home Analisis, Opini, Pemikiran Lagu Lama itu Berjudul “Begal”

Lagu Lama itu Berjudul “Begal”

Oleh: Muhammad Fikri Kawakibi Huda (Mahasiswa Sarjana Aeronotika dan Astronotika ITB)

Teror begal di masyarakat sebenarnya sudah sudah ada sejak lama. Namun, maraknya kembali aksi perampasan sepeda motor ini di daerah sekitar kampus ITB belakangan membuat mahasiswa juga dosen ITB waswas.

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi korban pembegalan dalam kurun dua pekan terakhir. Mereka adalah Nur Indah Pertiwi, Rizal Aziz Muhammad, dan Rifqi Zaidan Muharri. Para korban ada yang kehilangan sepeda motor dan harta lainnya. Mereka juga mengalami syok dan luka akibat perbuatan sang begal.

Banyak informasi yang beredar tentang situasi teror tersebut, seperti pada pembegalan yang menimpa Rifqi Zaidan Muharri (20 tahun), mahasiswa teknik geodesi semester tiga di ITB pada Ahad (6/11) sekitar pukul 05.03 WIB di pintu Sabuga Jl Tamansari, kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Yusri Yunus, peristiwa tersebut terjadi saat korban tengah mengendarai sepeda motornya. Saat melintasi pertigaan Jl Dayang Sumbi-Jl Tamansari, ada empat pelaku yang mengendarai dua sepeda motor berpapasan dengan korban. Saat itulah pelaku meneriaki korban.

Pelaku kemudian mengejar korban hingga ke pintu gerbang Sabuga. Korban terjatuh dari sepeda motornya kemudian pelaku menyerangnya dengan senjata tajam. “Pelaku langsung merampas motor korban dan kabur,” kata dia kepada para wartawan, Ahad (6/11).

Kepada polisi korban mengatakan, saat itu ia berangkat dari Masjid Salman hendak ke kosannya di Jl Cisitu Indah 1 No 18 untuk mengambil bahan kuliah yang tertinggal. Namun sebelum sampai ke tempat kos ia terlebih dulu dibegal kawanan penjahat. Akibat penganiayaan tersebut korban mengalami luka serius dan dirawat di RS Borromeus, Bandung (Republika.co.id, 6/11).

Wakil Rektor ITB Dr. Miming Miharja, ST., M.Sc.Eng., menduga peristiwa itu murni sebagai tindakan kejahatan. Sebab yang diincar adalah harta benda para korban. Dari hasil keterangan para korban, tidak ada indikasi yang menjurus bahwa korban jadi sasaran balas dendam. Mereka juga tidak memiliki masalah dengan orang lain.

“Mengenai apakah ada kemungkinan ini karena dendam pribadi, sejauh ini yang kami pahami dari cerita para korban, ini betul-betul dilakukan oleh orang yang tidak dikenal dan faktanya ada sepeda motor yang hilang. Saya rasa ini lebih kepada kejahatan,” kata Miming di Gedung Rektorat ITB, Kota Bandung, baru-baru ini.

Soal waktu kejadian, pelaku juga melakukan aksinya pada jam-jam rawan, terutama tengah malam hingga dini hari. Tapi ia tidak mau berspekulasi lebih jauh apakah tiga kejadian itu dilakukan oleh orang yang sama.

Ia pun menyerahkan seluruhnya proses penanganan kasus tersebut pada kepolisian. “Mengenai rangkaian tiga kejadian ini, sejauh ini kami tidak mendeteksi satu rangkaian skenario (oleh orang yang sama). Kami melihat ini sebagai satu kejahatan saja. Tapi kami tidak tahu apakah polisi ada analisa ke arah sana atau tidak,” jelas Miming.

Disinggung kondisi ketiga mahasiswanya, ia mengatakan mereka sekarang sudah jauh lebih baik. Mereka bahkan sudah bisa beraktivitas kembali.

Ia berharap kasus serupa tidak lagi terjadi. Kasus itu pun jadi pembelajaran bagi ITB untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di kalangan mahasiswa.

