home Analisis, Opini, Pemikiran Memaknai Cinta Tanah Air

Memaknai Cinta Tanah Air

sumber: http://farrachman.files.wordpress.com/2011/11/suporter-timnas.jpg?resize=300%2C218

Sebagai manusia yang terlahir di suatu tempat, keterikatan batin kepada tempat asalnya tentu hal yang biasa muncul. Manusia senang mengasosiakan dirinya terhadap tempat dia dibesarkan. Kita biasa ‘sumringah’ bila misalnya tim nasional kita melaju ke babak final Sea Games, tim dari kampus kita memenangi Kontes Robot Nasional, atau yang dekat, misalnya ketika tim himpunan kita memenangi ajang pertandingan sepak bola se-kampus. Apapun luas cakupannya, apakah itu desa tempat kita dibesarkan, propinsi, negara, bahkan benua, kebanggaan pada tempat asal memang fitrah dalam diri manusia.

Kecintaan pada tempat asalnya ini akhirnya melahirkan sebuah landasan bagi seseorang untuk melakukan sebuah kebaikan. Apapun yang mendatangkan keuntungan bagi bangsanya akan dipandang sebagai sebuah kebaikan, sebaliknya, yang mendatangkan kerugian, maka akan dicap sebagai keburukan. Sebagai contoh misalnya bila kita lebih memilih produk dalam negeri dibanding luar negeri tanpa melihat kualitasnya.

Kecintaan pada tanah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan -apakah itu dalam lingkup negara, provinsi, kota, maupun desa- akhirnya melahirkan paham emosional yang sempit. Seseorang akan memaknai kebaikan hanya dalam konteks untung-rugi dalam pandangan bangsanya yang tidak didasari suatu landasan yang jelas. Paham ini pada akhirnya sama hakikatnya dengan fanatisme golongan yang dapat saja berbentuk fanatisme himpunan, fanatisme kota lahir, fanatisme klub bola, dan sebagainya. Hanya saja kita menamai fanatisme pada bangsa kita dengan nama “Nasionalisme”.

Cinta pada tanah air memang sesuatu yang melekat pada diri manusia. Namun ketika suatu kebaikan hanya disandarkan pada apa yang kita (sebagai manusia) anggap baik yaitu sesuatu mendatangkan keuntungan bagi bangsa kita, maka landasannya pun akan kacau, dan bisa jadi berbeda-beda bagi tiap individu. Tiap orang akan memakai standar yang berbeda dalam memaknai apa yang mendatangkan kebaikan bagi bangsanya. Dari sini kita dapat mengerti mengapa ada orang yang ‘tega’ menggadaikan kekayaan negeri kita dengan melegalkan eksploitasi asing masuk ke negeri kita, yang bisa jadi yang demikianlah yang mereka anggap yang terbaik bagi bangsa ini.

Rasa ingin membela tanah air ini juga biasanya akan hadir ketika ada serangan dari luar. Orang akan hadir rasa nasionalismenya ketika sedang berhadapan bangsa lain dalam peperangan militer, ketika ada penganiayaan warga negara Indonesia di negeri asing, atau ketika kebudayaan bangsa kita dicuri asing. Paham ini tidak melahirkan semangat membangun yang dinamis namun lebih tergantung konteks situasi tekanan dari luar yang sifatnya temporer.

Fanatisme golongan -apakah dalam konteks suku, desa, kota, negara, bahkan benua- hanya melahirkan semangat “kita-dan-mereka” yang sesaat dan bisa sewaktu-waktu berubah. Bagi bangsa Indonesia, identitas “kita” adalah orang yang berkebangsaan Indonesia, dan “mereka” adalah orang berkebangsaan lain. Namun identitas “kita” ini bisa saja diperluas tergantung situasi lawan. Misalnya ketika ajang Piala Dunia, salah satu wakil dari benua Asia melaju ke babak final dan berhadapan dengan wakil benua Eropa. Kemudian timbul rasa bahwa “kita” di sini adalah masyarakat benua Asia yang sedang berhadapan dengan masyarakat benua Eropa. Atau juga bisa dipersempit menjadi konteks kedaerahan. Ketika ajang PON misalnya, kita cenderung ‘menjagokan’ provinsi kita yang memang sedang berkompetisi dengan provinsi-provinsi lainnya. Dari sini kita mengerti bahwa paham kedaerahan, apakah itu nasionalisme, sukuisme, dan sebagainya, sejatinya bukan landasan yang tepat bagi perbuatan manusia.

Sebuah landasan baik dan buruk yang jelas akan terlahir bila kita mempunyai seperangkat konsep mengenai alam kehidupan. Aqidah Islam memberi jawaban bahwa manusia dicipta oleh Allah, manusia hidup hanya untuk menghamba pada Allah SWT, dan manusia nanti akan di-hisab oleh Allah. Standar sesuatu dikatakan baik dan buruk dalam Islam adalah apabila Allah telah menetapkan sesuatu tersebut apakah halal atau haram. Sesuatu dikatakan baik apabila sesuatu itu mendapat ridlo dari Allah SWT, dan sebaliknya sesuatu dikatakan buruk adalah apabila sesuatu tersebut mendatangkan murka Allah SWT.

Perjuangan membawa tanah air pada kebangkitan hanya dapat diwujudkan apabila kita memiliki landasan kebenaran yang jelas yang bersumber dari Dzat Yang Maha Benar, Allah SWT, bukan dari manusia yang sifatnya lemah dan terbatas. Landasan yang benar ini akan membawa kepada pandangan hidup yang benar sehingga akan menghasilkan seperangkat aturan yang benar yang memang akan menghasilkan kebangkitan.

Alhasil, sebuah gagasan yang tepat untuk membawa Indonesia pada kebangkitan hakiki hanya hadir ketika kita melandasinya dengan landasan yang jelas. Kecintaan pada tanah air tidak dapat diperjuangkan dengan slogan-slogan nasionalisme kosong yang sifatnya hanya emosional dan sesaat. Kecintaan untuk membawa Indonesia lebih baik itu hanya dapat diwujudkan dalam sebuah kerangka berpikir yang benar yang berlandaskan pada aqidah yang benar, yakni Islam yang merupakan rahmat bagi semesta alam. [tomas]

 

379 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 195 times, 1 visits today)