Melanjutkan Kehidupan Islam

Sudah sepatutnya kita senantiasa bersyukur atas setiap kesempatan baik termasuk kondisi yang penuh dengan nikmat kesehatan dan waktu luang, yang mana kedua kenikmatan ini adalah hal yang paling banyak menipu manusia. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih:

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi n bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Menjadi sangat urgen, karena setiap kenikmatan akan ditanyakan di akhirat kelak, untuk apa dimanfaatkan. sebagaimana dalam surat at-Takatsur

Allah SWT berfirman: Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat itu (TQS at-Takatsur [102]: 8).

Maka bergembiralah kawan-kawan sekalian yang menyibukkan dirinya dengan amal-amal yang diridhai oleh Allah. Menuntut ilmu, beribadah, meningkatkan ketaqwaan, dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. sebagaimana dalam surat al ‘Asr, dinyatakan bahwa seluruh manusia adalah berada dalam kondisi merugi. Semuanya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Dan hal itu, tidak dapat kita lakukan, apabila tidak ada bimbingan dan arahan dari sang juru selamat kita, panutan kita, teladan kita, dalam segala hal, yaitu nabiyullah Muhammad SAW. Beliau ialah teladan kita dalam segala hal. sebagai anak, sebagai pemuda, sebagai penggembala, sebagai pedagang, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai sahabat, sebagai tetangga, sebagai kepala negara, dan sebagai panglima perang. Maka pantaslah Allah azza wa jalla memerintahkan kita semua untuk banyak-banyak bershalawat sebagai wujud penghormatan kita kepada beliau. Suatu wujud apresiasi umatnya dari semenjak diutusnya beliau hingga hari ini. Yang membuat kita semua sebagai muslim memiliki referensi yang jelas dalam beramal dan menghadapi kehidupan agar sesuai dengan kehendak penciptanya manusia hingga meraih keridhaan yang diganjar dengan surga yang penuh kenikmatan, yang kenikmatannya tidak pernah terlintas di benak manusia manapun.

Namun celakanya, referensi yang jelas tersebut hari ini hanya kita temukan dalam buku-buku dan kisah-kisah yang diceritakan secara turun termurun. Kehidupan islami yang menjadi jalan untuk tercapainya ketaatan yang sempurna itu telah tiada semenjak dihapuskannya Daulah Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924 atau bertepatan dengan 28 Rajab, di Ibukota Khilafah yang terakhir di Istanbul, Turki. Semenjak itu maka umat Islam tidak lagi mempunyai pilar yang bertanggung jawab untuk mengamalkan Islam dalam sektor publik yang diejawantahkan dalam bentuk hukum formal. Semenjak itu pula umat Islam tidak lagi mempunyai pelindung. Umat Islam dipecah belah dari awalnya satu negara super Khilafah Islamiyah menjadi lebih dari 50 negara yang dikotak-kotakkan oleh negara-negara kafir penjajah untuk melemahkan kekuatan umat Islam, termasuk yang ada di Indonesia saat ini. Maka mulailah serangan pemikiran sekuler dan materialistik masuk ke seluruh sendi kehidupan umat Islam. Dan tidak sedikit yang tertipu dengan pemikiran sesat ini. Hingga menjadikan pemikiran tersebut sebagai asas untuk menjalankan kehidupan mereka, dan mencampakkan Islam hingga terpojok hanya di sudut-sudut mesjid-mesjid kampung.

Pemikiran sekuler dan materialisme menjadi dasar lahirnya paham kapitalisme dan sosialisme, yang keduanya bukan merupakan pemikiran yang Islami, telah membawa manusia pada arah kehidupan yang berorientasi duniawi. Jelas sangat jauh berbeda dengan Islam, yang mengarahkan manusia pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagi manusia yang tidak beriman dan tidak meyakini adanya hari pembalasan, tentu merasa bahwa jalan hidup yang tidak Islami inilah yang terbaik dan akan membawa mereka pada kebahagiaan. Parameter kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi menjadi indeks kesuksesan mereka. Bahkan sebagian umat Islam pun mempercayai hal tersebut hingga meninggalkan Islam.