Sementara akibat dari peristiwa itu, aktivitas malam hari yang biasanya dilakukan mahasiswa ITB di kampus kini cenderung menurun. Hal itu karena banyak mahasiswa yang cukup gusar dan takut jadi korban begal jika pulang larut malam. “Jangankan mahasiswa, dosen juga sama ada perasaan khawatir. Saya kira (kejadian) itu akan berpengaruh pada psikologis. Tapi kami menyampaikan, kami coba meresponnya dengan berbagai langkah agar rasa aman itu bisa kembali,” jelas Miming (Okezone.com, 10/11).

Aksi Polisi

Pembegalan yang marak terjadi beberapa waktu terakhir membuat polisi semakin gencar melakukan pengejaran terhadap pelakunya. Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Bandung menembak mati seorang pelaku kejahatan jalanan yang kerap beraksi di wilayah Kecamatan Coblong, Jumat 18 November 2016 dini hari.

Pelaku dilumpuhkan polisi saat hendak melakukan aksi kejahatan di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Kapolrestabes Bandung Winarto membenarkan anggotanya menembak mati seorang pelaku tindak kejahatanan jalanan yang meresahkan warga. “Dini hari tadi anggota kami terpaksa menembak mati seorang pelaku kejahatan jalanan berinisal AM alias Odon,” kata Winarto.

Ia menjelaskan, anggotanya terpaksa menembak mati tersangka karena melakukan perlawanan saat akan ditangkap polisi di daerah Babakan Siliwangi. Saat itu tersangka tertangkap basah ketika melakukan aksi pembegalan. Odon bahkan sempat menabrakan motornya ke motor anggota polisi yang mengejarnya. “Saat akan ditangkap, tersangka malah menyabetkan samurai yang dibawanya, sehingga dengan terpaksa anggota pun menembakkan senjata ke arah dada korban sebanyak dua kali,” tutur Winarto, didampingi Kasat Reskrim M. Joni, seperti dikutip dari Galamedianews.com.

Peran Odon terungkap setelah sebelumnya polisi menangkap tiga pelaku begal lainnya. Ketiganya yaitu BY alias Obay, Iday, dan Adit. Dari mulut ketiganyalah terungkap Odon adalah pimpinan komplotan tersebut. Komplotan tersebut kerap melakukan aksi kejahatan jalanan dengan modus begal di daerah Ir H Djuanda sekitarnya. Mereka kerap membawa senjata tajam yang disimpan di tubuhnya. Saat ditangkap, salah satu anggota polisi terluka terkena sabetan cutter yang dibawa tersangka. Dan akhirnya anggota pun menembak para pelaku.

Polisi mengamankan satu kendaraan motor matic dan satu telefon seluler yang diduga merupakan hasil curas. Salah seorang pelaku, Adit mengaku bersama tiga rekan lainnya melakukan aksi pembegalan terhadap mahasiswa ITB. “Kita pepet korban, dan langsung memukul korban dengan samurai,” katanya (Pikiran-rakyat.com, 18/11).

Aksi polisi tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Polisi bisa menindak begal motor secara lebih luas dan masif. Sayangnya, operasi pemberantasan secara ‘serius dan besar’ seolah baru dilakukan setelah kejahatan itu marak dan betul-betul menebar teror di masyarakat. Selain itu, pemberantasan yang dilakukan bersifat sementara, dalam sebuah operasi berjangka waktu pendek. Operasi seperti itu sifatnya lebih menjadi ‘terapi kejut’ atau shock therapy. Efeknya akan menekan angka kejahatan itu untuk sementara, tetapi tidak bisa memberantas tuntas kejahatan itu. Tentu karena pemberantasan kejahatan secara tuntas tidak bisa dilakukan hanya melalui penegakan hukum saja, tetapi juga memerlukan penegakan sistem-sistem lainnya.

Mencari Solusi Mengatasi Begal dengan Sistem yang Andal

Ragam kejahatan harus diatasi melalui pencegahan dan penindakan. Penindakan dilakukan oleh aparat penegak hukum saat terjadi tindak kejahatan. Adapun pencegahan bisa dilakukan di antaranya melalui pendidikan.

