulunya kita kira sudah spesifik, ilmu kemudian berkembang dan memunculkan cabang-cabangnya. Misalnya pada tahun 1920an yang namanya pembahasan ilmu infrastruktur, mungkin hanya dipelajari di Teknik Sipil. Pada tahun itu, di ITB, prodinya bernama Afdeling der Weg en Waterbouw (program studi mengenai jalan dan struktur pengairan). Namun kini, ilmu yang membahas infrastruktur sudah menjelma menjadi banyak cabang, diantaranya Teknik Bangunan, Teknik Lingkungan, Teknik Kelautan, Teknik Transportasi, Teknik Sumber Daya Air, Planologi, Arsitektur, Teknik Geodesi, Geomatika, dan sebagainya.

Pun juga misalnya dengan ilmu fisika. Pada abad 12, Ibnu Rusyd (dikenal di Barat “Averroes”), menginisiasi ilmu hukum gerak benda yang kemudian menginspirasi Newton 500 tahun setelahnya. Dari situ, orang kemudian mengenal mekanika ala Newton. Namun pada awal abad 20, Einstein membuat sebuah mekanika baru, yang didasarkan pada Relativitas Umum Einstein. Akhirnya kini orang menganggap bahwa mekanika Newton adalah mekanika yang ‘usang’ atau mekanika klasik.

Prof. James Duderstadt dalam The University for the 21st century, berkata bahwa era sekarang adalah the age of abundance knowledge, era dimana manusia telah memproduksi ilmu pengetahuan dengan kecepatan yang mengagumkan dan dalam jumlah yang berlimpah ruah. Hal tersebut secara sederhana dapat dijelaskan dengan teori kombinasi. Semakin banyak hal (temuan) baru, maka akan semakin banyak yang bisa dikombinasikan. Maka perkembangan cabang-cabang ilmu  adalah hal yang tidak terelakkan oleh zaman.

Namun kemajuan luar biasa tersebut ternyata kontras dengan kualitas kehidupan ummat manusia secara kolektif. Meminjam istilah Dr. Nopriadi, seorang ahli robotik dari UGM, bahwa sekarang ini adalah The Failure Era atau Era Kegagalan, yakni era dimana ilmu (sciences) berkembang pesat namun tidak berbading lurus dengan tingkat kebahagiaan ummat manusia. Kok bisa? Secara simpel, apakah Anda familiar dengan judul-judul berikut:

“Harta 85 Orang Terkaya Setara Kekayaan Separuh Penduduk Bumi”

“Terjerumusnya Negara-Negara Berkembang ke dalam Utang Luar Negeri”

“PBB: Satu dari Delapan Orang di Dunia Kelaparan”

“Royalti Emas Papua: FREEPORT 99%, INDONESIA 1%!”

“Astaga, Di Propinsi Yang Kaya Raya Ada 200 Rakyat Mati Kelaparan”

“Ke Depannya Nanti (Mungkin) Para Koruptor Itu Adalah Anak-Anak Kita Sendiri”

“HIV dan AIDS Terus Mengancam Dunia”

“Perdagangan Manusia di Uni Eropa Meningkat”

“Penurunan Populasi Catat Rekor Tertinggi di Jepang”

“Seks Gratis Setelah Sembilan Kali Cuci Mobil”

“Waduh, 11 Persen Pria di Asia Pasifik Pernah Melakukan Perkosaan”

“Pasangan Ini Ditangkap Polisi Pasca Gelar Pesta Pernikahan Telanjang”

“88 Ribu Perempuan AS Diperkosa”

“Korban Perang Irak 460.000 Jiwa Lebih”

“100 Dosen Curangi Syarat Guru Besar, 400 PTS Palsukan Data Dosen/Mahasiswa”

“Global Warming Mengancam Kehidupan di Bumi Kita”

“PBB: Makin Sulit Atasi Global Warming”, dan sebagainya

Ya, fenomena di atas adalah sedikit dari jutaan kisah pilu tentang ummat manusia saat ini. Ilmu ekonomi semakin berkembang namun krisis ekonomi semakin berulang. Ilmu lingkungan semakin menghasilkan solusi namun kerusakan lingkungan semakin menjadi. Energi alternatif semakin banyak namun tidak sedikit korban perang akibat perebutan ladang minyak. Manusia gagal menata peradaban di tengah gelimang ilmu dan teknologi.

Zeitgeist

Era Kegagalan di atas ternyata diamini oleh sebuah film serial dokumenter kenamaan karya Peter Joseph, yakni “Zeitgeist”. Dalam serial yang dinobatkan sebagai “video yang paling banyak diunduh di YouTube” itu diceritakan bahwa ummat manusia sedang berada dalam dunia yang tidak ideal karena sistem moneter yang rakus.

Dunia dihadapkan pada tuntutan perputaran uang yang semakin masif dan semakin serius. Bagaimana tidak, barang-barang diproduksi membabi buta tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Para kapitalis sengaja membuat desain barang yang tidak awet dan tidak efisien. Hasilnya dapat ditebak, manusia akan semakin cepat memutar uang: membeli barang baru karena tidak awet dan membeli servis lain karena tidak efisien. Inilah yang dinamakan “planned obsolence” (keusangan yang terencana).