Tidak ada yang menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang salah, hingga nampaklah kerusakan-kerusakan yang menunjukkan bahwa mereka berada pada jalan yang sesat dan salah arah. Alih-alih mengarah pada kejayaan dan kebahagiaan, jalan tersebut malah mengarahkan mereka pada kecelakaan yang tidak pernah mereka sadari. Ada banyak fakta yang bisa menjadi contoh, betapa jalan kehidupan di luar Islam begitu berbahaya, sekalipun sekilas tampak sangat menyenangkan:

1. Rusaknya sistem sosial.
Mari kita perhatikan dengan seksama. Contoh yang belum lama menjadi isu hangat di tengah masyarakat di Indonesia. Kabar merebaknya usaha kaum nabi Luth untuk melegalkan LGBT di tengah-tengah masyarakat, menjadi ujian konsistensi pemikiran sekuler. Doktrin dasar pemikiran ini yang mengharuskan pemisahan kehidupan agama dan dunia mengakibatkan penolakan dalam menjadikan hukum Islam untuk menilai benar dan salahnya LGBT ini. Selama tidak mengganggu kehidupan individu orang lain, maka seharusnya menurut mereka, LGBT haruslah tetap dilindungi dan diberi hak yang sama. Lihatlah kebingungan yang dialami oleh para pengambil kebijakan tersebut. Di satu sisi mereka menyadari bahwa pandangan menyimpang ini adalah berbahaya karena mengancam keberlangsungan keturunan dan jelas bertentangan dengan nilai moralitas. Sementara di satu sisi mereka juga sadar bahwa yang berlaku adalah pandangan sekuler. maka masuklah para pendukung sekulerisme ini ke dalam suatu kondisi sesat dan bingung untuk mengambil pendapat yang mana, tetap konsisten dengan doktrin sekuler atau mengikuti kata hati mereka.

2. Kriminalitas
Seringkali, pendapat untuk penerapan hukum jinayat Islam disanggah dengan argumen, “tidak sesuai dengan HAM, tidak berperikemanusiaan, barbar, dlsb.” Pendapat yang jelas sekali bertentangan dengan Islam, dan diyakini oleh para pendukung sekulerisme dan materialisme. Hingga muncullah fakta saat ini yang menunjukkan bahwa penjara di Indonesia sudah over capacity hingga 200%. Belum lagi ditambah dengan fakta banyaknya ketidakpuasan masyarakat terhadap vonis yang diberikan pada pelaku kasus pembunuhan. Hingga kenyataan yang harus kita terima meskipun pahit bahwa Indonesia sebagai negara terkorup di dunia. Fakta ini menunjukkan betapa hukum yang mereka terapkan tidak membawa pada penurunan angka kriminalitas, namun justru menambahnya hingga tidak mampu untuk menanggulanginya. Maksud hati ingin mengasihani sang pelaku, malah menambah jumlah korban hingga terus menerus bertambah.

3. Demokrasi
Contoh berikut ini, yang seringkali dijadikan dalih untuk menentang hukum Islam, ialah karena tidak sesuai demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Demokrasi menjadi barang dagangan para penjajah kepada penduduk pribumi agar mau menurut permainan yang sudah diatur sedemikian rupa, agar bertanding secara adil dalam tanda kutip. Demikianlah hingga sebagian umat Islam pun mengikuti permainan ini. Sebagian kalah dan mau tidak mau mengakui dengan pasrah kemenangan musuh-musuhnya. Sebagian lagi menang, namun dicurangi dengan kekuatan militer. Entah kenapa sebagian umat Islam masih mau bermain dengan permainan berat sebelah ini sampai sekarang. Demokrasi pun melahirkan suatu kondisi politik yang tidak pernah stabil, adanya oposisi, adanya prinsip suara mayoritas yang menjadi penentu standar kebenaran, menjadi cacat bawaan demokrasi. Lahirnya anarkisme hingga ancaman disintegrasi tidak ayal merupakan buah dari nilai-nilai demokrasi.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang dapat kita jadikan indikasi bahwa jalan sekulerisme dan materialisme ini ialah sebuah wrong way dalam suatu perjalanan. di awal persimpangan terlihat mudah, namun kita terkejut oleh twist yang menyulitkan kita di kemudian hari. Maka cukuplah kita merenungkan sabda Nabi kita yang mulia:

“Kamu benar-benar akan mengikuti cara-cara orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan sekalipun mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, (apakah mereka itu) orang Yahudi dan Nasrani (Kristen)?” Beliau bersabda: “Ya, siapa lagi?”

Kita akan dipaksa untuk terus mengikuti jalan kesesatan ini hingga masuk ke dalam lubang kehinaan sehina lubang biawak. Sehingga cukuplah kita berpegang kepada janji Rasulullah beberapa saat sebelum beliau wafat:

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Janji tidak akan tersesat di dunia akhirat. Tidak seperti yang terjadi saat ini, ketika dengan congkaknya manusia menentukan jalan hidupnya sendiri hingga menemui kehinaan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Wallahu a’lam.

(Visited 134 times, 1 visits today)