Sistem Gagal, Rakyat Jadi Tumbal

Maraknya begal motor di berbagai daerah di Indonesia—selain berbagai bentuk tindakan kejahatan lainnya semisal pembunuhan, pelecehan seksual, pencurian dan lainnya—makin memperparah ancaman terhadap rasa aman masyarakat.

Selain pengejaran terhadap pelaku pembegalan terhadap tiga mahasiswa ITB, aparat di berbagai wilayah lainnya menemukan banyaknya remaja usia sekolah yang menjadi pelaku begal motor dan kejahatan berkelompok (geng) lainnya, seperti Kodim 0608 Cianjur yang menemukan banyaknya siswa yang ikut terlibat geng motor. “Permasalahan ini menjadi sebuah perhatian besar juga untuk kami. Genk motor saat ini sudah memasuki dunia pendidikan salah satunya melalui mulai merekrut anak sekolah,” kata Pasi Pers, Kapten Inf. B.Hutabarat (Pojoksatu.id, 10/11).

Sebelumnya di daerah yang berbeda, Minggu (26/6/2016) dinihari, Kapolres Bogor Kota AKBP Andi Herindra dan Walikota Bogor Bima Arya bersama jajaran tim gabungan melakukan patroli. Hasilnya, sebanyak 40 remaja tanggung, 3 diantaranya wanita ditangkap. Hasil pemeriksaan petugas, hampir semua pemuda anggota geng motor yang terdiri dari pelajar dan alumni sekolah tersebut dibawah pengaruh alkohol. Mereka dicokok karena terbukti membawa senjata tajam berupa gear, parang, golok, dan samurai. “Operasi gabungan TNI-Polri, Pemkot, satpol PP ini menemukan segerombolan remaja yang jumlahnya tak terhitung. Saat kami periksa ditemukan berbagai macam senjata tajam,” tukas Kapolres Bogor Kota, Andi (Indeksberita.com, 26/6).

Artinya, selain sistem hukum dan proses peradilan yang tak begitu dipercaya oleh masyarakat (baca: http://www.campuspedia.id/blog/mahasiswa-itb-menemukan-pola-pembegalan-di-kota-bandung.html), sistem pendidikan saat ini juga gagal melakukan pencegahan perilaku negatif anak dan remaja. Semua ini menunjukkan bahwa sistem yang ada gagal menjamin rasa aman bagi masyarakat. Masyarakat akhirnya jadi tumbal.

Pandangan dan Cara Islam Menjegal Para Pembegal

Dalam pandangan Islam, akar masalah maraknya tindak kriminal begal adalah tidak diterapakannya hukum-hukum Allah. Faktor ekonomi, moral, mental, serta lingkungan dinilai hanyalah penyebab turunan akan maraknya begal.

Penerapan sistem Islam akan memberantas berbagai tindak kejahatan secara tuntas sejak dari akarnya, termasuk kejahatan begal motor yang marak dalam sistem sekular kapitalisme saat ini. Sistem Islam memberantas kejahatan itu melalui dua aspek: aspek pencegahan dan penindakan.

Pencegahan dilakukan dengan menjamin penerapan sistem Islam secara konsisten diantaranya pada sistem pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dan sosial.

Faktor utama yang bisa dengan kuat mencegah seseorang melakukan kejahatan adalah kuatnya keimanan dan ketakwaan dalam diri orang tersebut. Karena itu, Islam mewajibkan negara untuk terus-menerus mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan seluruh rakyatnya. Islam menetapkan ini sebagai salah satu kewajiban utama negara. Jika negara (penguasa) abai terhadap hal ini, hal itu akan membuat penguasa tidak bisa merasakan kenikmatan surga. Rasul ﷺ. bersabda:

« مَنِ اسْتُرْعِىَ رَعِيَّةً فَلَمْ يُحِطْهُمْ بِنَصِيحَةٍ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ مِائَةِ عَامٍ »

Siapa saja yang dipercaya mengurus rakyat, sementara dia tidak menjaga mereka dengan nasihat, dia tidak akan mencium aroma surga, padahal aroma surga bisa dicium dari perjalanan seratus tahun (HR Ahmad, Ibn Abi Syaibah dan ath-Thabrani).

