home Analisis, Opini Komoditas Keamanan

Komoditas Keamanan

Hari ini di beberapa belahan bumi, rasa aman telah menjadi komoditas. Terlebih-lebih di Amerika –pusat peradaban kapitalisme-, jasa keamanan seperti polisi swasta, bodyguard, hingga detektif swasta ikut campur memberantas kriminalitas. Ironisnya, kondisi tidak aman sengaja diciptakan untuk membuat pasar bisnis ini semakin luas.

Dunia Islam tidak pernah mengalami fenomena yang sedemikian pelik. Islam –berikut aspek mendasar dan syariahnya- telah menyelesaikan problem keamanan hingga ke akar-akarnya.

Industri Keamanan

Pada 2015, angka kejahatan kekerasan (violent crime) di Amerika mencapai 1,19 juta kasus, meningkat 3,9% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk kejahatan properti, angkanya cukup besar, yakni mencapai 7,9 juta kasus.

Angka kejahatan yang fantastis telah mentransformasi keamanan sebagai industri yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehadiran perusahaan keamanan swasta yang membantu dalam pelayanan bodyguard, anjing penjaga, keamanan parkir, hingga sistem monitoring memberi ‘pintu rezeki’ baru. Tidak tanggung-tanggung, pada 2012, nilai pasar bisnis ini di Amerika mencapai 350 miliar dolar AS dan akan terus meningkat. Investigator dan detektif swasta adalah termasuk profesi yang paling cepat tumbuh, rate-nya mencapai 21%. Sedangkan ada sekitar 2 juta satpam swasta yang kini bekerja di Amerika. Kini ada lebih dari 400 perusahaan yang bergerak di industri keamanan di Amerika [1].

Perusahaan keamanan swasta asal Inggris, Securitas, mempekerjakan sebanyak 330 ribu karyawan di 53 negara dunia termasuk Indonesia. Mereka mengklaim, bahwa pangsa pasarnya terus tumbuh sejak 2012 [2]. G4S, perusahaan keamanan terbesar di dunia yang juga berasal dari Inggris, mempekerjakan 618 ribu karyawan. Mereka telah hadir di 125 negara. Di Indonesia, mereka sering ditemui bersama pegawai bank mengisi uang di gerai ATM.

Data Kepolisian Negara RI menyebutkan, saat ini jumlah perusahaan keamanan tercatat 240 perusahaan. Salah satu pelaku industri keamanan swasta, Oldy Sofyan Ali, mengatakan bahwa peluang bisnis semacam ini masih sangat besar dan akan terus tumbuh. Oldy memperkirakan, transaksinya mencapai Rp 1,7 triliun per tahun [3].

Lebih jauh lagi, di Negeri Paman Trump juga tersedia penjara swasta, yang dibuka perdana pada 1984 di Houston, Texas. Semakin hari, penjara swasta angkanya selalu bertumbuh. Pada 1998, di Amerika hanya ada 5 penjara swasta dengan 2000an total napi. Jumlahnya naik drastis pada 2008 yakni mencapai 100 unit dengan 62 ribu tahanan. Corrections Corporation of America (CCA) bersama Wackenhut adalah korporasi penjara swasta di Amerika Serikat yang menguasai 75% pangsa pasar. Pasca terpilihnya Trump pada pilpres Amerika pada November 2016 lalu, saham CCA naik 43%. Sedangkan rivalnya, GEO Group, naik sebesar 21% [4].

Di satu sisi, keberadaan narapidana di penjara swasta ternyata adalah hal yang sengaja dipelihara. Para napi tersebut dibayar murah untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan besar. Bayaran untuk pekerja terampil di pencara CCA di Tennessee, misalnya, hanya 50 sen perjam. Industri besar seperti IBM, Boeing, Motorola, Microsoft, Dell, Compaq, Intel termasuk yang mengambil manfaat dari mereka. Para pemegang saham sering mengadakan lobi untuk masa tahanan napi yang lebih panjang. Industri penjara yang kompleks itu merupakan salah satu bisnis yang paling berkembang yang bahkan ditopang oleh Wall Street [5].

