Mencari Normal Baru

Kita menghadapi dunia yang terasa baru, paling tidak empat bulan belakangan ini. Sekolah dan kuliah tak lagi sama: para murid belajar dari layar. Termasuk urusan nafkah, yang kondisinya tentu beragam –jika tidak dibilang menyedihkan. Jutaan orang di-offline-kan dari penghasilan rutinnya dan jutaan yang lain menutup lapak kecilnya masing-masing, sambil mencari alternatif lain. Kopi favorit kita kini sering hanya dinikmati sendiri, yang sebelumnya tiga hingga lima orang menemani.

Sejak hadirnya wabah Corona di Wuhan pada Januari 2020 dan mulai merebak ke berbagai belahan dunia satu bulan setelahnya, pemerintah kita cenderung nyantai. Menteri, mulai dari yang ngurusi kesehatan sampai hukum, menolak bahwa Corona sudah masuk Indonesia. Bahkan seorang menteri berkelakar, bahwa virus Corona ditangkal dengan ‘nasi kucing’. Namun belakangan terbukti bahwa aksi bantah-membantah tersebut terbantahkan –dengan diketahuinya Kasus Cianjur[1].

Kini kita kelabakan. Puluhan ribu telah terjangkit virus dan sistem kesehatan kita nampaknya hampir overloaded  – di Surabaya bahkan sudah angkat tangan. Ribuan tes Covid dilakukan tiap hari meski jumlahnya tidak konsisten. Pertambahan kasus menjadi liar tanpa dapat diketahui polanya. Di beberapa daerah, uji sampel menghadapi hambatan berarti[2]. Ratusan triliun, bersumber dari pusat dan daerah, digelontorkan buat penanganan. Namun ini jelas ‘ngeri-ngeri sedap’, mengingat di level akar rumput, kita tahu perangkat desa-kelurahan belum cukup bermutu dan bersih untuk menghandel dana-dana semacam itu. Sedangkan dana pemulihan pasca covid (Rp 600 an T), alokasinya juga kadang tidak nyambung dan tidak efektif, seperti dana talangan BUMN dan Kartu Pra-kerja.

Pemerintah nampaknya tidak bisa terus-terusan memelihara kedaruratan ini. Dalam waktu dekat akan dicanangkan sebuah pendekatan baru. Pendekatan yang tidak terlalu ngoyo, yang lebih damai dengan si virus. “Normal baru”, begitu pemerintah dan media massa kita menyebutnya. Maksudnya, adalah suatu kondisi yang agaknya bisa disebut sebagai “pasca Covid-19”, dimana aktifitas masyarakat dicoba untuk ‘normal’ kembali, namun dengan embel-embel tertentu. Mall, pasar, sekolah, kantor, dan hub transportasi akan kembali dibuka, namun dengan tetap memperhatikan protap kesehatan di masa wabah. Harapannya, ekonomi tetap bisa berputar setelah sebelumnya sempat terseok-seok. Bergeser dari “menyelamatkan nyawa” ke “menyelamatkan ekonomi”

Di beberapa bagian dunia, terlebih di negara maju, pelonggaran lockdown juga dilakukan. Bedanya, di sana punya sistem kesehatan yang lebih siap dan pandemi lebih terkendali. Di Indonesia, pinginnya serba loncat.

Soal kondisi pasca Covid, terlepas bagaimana babak-belurnya Indonesia, kita berharap dunia menjadi benar-benar baru dan bagus. Kita tidak bisa terus-terusan berhadapan dengan wajah dunia hari ini, dimana alam begitu sering marah dan bencana begitu kerap terjadi. Tiap harinya puluhan hektar hutan habis, diganti dengan ‘lahan produktif’ berupa pertanian dan tambang. Bumi digali untuk dikeruk sumber-sumber energi, yang pada gilirannya akan menambah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Dalam tatanan sosial, di kota-kota besar, orang-orang terjebak dalam ‘balapan tikus’. Suatu kondisi yang menyulitkan mereka untuk saling berbagi cerita satu sama lain, sulit untuk bergandengan tangan dalam rangka menghasilkan solusi bersama untuk bumi.

Untuk 100 ribu tahun, manusia telah mengekstrak energi dari hasil tangkapan hewan dan tumbuhan. Mereka kemudian beralih ke pertanian lalu peternakan. Memasuki era mesin uap, terima kasih pada kemajuan ilmu pengetahuan, manusia mulai menggunakan energi fosil. Hari ini, bauran energi dunia tetap didominasi oleh bahan bakar fosil (gas, minyak bumi, dan batu bara) angkanya mencapai 85% (Gambar 1). Meski proporsi energi terbarukan meningkat dari tahun ke tahun, angkanya masih terlalu mini untuk dibandingkan dengan energi fosil.