Penguatan keimanan dan pembinaan ketakwaan itu dilakukan oleh negara melalui berbagai sistem, terutama pendidikan. Hal ini berbeda dengan sistem yang diterapkan saat ini. Saat ini masalah keimanan dan ketakwaan rakyat tidak diperhatikan oleh penguasa. Sistem pendidikan yang dijalankan juga tidak benar-benar mempedulikan penguatan keimanan dan pembinaan ketakwaan. Pasalnya, sistem pendidikan saat ini dibangun berlandaskan sekularisme yang justru menolak peran agama di ruang pulik.

Pada tingkat keluarga, Islam mewajibkan seorang Muslim untuk menjaga anggota keluarga dari api neraka (QS at-Tahrim [66]: 6), yaitu dengan mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan mereka.

Pada level masyarakat, Islam mewajibkan perwujudan kontrol sosial. Islam mewajibkan siapa saja yang melihat kemungkaran harus mengubah kemungkaran itu dengan kekuatan, lisan atau hatinya. Islam juga memerintahkan amar makruf nahi mungkar.

Pada level negara, sistem ekonomi Islam akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi setiap individu rakyat. Sistem ekonomi Islam juga akan mendistribusikan harta secara merata dan berkeadilan kepada seluruh rakyat. Semua orang akan mendapat kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kemampuan yang dimiliki. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, alasan ekonomi akan sangat minimal menjadi faktor timbulnya kejahatan.

Yang pasti, penerapan sistem Islam secara keseluruhan akan mencegah orang untuk melakukan kejahatan. Paling tidak, faktor-faktor pemicu kejahatan bisa diminimalisasi.

Hukuman Setimpal

Jika dengan semua itu masih ada yang melakukan kejahatan maka sistem sanksi dan hukum Islam akan menjadi palang pintu untuk menindak pelaku kejahatan itu. Bukan hanya menindak, sanksi hukum dalam Islam itu akan menjadi zawajir dan jawabir. Sebagai zawajir, sanksi hukum dalam Islam akan bisa mencegah orang melakukan kejahatan serupa. Sebagai jawabir, sanksi itu akan menjadi penebus dosa bagi pelakunya sehingga dia tidak akan disiksa di akhirat atas dosa itu.

Dalam kasus begal motor, pelaku melakukan perampasan dengan menggunakan kekerasan, bahkan kadang sampai membunuh korban. Kasus itu dalam Islam merupakan kejahatan hirabah. Sanksi hukumnya adalah apa yang dinyatakan di dalam firman Allah SWT:

[إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ]

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi adalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Itulah penghinaan untuk mereka di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar (TQS al-Maidah [5]: 33).

Berdasarkan ayat tersebut, jika pelaku hanya merampas harta disertai kekerasan tanpa membunuh, hukumannya adalah dipotong kaki dan tangannya secara bersilangan. Jika selain merampas harta, pelaku juga membunuh korban, hukumannya adalah dibunuh dan disalib.

Dengan hukuman seperti itu, jelas pelaku kejahatan itu tidak akan berani dan tidak bisa melakukan kejahatan itu lagi. Pelaksanaan hukuman itu bisa dilihat oleh masyarakat. Hal itu akan bisa mencegah siapapun untuk melakukan kejahatan serupa.

Masyarakat Selamat

Dengan semua penerapan sistem Islam dan penerapan sanksi hukumnya itu, masyarakat akan selamat dari kejahatan itu. Dengan begitu rasa aman bagi masyarakat bisa dijamin. Jaminan rasa aman bagi masyarakat seperti itu hanya bisa diberikan melalui penerapan syariah Islam secara keseluruhan di bawah sistem Khilafah Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Selain menjadi solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, menerapkan syariah secara keseluruhan di bawah sistem Khilafah Rasyidah juga merupakan kewajiban bagi umat Islam. Karena itu, saatnyalah sekarang umat Islam segera berjuang penuh kesungguhan untuk mewujudkan semua itu. Dengan itu maka kerahmatan dan segala kebaikan akan bisa dirasakan oleh umat.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

443 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 40 times, 1 visits today)