Sebuah film dokumenter, Zeitgeist, mengungkapkan bahwa kriminalitas sengaja dijaga untuk tetap tinggi pada level tertentu demi keuntungan segelintir pemilik modal. Kriminalitas berguna untuk ‘memberi makan’ para pelaku industri keamanan swasta seperti polisi swasta, vendor teknologi keamanan canggih, termasuk perusahaan penjara swasta. Alhasil, kriminalitas dan terorisme sama dengan profit. Inilah kondisi usang yang sengaja diciptakan yang juga merupakan salah satu bentuk keusangan terrencana (planned obsolescence). Fakta-fakta diatas juga belum mempertimbangkan “bisnis perang” yang dipelihara untuk menjaga agar pabrik-pabrik senjata di Amerika terus beroperasi.

Beyond Profit

Negara-negara selalu memacu agar GDP nya tumbuh. Namun Joseph Stiglitz, peraih nobel ekonomi selalu menekankan, bahwa GDP bukanlah ukuran kesejahteraan. GDP sering kali menipu. Kadangkala, segala cara ditempuh suatu negara demi menggenjot pendapatannya meski mengorbankan aspek kebahagiaan masyarakat yang lain. Di satu sisi, dunia di bawah kapitalisme hari ini masih kebingungan mencari standar baku untuk mengukur well-beingness suatu masyarakat.

Namun kebingungan tersebut tidak pernah dikenal di dunia Islam. Bagi muslim, kebahagiaan akan dicapai manakala manusia ‘memasrahkan’ dirinya pada Yang Maha Kuasa. Bentuk pasrah tersebut tercermin dari perilakunya yang selalu disesuaikan dengan syariat-Nya. Dalam konteks masyarakat, negara Islam (khilafah) hadir untuk menerapkan hukum-hukum-Nya yang sudah tentu juga dalam rangka beribadah pada-Nya.

Perhatian besar yang diberikan oleh negara (khalifah) kepada rakyatnya diwujudkan dengan memastikan terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar rakyat negara khilafah. Kebutuhan dasar ini ada dua kategori. Pertama, kebutuhan pokok bagi individu, seperti sandang, papan, dan pangan. Kedua, kebutuhan pokok bagi kelompok, seperti pendidikan, kesehatan termasuk keamanan.

Seluruh kebutuhan dasar tersebut dijamin oleh negara, dan harus dipastikan bahwa kebutuhan tersebut telah diperoleh oleh setiap individu rakyatnya. Khalifah harus berhasil memberi jaminan pada keenam aspek tersebut dalam rangka menerapkan hadits: Imam [kepala negara] itu laksana penggembala, hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap [urusan] rakyatnya. Khalifah tidak akan menyerahkannya pada mekanisme “invisible hand”.

Seorang sejarawan, Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization menulis:

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”

Ekonomi berbasis pasar tanpa disertai tanggung jawab ‘ilahiyah’ pelakunya  adalah bencana bagi dunia. Kapitalisme telah mentransformasi sifat serakah manusia menjadi tanpa batas. Semua yang dapat dipandang sebagai profit akan terus diusahakan.

Ditambah lagi, anak-anak kita sudah terlalu lama dibius dengan tontonan superhero ala Barat. Maraknya kriminalitas dicitrakan seolah fenomena biasa. Kehadiran sang pahlawan yang gagah perkasa berhasil menjadi bumbu cerita yang hanya ada di angan-angan. Padahal kisah-kisah seperti itu hanya ada di peradaban Barat kapitalis yang gagal menciptakan rasa aman.

Alhasil, dunia kini membutuhkan seperangkat sistem yang tidak hanya berbicara soal pengembangan modal saja, tetapi bagaimana membatasinya agar tidak ada penjajahan satu manusia terhadap manusia lainnya. Dunia membutuhkan sebuah tata nilai ekonomi yang tidak hanya soal untung-rugi saja, tetapi juga berkah-musibah serta halal-haram. [tomas]

[1] https://www.asisonline.org/News/Press-Room/Press-Releases/2013/Pages/Groundbreaking-Study-Finds-U.S.-Security-Industry-to-be-$350-Billion-Market.aspx

[2] http://www.securitas.com/globalassets/com/files/annual-reports/en/securitas_ar2015_eng_printed_low_res_20160330.pdf

[3] http://goldbank.co.id/channel/moneter/bisnis/ngeri-ngeri.html

[4] https://www.nytimes.com/2016/12/03/your-money/trumps-win-gives-stocks-in-private-prison-companies-a-reprieve.html?_r=0

[5] http://www.globalresearch.ca/the-prison-industry-in-the-united-states-big-business-or-a-new-form-of-slavery/8289

 

featured image: dailymail.co.uk

415 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 51 times, 1 visits today)