home Analisis, Opini, Pemikiran Memaknai Kebahagiaan

Memaknai Kebahagiaan

Sudah menjadi fitrah bagi manusia ketika hidup di dunia bahwa mereka menginginkan kebahagiaan. Bagi manusia, jalan menuju kebahagiaan bisa jadi bermacam-macam. Ada yang mencari kebahagiaan dengan jalan materi, mencari kekayaan sebanyak-banyaknya lalu menikmatinya. Ada yang hidup apa-adanya tanpa ada beban untuk mencari penghidupan yang layak. Ada yang bekerja keras menekuni bidangnya hingga memperoleh pengakuan. Pun juga ada yang menjadi ahli ibadah supaya dapat ketenangan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki kebutuhan jasmani yang wajib dipenuhi yang mengharuskan manusia bekerja mengejar materi agar dapat memenuhinya. Namun di satu sisi, manusia punya dorongan untuk memenuhi naluri-naluri yang ada dalam dirinya. Naluri-naluri tersebut bisa dibagi menjadi tiga: naluri melestarikan keturunan (seksual), naluri mempertahankan diri, dan naluri beragama. Bedanya, kebutuhan jasmani sifatnya mutlak harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka akan menimbulkan kerugian fisik. Sedangkan naluri sifatnya tidak harus dipenuhi. Ketika naluri tidak terpenuhi maka hanya akan menghasilkan kegelisahan.

Manifestasi naluri melestarikan keturunan/ seksual dapat berupa rasa suka manusia terhadap lawan jenis.  Naluri mempertahankan diri dapat berupa dorongan pada diri manusia untuk mengaktualisasikan dirinya, berusaha menjadi orang terpandang di masyarakat. Sedangkan naluri beragama mendorong sesorang untuk menyucikan sesuatu yang dia anggap memiliki kelebihan dibanding dirinya. Naluri-naluri pada diri manusia tersebut hanya hadir ketika ada rangsangan dari luar. Seseorang akan tertarik untuk berhubungan dengan lawan jenis hanya ketika ada pembangkit dari luar untuk mendorong hal itu, misalnya karena penglihatan, pertemuan, dan sebagainya.

Kebahagiaan manusia hanya hadir ketika dua macam dorongan dalam dirinya (kebutuhan jasmani dan naluri) terpenuhi. Manusia tidak mungkin melepas fitrah yang sudah melekat pada dirinya. Manusia sampai kapanpun pasti selalu butuh makan, dan sampai kapanpun punya dorongan untuk menikah, dorongan untuk mengaktualisasi diri, dan dorongan untuk menyembah sesuatu. Manusia tidak mungkin hanya mencari materi demi memuaskan jasmaninya, namun di satu sisi, kosong akan pemenuhan nalurinya. Pun juga mustahil bila sebaliknya.

Membatasi diri pada kebahagiaan materi jelas akan menimbulkan pertentangan. Kita telah mafhum bahwa orang dengan kekakayaan melimpah pun tidak ada jaminan meraih kebahagiaan. Pun juga sebaliknya, manusia tidak mungkin hidup hanya untuk mencinta seseorang saja, hanya belajar hingga tingkat tinggi, atau berdiam hanya di masjid mencari ketenangan. Manusia perlu memenuhi semuanya dengan porsi yang sesuai dengan fitrahnya berlandaskan tuntunan yang jelas.

Ummat muslim generasi Rasul dan Sahabat telah membuktikan bahwa peradaban unggul akan lahir ketika ummat Islam telah memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya dengan porsi yang benar. Sahabat selalu giat dalam bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya namun tidak lupa untuk memenuhi naluri seksualnya dengan menikah, memenuhi naluri bergama dengan banyak beribadah, mendakwahkan Islam, memenuhi naluri mempertahankan diri dengan belajar cara-cara berdagang, bahasa-bahasa asing, dan teknologi perang. Sahabat dan Rasul rela berlapar-lapar sampai pada batas tertentu namun di satu sisi mereka mengorbankan sebagian besar hartanya demi berjihad di jalan Allah. Semua dilandaskan pada kesadaran bahwa ada yang lebih utama, yakni tercapainya ridlo Allah SWT. Tujuan ini meniscayakan adanya peradaban unggul ala Islam yang akan menunaikan kewajiban untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Visi besar inilah yang membawa ummat pada peradaban yang dinamis dan selalu benar dalam memosisikan kebutuhan jasmani dan naluri mereka.

Pemosisian yang benar hanya akan muncul bila telah ada kesadaran pada manusia akan hubungannya dangan Allah SWT. Pandangan hidup inilah yang akan menempatkan pemenuhan kebutuhan jasmani dalam kerangka sarana untuk menjalankan ibadah yang berkualitas, pemenuhan naluri dalam rangka semangat meraih ridlo Allah SWT.

Namun adalah sebuah kemunduran berpikir bila ummat hanya mengejar “kebahagiaan ruhiah” tanpa ada usaha progresif untuk membangun peradaban besar Islam. Ummat tidak akan meraih kebahagiaan hakiki yang sesuai tuntunan Islam. Ummat akan ‘terlena’ dengan ajaran “tabah dan tawakkal”, namun di satu sisi melupakan kewajibannya untuk menjadi yang terbaik di antara ummat manusia yang lainnya yang menggiatkan amar ma’ruf nahi munkar bertaraf internasional.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah … “. (TQS Ali Imran: 110)

[tomas]

226 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 99 times, 1 visits today)