home Opini Keusangan Terrencana

Keusangan Terrencana

Nothing produced can be allowed to maintain a lifespan longer than what can be endured in order to continue cyclical consumption  –Zeitgeist (movie) (2011)

Di California, sebuah bohlam menyala lebih dari 115 tahun sejak 1901 hingga kini. Dia lah “Centennial Light”. Lampu pemegang rekor dunia Guinness itu tergantung di sebuah garasi departemen pemadam kebakaran Livermore. Lampu filamen 30 watt yang diproduksi tahun 1890an itu lalu menjadi sebuah tanda tanya bagi kita, bagaimana bisa ada bohlam seawet itu?

Ada sebuah rasa bahwa usia barang yang ada di sekitar kita hari ini tidak seperti dulu lagi. Handphone keluaran awal tahun 2000an ternyata bisa ditemui masih awet pada masa kini. Sedangkan handphone  yang diproduksi tahun-tahun belakangan –yang kini bermetamorfosa menjadi “telepon pintar”- nasibnya berakhir di tukang servis atau pembuangan setelah pemakaian 1 atau 2 tahun. Tidak hanya perangkat kerasnya, perangkat lunak telepon pintar kini harus di-update tiap beberapa bulan agar tidak ketinggalan teknologi sistem operasi.

Lampu neon di kamar mandi kita bisa ganti berkali-kali dalam setahun. Printer yang dulu bisa digunakan puluhan ribu lembar untuk usia pakai 5 tahun kini harus ganti setiap 1 atau 2 tahun. Tiap pemakaian sekian ribu lembar harus ada reset. Barang-barang plastik hari ini juga tidak pernah dijumpai bertahan lama. Nyaris semua produk di sekitar kita tidak memiliki kadar awet seperti pendahulunya.

Namun pernahkah kita berpikir bahwa ketidakawetan, keusangan, dan keringkihan itu mungkin disengaja? Bisa jadi. Secara teori, produsen ingin menciptakan barang yang awet dengan harapan dapat memikat banyak konsumen. Tapi kita harus ingat, kondisi ini hanya terwujud jika persaingan di pasar terjadi secara wajar. Praktik monopoli oleh sekelompok produsen, atau yang disebut kartel, membuat asumsi tersebut harus terkoreksi. Sekelompok produsen yang menguasai pasar pada wilayah tertentu memungkinkan kongkalikong antar mereka untuk membuat sebuah ‘permainan’. Kartel bisa saja menyepakati suatu kualitas produk tertentu dengan harga produksi yang rendah. Akibatnya, produk-produk di suatu wilayah yang berada dalam penguasaan kartel tersebut semakin hari semakin turun kualitasnya. Sedangkan produsen satu dan yang lain tidak khawatir kalah pamor dengan pesaingnya.

Faktanya memang demikian. Itulah yang disebut dengan “keusangan terencana” (planned obsolescence). Terminologi ini dipopulerkan oleh Bernard London pada 1932 pada publikasinya yang berjudul Ending the Depression Through Planned Obsolescence. Sejarah yang terkenal tentang hal ini terjadi pada tahun 1920an di dataran Eropa. Waktu itu, beberapa pemain bisnis besar bola lampu (Phillips, Osram, GE, dll) berunding di Swiss untuk menyepakati pengurangan durasi nyala bola lampu. Lampu yang awalnya menyala untuk 2500 jam pada 1924, kemudian dibonsai tinggal 1000 jam pada 1940. Produsen lampu beralasan bahwa hal itu dalam rangka meningkatkan intensitas nyalanya dan efisiensi energi. Namun seorang profesor dari Universitas Basel, Markus Krajewski, mengkritik bahwa itu hanyalah klaim eksplisit dari kartel untuk mengurangi usia pakai bola lampu untuk meningkatkan penjualan.

Mungkin itulah, mengapa lampu selalu dikaitkan dengan ide cemerlang. Lampu menjadi korban pertama konspirasi cerdas untuk mengadakan sebuah keusangan yang terrencana.

Kini, keusangan suatu produk direncanakan dengan begitu canggih. Berbagai produk tidak hanya dirancang cepat rusak agar meningkatkan penjualan, namun produk juga diciptakan “kurang sempurna” sehingga membutuhkan perangkat tambahan. Beberapa telepon pintar membutuhkan ‘perhiasan’ seperti kondom HP, sticker anti gores, sticker penguat sinyal, hingga casing tambahan. Tujuannya jelas, untuk menambah luas jangakuan pasar. Gawai era kini juga didesain agar tidak mudah direparasi dengan harapan agar konsumen terdorong untuk beli baru. Sebagai contoh, produk Apple ipad mendapat rating 2/10 dari iFixit mengenai aspek repairibilitasnya.