Gambar 1. Sumber: The Economist.

Harapan untuk melepas ketergantungan kepada energi fosil mungkin bisa muncul di era pandemi 2020 ini. Pada Maret, ketika dunia mulai panik menghadapi si virus, kondisi bumi perlahan ‘membaik’. Ada semacam berkah buat alam. Ribuan jadwal penerbangan dibatalkan, kendaraan darat dan laut juga banyak beristirahat. Aktifitas alat berat juga tidak nampak bergairah. Dampaknya, konsumsi energi umat manusia berkurang drastis. Pada minggu pertama April, emisi karbon dioksida dunia lebih kecil 17% dibanding tahun lalu. Perkiraan menyebut, tahun ini industri hanya mengebul gas rumah kaca 8% lebih kecil dibanding tahun lalu, progres terbaik sejak perang dunia kedua[3].

Usaha dekarbonisasi hari ini juga makin mendapat tempat di perusahaan-perusahaan minyak raksasa (Big Oil). Big Oil (biasanya beranggotakan Chevron, Exxonmobil, Shell, British Petroleum, dan Total) kini sedang berderap menerapkan teknologi hijau dalam aktifitasnya, disamping mulai mengembangkan energi terbarukan. Analis Goldman Sachs menyebutkan, pada 2030, perusahaan-perusahaan minyak raksasa tersebut akan menanggalkan gelarnya sebagai “perusahaan minyak”, berganti menjadi perusahaan energi yang lebih plural, yang juga menggarap ‘energi hijau’. Kondisi tersebut dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 23%, yang nampak cocok dengan Target Perkembangan Berkelanjutan yang di satu sisi masih menyediakan akses energi yang universal[4].

Namun otak-atik ekonomi tersebut tetap tidak membuat prospek pengurangan gas rumah kaca menjadi cerah. Dunia masih butuh 90% lagi usaha dekarbonisasi untuk bisa menyuksesi Kesepakatan Paris, yakni agar iklim hanya lebih hangat 1,5o C dari kondisi saat Revolusi Industri. Namun beberapa pakar berharap agar pandemi ini juga mendorong para penguasa untuk  lebih liar lagi menerapkan pentarifan karbon, yang pada gilirannya akan mengurangi keekonomian bisnis bahan bakar fosil. Kondisi tersebut dinilai sebuah momentum yang tepat, mengingat harga renewable, seperti energi angin dan surya, berhasil ditekan drastis dalam beberapa tahun terakhir[5].

Namun usaha menggarap tatanan dunia baru yang hijau tersebut juga masih perlu menghitung kerusakan ekosistem yang nampaknya masih sulit untuk direm. Meningkatnya kebutuhan manusia, semisal pemukiman, pakaian dan makanan, memaksa manusia untuk menjamah tempat-tempat yang lestari. Jutaan hektar lahan telah habis dibabat untuk dibuat hunian, kawasan industri, pembangkit listrik, bahkan rekreasi.

Pada Abad Pencerahan, manusia hanya menggarap 10 miliar hektar lahan, baik untuk perkotaan, pertanian, dan lahan gembala. Pada awal milenium tiga, angkanya sudah empat kali lipat lebih. Dari 4,88 miliar hektar, 99% nya adalah berupa lahan pertanian dan lahan gembala (Gambar 2). Pada 1 abad belakangan, terjadi perubahan lahan pada level yang di luar nalar.

Gambar 2. Sumber: Our World in data[6]

Peradaban konsumerisme lah yang paling bertanggungjawab dalam ekskalasi tersebut. Masyarakat terus didorong, lewat periklanan yang masif, untuk membeli baju lebih, makan,dan minum lebih, yang sering di luar kebutuhan. Ruang publik kita diisi dengan baliho dengan konten tawaran produk yang beragam dan seringkali baru, yang hampir selalu tidak kita butuhkan. Berbagai platform di telepon pintar kita juga makin liar didomplengi konten iklan. Gaya hidup penguasa dan selebriti, baik level lokal maupun nasional, juga mempertontonkan kemubadziran yang menyakitkan. Olahraga mahal, kapal pesiar, restoran dan menu mewah termasuk sumbangan besar dalam buang-buang energi. Sedangkan ribuan jadwal penerbangan dibuking hanya untuk “mempercantik wall instagram”. Kelab, hiburan malam, dan konser musik memakan ribuan watt tiap hari. Kompetisi olahraga, yang banyak dibumbui dengan ashobiyah, sangat lah masif memakan energi, dan juga sebenarnya dapat dipandang tidak perlu.

