home Opini, Pemikiran Mahasiswa dan The Failure Era

Mahasiswa dan The Failure Era

The Failure Era

Prof. James Duderstadt dalam The University for the 21st century, berkata bahwa sekarang ini adalah the age of abundance knowledge, era dimana manusia telah memproduksi ilmu pengetahuan dengan kecepatan yang mengagumkan dan dalam jumlah yang berlimpah ruah.

Sebagai gambaran, pada abad 12, Ibnu Rusyd (dikenal di Barat sebagai “Averroes”), menginisiasi penemuan tentang ilmu hukum gerak benda yang kemudian menginspirasi Isaac Newton 500 tahun setelahnya. Dari situ, orang kemudian mengenal mekanika ala Newton. Namun pada awal abad 20, Einstein membuat sebuah mekanika baru, yang didasarkan pada Relativitas Umum Einstein. Mekanika yang baru ini kemudian mengambil hati banyak ilmuwan abad 21 untuk semakin menelitinya. Bisa kita amati, hadiah Nobel pada tahun-tahun belakangan ini banyak diraih oleh peneliti fisika kuantum.

Hal tersebut secara sederhana dapat dijelaskan dengan teori kombinasi. Semakin banyak hal (temuan) baru, maka akan semakin banyak yang bisa dikombinasikan. Maka perkembangan cabang-cabang ilmu  adalah hal yang tidak terelakkan oleh zaman.

Kemajuan luar biasa tersebut ternyata kontras dengan kualitas kehidupan ummat manusia di dunia. Meminjam istilah Dr. Nopriadi, seorang ahli robotik dari UGM, bahwa sekarang ini adalah The Failure Era atau Era Kegagalan, yakni era dimana ilmu (sciences) berkembang pesat namun tidak berbading lurus dengan tingkat kesejahteraan ummat manusia.

Fenomena nya memang seperti itu. Bayangkan saja, bahwa sebanyak 40% populasi dunia hanya menguasai total 5% harta sedunia, 22 ribu anak kecil tewas pertahun akibat kemiskinan, 2/3 penduduk bumi yang kekurangan air hidup hanya dengan kurang dari 2 dollar per hari, dan sebagainya, adalah fakta nyata di bumi tempat kita tinggal. Belum lagi masalah lingkungan, kesehatan, kriminalitas, dan akses pendidikan. Suatu ironi peradaban manusia di tengah gelimang perkembangan iptek yang ultra pesat.

Pada era kegagalan ini tidak semua yang kita anggap ‘sukses’ hidupnya bahagia. Bagaimana tidak, banyak kita temui fakta bahwa orang-orang yang sudah berada di puncak karir yang kemudian mengakhiri hidupnya dengan tragis. Tengok saja Whitney Houston, seorang penyanyi top era 90’an harus mengakhiri hidupnya dengan overdosis narkoba. Alan Turing, seorang pakar kriptanalis yang sukses mengurai kode Enigma buatan NAZI meninggal karena bunuh diri dengan racun. Aktor kawakan Hongkong, Leslie Cheung, bunuh diri dengan melompat dari lantai 24 Mandarin Oriental Hotel. Marilyn Monroe, artis terkenal Amerika tahun ’50an mengembuskan napas terakhir karena bunuh diri akibat depresi. Dan masih banyak lagi. Di tengah derap perkembangan iptek yang pesat, ternyata ummat manusia masih tinggal di dunia yang kualitasnya masih jauh dari harapan.

Mahasiswa tempat berharap

Tiada tempat bertumpu bagi suatu peradaban untuk masa depannya kecuali pada generasi mudanya, termasuk mahasiswa. Sayangnya, dunia pendidikan kita masih dihadapkan pada segudang permasalahan yang kompleks. Meski kualitas dan kuantitas pendidikan kita sedang digenjot, nyatanya output peserta didik kita masih jauh dari harapan. Anggaran pendidikan di negara kita mencapai 20% dari APBN, termasuk yang paling besar. Namun angka tersebut ternyata masih dirasa kecil oleh pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta Prof. Soedijarto. Menurutnya, angka ideal anggaran pendidikan adalah 36% dari APBN.

Terlepas anggarannya sudah ideal atau belum, nyatanya generasi muda kita masih minim akses pada perguruan tinggi. Hanya 23% lulusan SMA yang cukup beruntung yang bisa menikmati bangku kuliah. Angka angkatan kerja 10 tahun terakhir di Indonesia bahkan didominasi oleh lulusan SD, yakni sekitar 50% atau setengahnya!