Model bisnis hitam ini juga menjangkiti kebutuhan vital rakyat luas seperti keamanan dan kesehatan. Angka kriminalitas yang tinggi di Amerika menjadikan keamanan sebagai komoditas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehadiran perusahaan keamanan swasta yang membantu dalam pelayanan bodyguard, anjing penjaga, keamanan parkir, dan pendampingan keamanan memberi ‘pintu rezeki’ baru. Tidak tanggung-tanggung, nilai pasar bisnis ini mencapai 350 miliar dolar AS dan akan terus meningkat. Di samping itu, negeri Paman Trump tersebut juga menyediakan penjara swasta, yang dibuka perdana pada 1984 di Houston, Texas. Corrections Corporation of America (CCA) adalah pengelola terbesar dari penjara-penjara swasta di Amerika Serikat. Kini ada lebih dari 400 perusahaan yang bergerak di industri keamanan di Amerika. Fakta-fakta tadi belum memperhitungkan geliat “bisnis perang” yang sengaja diciptakan untuk membuat pabrik-pabrik senjata tetap bekerja. Sebuah film dokumenter, Zeitgeist, mengatakan bahwa kriminalitas di Amerika sengaja dijaga untuk tetap tinggi pada level tertentu demi keuntungan segelintir pelaku industri keamanan. Alhasil, kriminalitas dan terorisme sama dengan profit. Penguasa telah berduet dengan pengusaha untuk menciptakan “kondisi usang” guna menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Dalam bidang medis, penemuan obat kanker yang mujarab sebenarnya bukan barang baru. Seorang pakar kanker, Dr. Robert Atkins, mengatakan bahwa obat kanker jumlahnya begitu melimpah, tetapi mereka dikebiri secara sistemis oleh Masyarakat Kanker Amerika, Institut Kanker Nasional dan pusat-pusat oncologi. Mereka memiliki kepentingan dengan status quo. Industri kanker merupakan bisnis besar dengan temuan 1,6 juta kasus per tahunnya. Pada 2014, 125 miliar dolar AS dikeluarkan untuk penanganan kanker. Dr. Gonzalez, pakar terapi kanker dengan enzim pankreas mengatakan bahwa “perang terhadap kanker” telah gagal, disebabkan kombinasi politik, uang, keserakahan, dan korupsi.

Sedangkan di luar sana telah lahir ribuan inovasi hasil ilmuwan dan insinyur yang tulus mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik. Roda anti bocor, mesin jet hemat energi, produk perawatan bayi murah berkualitas, pembangkit listrik yang hampir gratis, hingga penjernih air sempat tersiar di tengah-tengah kita lewat jejaring sosial. Namun kita bertanya dimana kini mereka berada sambil curiga bahwa ada kekuatan besar yang menghadangnya demi menyelamatkan rente bisnis segelintir orang.

Konsumsi yang membabi buta jelas punya dampak. Menurut PBB, setiap tahun ada 20 hingga 50 metrik ton sampah elektronik (e-waste) terbuang. Sedangkan hanya 12,5% nya saja yang bisa didaur ulang. Semakin bertambah hari, bumi semakin menjadi tempat yang tak layak huni.

Hasil temuan yang mencengangkan didapat dari The Economics of Ecosystems and Biodiversity (TEEB) yang mengatakan bahwa hampir semua perusahaan besar dunia tidak akan memperoleh profit jika biaya kerusakan lingkungan dibebankan pada mereka. Tabel 1 memuat lima sektor industri dengan dampak lingkungan terbesar di masing-masing wilayah beserta rasio antara pendapatan dengan harga dampak lingkungannya.

Tabel 1. Industri terbesar di masing-masing wilayah serta impact ratio-nya (exposingtruth.com)

trucosttop5regionsectors

Ekonomi berbasis pasar tanpa disertai tanggung jawab pelakunya  adalah bencana bagi dunia. Kapitalisme telah mentransformasi sifat serakah manusia menjadi tanpa batas. Semua yang dapat dipandang sebagai profit akan terus diusahakan. Adalah sifat kapitalisme yang tidak pernah cukup, dan semuanya serba kurang. Tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi, tidak ada produksi gawai yang terlalu berlebihan, tidak ada mobil yang terlalu banyak, tidak ada produksi minyak yang terlalu tinggi, semuanya serba kurang, dan harus digenjot semaksimal mungkin.

Alhasil, dunia kini membutuhkan seperangkat sistem yang tidak hanya berbicara soal pengembangan modal saja, tetapi bagaimana membatasinya agar tidak ada penjajahan satu manusia terhadap manusia lain. Dunia membutuhkan sebuah tata nilai ekonomi yang tidak hanya soal untung-rugi saja, tetapi juga berkah-musibah dan halal-haram. [tomas]

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Pustaka

552 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 77 times, 1 visits today)