Lalu ada sebuah rasa bahwa usia barang yang ada di sekitar kita hari ini tidak seperti dulu lagi. Telepon genggam di akhir milenium kedua ternyata bisa masih bertahan hingga lebih dari 5 tahun. Sedangkan telepon genggam yang diproduksi tahun-tahun belakangan –yang kini bermetamorfosa menjadi “telepon pintar”- nasibnya berakhir di tukang servis atau pembuangan setelah pemakaian 2 atau 3 tahun. Tidak hanya perangkat kerasnya, perangkat lunaknya kini harus di-update tiap beberapa bulan agar tidak ketinggalan teknologi sistem operasi[7]. Barang-barang nampak diproduksi untuk bertahan sesaat yang memungkinkan perputaran uang dengan lebih cepat yang tentu bagus buat industriawan, namun sangat merusak bagi bumi.

Dan umat manusia kini menuai hasilnya. Bencana alam semakin tidak terprediksi dan intensitasnya semakin membahayakan. Soal pandemi hari ini, pakar menyebut bahwa manusia juga lah yang mesti bertanggungjawab. Dengan semakin banyaknya perubahan lahan dari kawasan alami menjadi kawasan terbangun, terjadilah kontak yang semakin masif antara manusia dengan hewan yang mungkin sekali membawa virus. Hewan liar yang hidup di tengah-tengah peradaban manusia adalah alasan di balik banyak penyakit. Hewan pengerat, kelelawar, primata, merupakan pembawa bagi sekitar 75% dari virus. Kelelawar ditengarai berperan sebagai jembatan bagi penyakit semacam Sars, Nipah, Marburg, dan Ebola. Menurut WHO, penyakit zoonotic adalah penyebab dibalik kematian 2 juta orang tiap tahun akibat Ebola, Mers, HIV, rabies dan lain-lain[8]. Hari ini, Covid-19 sudah menjangkit hampir 10 juta manusia dan menewaskan hampir ½ juta.

Kita perlu insyafi bahwa ekonomi berorientasi pertumbuhan (economic growth) telah gagal. Kita perlu menata ulang dunia. Dan tatanan dunia baru tersebut tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar. Pun tidak bisa diserahkan pada manusia-manusia jahil dan fasik, seperti yang dikhawatirkan oleh malaikat dalam Al-Baqarah ayat 30. Kita perlu dipimpin manusia-manusia yang berpengetahuan dan juga kaya hikmah, yang mengedepankan keberkahan dalam mengelola bumi.

Yang kita perlukan adalah khalifah yang mau merumat bumi menurut aturan Sang Pembuat Bumi. Khalifah yang meniru model kepemimpinan Nabi SAW. Kepemimpinan tersebut akan mengajak manusia untuk berpikir syar’i dan maju. Kepemimpinan yang tidak melulu berbicara soal pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana ‘mengelola bumi’ agar dapat dimanfaatkan sesuai tujuan penciptaan manusia. Sedangkan kepemimpinan tersebut memang pernah ada. Sebuah model kepimpinan Nabi dan Sahabat yang pernah berkuasa pada abad 7 hingga 15an, yang hari ini nampaknya semakin marak dibicarakan.

Kerugian akibat kerusakan bumi hari ini memang dirasa kecil dibanding kerugian akibat pandemi, namun dampaknya bisa begitu masif dan berlangsung hingga dalam jangka waktu yang sulit dibayangkan. Jika kita masih menganggap bahwa bumi bisa diselamatkan dengan cara-cara biasa, maka barangkali kita perlu perbanyak piknik. Kita perlu menjamah kajian-kajian Islam yang tidak hanya bicara soal “bagaimana wudhu yang benar” tapi juga soal “bagaimana peradaban manusia diperbaiki”. Dari situ, dengan Izin Allah SWT, sebuah “normal baru” akan bisa mulai digarap. Wallahua’lam. []

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

[1] https://www.suara.com/news/2020/03/28/155942/sempat-disebut-negatif-pasien-cianjur-harusnya-jadi-kasus-pertama-corona

[2] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52616740

[3]  The Economist, edisi May 23rd 2020

[4] The Goldman Sachs Group, Inc., RE-IMAGINING BIG OILS: How Energy Companies can successfully adapt to climate change. 2018.

[5] The Economist, edisi May 23rd 2020

[6] https://ourworldindata.org/land-use

[7] http://kampusislami.com/keusangan-terrencana/

[8] https://www.theguardian.com/environment/2020/apr/08/human-impact-on-wildlife-to-blame-for-spread-of-viruses-says-study-aoe

 

sumber featured images: nytimes.com

(Visited 53 times, 1 visits today)