Itu dari segi kuantitas, dari segi kualitas jelas mahasiswa kita masih dihadapkan pada mutu perguruan tinggi yang masih seadanya. Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengatakan bahwa 75% sekolah di Indonesia masih belum mencapai standar. Kemudian menurut The Learning Curve, Indonesia berada di peringkat 40 dari 40 negara yang diteliti, pada pemetaan kualitas pendidikan. Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012.

Kehadiran satu dua putra emas seperti Habibi, Ricky Elson, atau Khoirul Anwar memang bisa diacungi jempol. Namun iklim politik yang tak bersahabat kadang membuat kita geram. Inovasi-inovasi manusia berkualitas kita akhirnya harus kandas akibat ulah petualang demokrasi yang lebih memilih memperkaya diri dan golongan mereka dengan culas.

Namun kehadiran kaum terdidik di negeri kita masih digadang-gadang dapat memberi harapan bagi kebangkitan negeri. Menteri Pendidikan era SBY, Muhammad Nuh, mengusahakan agar jumlah angka lulusan SMA yang jadi mahasiswa mencapai 30%. Dari segi kualitas, dosen-dosen kini dihadiahi dengan berbagai macam beasiswa dalam dan luar negeri. Mahasiswa kita digenjot iklim berkaryanya dengan kegiatan dan lomba-lomba penelitian.

Mengokohkan Era Kegagalan

Era kegagalan sudah terlanjur terjadi. Generasi muda kita tidak bisa lagi melihat bahwa satu-satunya solusi adalah dimulai dengan memperbaiki kualitas pendidikan maupun iptek. Nyatanya, sudah banyak kisah pilu negeri ini ketika iptek harus dikalahkan oleh kebijakan oknum yang mengejar keuntungan pribadi.

Tentu kita mengenal kisah pesawat N250 yang digagas oleh salah satu putra terbaik bangsa, Pak Habibie.  Ide cerdas produksi pesawat yang diklaim hasil karya anak bangsa tersebut harus kandas di tengah krisis ekonomi yang membuat Indonesia menjadi pasien IMF. Proyek-proyek teknologi ditinjau ulang.  IPTN yang kemudian jadi PTDI dibiarkan bangkrut.  Ribuan karyawannnya dirumahkan, dan ratusan tenaga profesional yang dulu disekolahkan ke luar negeri dengan hutang Bank Dunia ramai-ramai hengkang ke Luar Negeri.  Lobi-lobi internasional membuat pesawat N250 tidak diberi sertifikat terbang oleh otoritas dunia, sehingga pemasarannya seret. Dari sini kita belajar bahwa kemajuan iptek memang harus dibarengi dengan sikap melek politik bahkan ideologi.

Di tambah lagi, iptek di tengah rimba kapitalisme saat ini hanya dijadikan alat jajahan baik secara militer, politik, bahkan ekonomi. Keberhasilan ilmuwan dan insinyur menciptakan teknologi senjata ternyata hanya dijadikan ‘alat perdamaian’ yang standarnya ditentukan oleh sebuah negara adidaya. Di sekitar kita, beredarnya mobil murah dari negeri Sakura adalah buah tangan iptek yang dipaksakan untuk jalan-jalan yang sudah sesak di kota-kota besar di Indonesia. Sumber daya alam negeri yang begitu melimpah akhirnya dikeruk habis-habisan oleh alat-alat berat yang semakin canggih dan masif ukurannya. Anak-anak kita sedang dikeroyok teknologi informasi di tengah abainya orang tua yang tersibukkan oleh sistem.

Berbagai solusi perbaikan kualitas pendidikan dan iptek negeri tidak bisa sendiri dalam menyelesaikan persoalan bangsa apalagi ummat manusia. Dibutuhkan sebuah mindset baru dalam mengelola peradaban yang tentu berimplikasi pada suatu penerapan sistem yang baru. Sistem yang menghendaki kebangkitan tidak hanya oleh dan sebagai satu bangsa saja, namun kebangkitan yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Maka mahasiswa harus memulai langkah kebangkitan dengan merenungi lagi apa yang sejatinya harus dikejar. Menjadi ahli teknologi saja tidak cukup untuk memperbaiki nasib 7 milyar penduduk bumi. Mari merenung, apakah kita hanya akan sekedar menjadi robot iptek atau menjadi agen perubahan dunia. Apakah hanya akan menjadi sekrup kapitalis atau menjadi pejuang revolusi ideologis. Apakah akan mengokohkan era kegagalan atau malah mengakhirinya. [tomas]

#Student4Khilafah 17-18 October

Sumber:

317 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 96 times, 1 visits today)