Pada gilirannya, semua barang bisa jadi komoditas tanpa memandang aspek moral. Sustainibility (ketahanan) masyarakat menjadi sesuatu yang tidak boleh ada. Penemuan obat kanker berarti eliminasi terhadap jutaan tenaga kerja dan triliunan putaran uang. Pun kriminalitas dan terorisme adalah hal yang harus ‘dijaga’ demi memberi makan polisi bahkan perusahaan keamanan swasta. Pabrik pembuat senjata dan tentara bayaran adalah bisnis yang paling menguntungkan, mengingat sebagian besar pemasukan negara Amerika ditukar dengan misil, blackhawk, dan gaji serdadu mereka di Timur Tengah.

Akhirnya, tatanan dunia ala kapitalisme sekarang harus diganti. Zeitgeist memimpikan sebuah negeri baru yang tanpa uang dan tanpa bisnis. Resources (sumber daya) termasuk energi –yang mana manusia hidup untuk itu- harusnya bisa gratis, tinggal bagaimana manusia membaginya dengan adil. Hal ini akan terwujud dengan sebuah negara “utopia” ala Zeitgeist. Pekerjaan besar tersebut bernama “Venus Project”.

Kapitalisme dicap gagal

Pernyataan bahwa kapitalisme telah gagal ternyata bukan isapan jempol belaka. Hal tersebut malah didukung oleh masyarakat di jantung peradaban kapitalisme, Amerika. Pada 2011, sebuah aksi demo kolosal bernama Occupy Wall Street berteriak lantang mengenai tata dunia di bawah kapitalisme yang melahirkan ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, pengangguran tinggi, kerakusan, serta korupsi, dan pemerintahan korporatokrasi. Mereka menamakan diri “We are the 99%”, yang merujuk pada mayoritas yang tertindas dimana orang-orang kaya Amerika Serikat yang populasinya hanya 1% menguasai sebagian besar ekonomi di negeri Paman Sam tersebut. Protes di New York tersebut kemudian mendorong munculnya protes dan gerakan Occupy serupa di seluruh dunia.

Kemudian “Another World is Possible”, adalah slogan yang diangkat oleh Forum Sosial Dunia (World Social Forum – WSF) pada konferensi di Porto Alegre Brazil pada tahun 2001 dan 2002. WSF adalah forum internasional yang juga berteriak lantang tentang kegagalan kapitalisme dan menginginkan tata dunia baru yang lebih baik. Tiap tahunnya, konferensi WSF digelar dan dihadiri oleh puluhan ribu orang. Pada 2004, forum ini digelar selama seminggu di pinggiran kota Mumbai, India, yang menghadirkan 100.000 orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Slogan yang diangkat waktu itu adalah “Masih Ada Dunia yang Lebih Baik”.

Sebuah jajak pendapat oleh Wall Street yang dilakukan pada 2008 yang melibatkan 52 ekonom secara garis besar meramalkan tentang masa depan ekonomi Amerika yang suram. Hutang nasional Amerika disebut-sebut mencapai 18 triliun dolar, yang mana ini adalah 74% GDP nya. Dunia secara global juga berhadapan dengan ancaman saham derifatif yang bernilai 700 triliun US dollar (lebih dari 10 kali GDP total seluruh negara di planet bumi!) yang setiap saat bisa kolaps.

Tata dunia yang berkah

Ekonomi kapitalisme menjadikan persaingan bebas sebagai prinsip utama, yang ini dikenal sebagai “Invisible Hand”. Kapitalisme disebut-sebut memiliki saudara kembar materialisme, yang merasa bahwa tolok ukur kebahagiaan diukur dengan materi. Maka tak heran, berbagai kemajuan iptek akan dikanalisasi menjadi persaingan antar manusia untuk menjajah satu sama lainnya. Setiap orang berpacu mendapatkan ‘dolar’ tanpa ada batasan yang baku, bebas berkreasi selama pasar masih mau beli. Konsekuensinya, barang yang awet dan efisien –yang itu akan lebih ramah pada lingkungan- akan sebisa mungkin dihindari demi pundi-pundi rupiah yang maxi.

Kebangkitan Islam yang sebentar lagi

Sebuah tata dunia yang lebih baik akan lahir jika kebebasan ekonomi tersebut harus di-check-and-balance oleh suatu kesadaran kolektif. Islam mengajarkan, bahwa ekonomi bukan hanya soal mengejar rupiah, namun juga harus berkah. Keuntungan dari penjualan akan tidak berarti jika tanpa dibarengi aksi yang syar’i. Dari sini juga, orang akan tetap bebas mengembangkan kepemilikan (karena dijamin oleh Islam) namun tetap memperhatikan maslahat bersama seperti kelestarian alam (yang juga diatur oleh Islam), dan benefit-benefit lainnya.

Dan prospek tata dunia baru yang berkah ala Islam ternyata bukan cuma mimpi. Sebuah survei oleh Al-Jazeera pada sekitar 2008 mengatakan bahwa 88,5 % responden sepakat bahwa sistem keuangan Islam adalah yang terbaik. Pun juga survei-survei di dunia Islam oleh Pew Research membuktikan sebagian besar –di Indonesia 72%- setuju penerapan syari’ah. Apalagi di tengah dunia yang senatiasa bergejolak kini, apa saja bisa terjadi kapan saja. [tomas]

 

Daftar Pustaka:

1,067 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 140 times, 1 visits today)