home Analisis, Opini Menyoal Hari Kebangkitan Nasional

Menyoal Hari Kebangkitan Nasional

oleh : Dwi Sancahyo

judul asli : “Meluruskan Sejarah Kebangkitan Nasional”

Pada masa Kabinet Hatta tahun 1948, tanggal lahir organisasi Boedi Oetomo yang dicetuskan pada 20 Mei 1908 ditetapkan oleh Soekarno sebagai hari kebangkitan nasional. Penetapan itu dimaksudkan untuk membangkitkan perasaan nasionalisme dan patriotisme rakyat menghadapi situasi agresi militer Belanda I dan II juga dan upaya kudeta oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang kecewa dengan kegagalan diplomasi menghadapi Belanda. Pertanyaannya, mengapa harus Boedi Oetomo, yang saat ditetapkan sebagai momen kebangkitan nasional, organisasi tersebut telah mati? Tidak adakah peran organisasi lain yang lebih layak sebagai tonggak sejarah yang menghantarkan kemerdekaan bangsa ini?

Dalam historiografi nasional diklaim  bahwa pengaruh organisasi Boedi Oetomo ini begitu meluas sehingga mampu membangkitkan semangat nasionalisme bukan saja di Jawa, namun juga di Sumatera dan seluruh daerah Indonesia. Klaim tersebut bisa ditemukan hampir di semua diktat buku pelajaran sejarah nasional Indonesia dari berbagai macam penerbit.  Hingga pada akhirnya kita dibuat percaya dan mengakui bahwa tanggal dan bulan itulah yang paling tepat untuk memperingati bangkitnya Indonesia sekaligus awal mula perjuangan menuju kemerdekaan melewati jalur organisasi dan diplomasi.

Latar Belakang Sejarah Sarekat Islam

Kemenangan Angkatan Laut Jepang atas Rusia dalam pertempuran di Port Arthur pada tahun 1905 telah membangkitkan semangat dan harga diri bangsa-bangsa Timur.  Ternyata mereka  juga mampu melawan dan mengusir penjajah Eropa dari Asia. Momentum ini mendorong  seorang pemuda Lawean, Solo asal Klaten bernama Samanhudi untuk menyusun pergerakkan mengusir penjajah Belanda dari Nusantara. Akhirnya Samanhudi beserta ke delapan temannya yakni Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Harjosumarto, Sukir, dan Martodikoro mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 di rumahnya di kampung Sondakan kota Solo Jawa Tengah.[1]

Sarekat Dagang Islam lahir awalnya sebagai upaya untuk mengimbangi pedagang Cina pada masa itu. Perkumpulan ini berupaya mengumpulkan para pedagang batik pribumi dan arab di Surakarta. Persaingan dengan orang tionghoa semakin rumit dengan retaknya hubungan sosial diantara pribumi dan Cina di masyarakat. Sikap orang Cina yang menjadi arogan, akibat meningkatnya nasionalisme Cina. Mereka mengaitkan diri mereka dengan orang-orang Cina di tanah leluhur mereka dan sebagai bagian dari Cina raya di dunia.Hal ini mengakibatkan munculnya fundamentalisme dan rasa ekslusif serta agresif dari kalangan orang Cina di Jawa masa itu. Lahirnya Republik Tiongkok pada 1 Januari 1912 semakin menambah rasa percaya diri mereka. Berbagai perkumpulan eksklusif orang-orang Cina seperti Tiong Hoa Hwee Koan, yang mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Cina semakin memperbesar jurang yang ada. Di Hindia Belanda, mereka menuntut statusnya disamakan dengan orang eropa. Keretakan hubungan ini seringkali ditandai dengan bentrok antara penduduk pribumi dan Cina.[2]

Tahun 1909, H. Samanhoedi bertemu dengan Tirtoadisoerjo, seorang pelopor pers di tanah air yang juga memiliki organisasi Sarekat Dagang Islamijah di Batavia. Mereka kemudian menggabungkan kedua organisasi tersebut dan melebur menjadi Sarekat Dagang Islam. Tirtoadisoerjo yang juga memimpin surat kabarMedan Prijaji ditugaskan untuk mengenalkan Sarekat Dagang Islam melalui pers. Tahun 1911, ketika Sarekat Dagang Islam melebur, telah terasa kecondongan organisasi tersebut kearah persatuan. Hal ini dapat dilihat dari tujuan organisasi tersebut yang berupaya untuk membantu sesama muslim dan meningkatkan kesejahteraan pribumi.

Tahun 1912, organisasi ini semakin besar. Dengan 4.500 orang anggotanya, dalam beberapa kasus, anggota Sarekat Dagang Islam berkonflik dengan orang-orang Cina, sebagai bagian dari pembelaan terhadap sesama anggota SDI. Jumlah yang semakin membesar ini membuat pemerintah kolonial mencekal organisasi tersebut dan melarang mereka untuk mengadakan pertemuan. Di lain sisi, SDI terus membesar dan memperoleh pengikut di Surabaya. Di Surabaya inilah pada 11 Juni 1912  Sarekat Dagang Islam mengajak Oemar Said Tjokroaminoto dan Hasan Ali Surati untuk bergabung.

Terjepit oleh pencekalan dari pemerintah kolonial SDI akhirnya membentuk nama baru, yaitu Sarekat Islam (SI). Pada awalnya Belanda keberatan dan menolak kehadiran SI, tetapi kemudian diakui juga sebagai Badan Hukum pada 10 September 1912. Meski demikian anggota Sarekat Islam memandang 16 Oktober 1905 sebagai awal kelahirannya yang sejati. Dengan lahirnya Sarekat Islam, maka arah pergerakan di Hindia Belanda tak lagi sama. Sarekat Islam meroket dan merebut hati masyarakat pribumi ketika itu. Jumlah anggotanya meledak, Dari 35 ribu orang di Agustus 1914, pada tahun 1915, Sarekat Islam telah memiliki 490.120 anggota.

Pengakuan sebagai Badan Hukum belumlah berarti izin bagi gerakan politik SI, karena SI dianggap organisasi berbahaya.  Tetapi karena anggota SI mendesak terus dengan keras, maka pemerintah Belanda akhirnya memberi pengakuan dan izin sebagai gerakan politik yang bernama Central Sarekat Islam(CSI) pada 18 Maret 1916.[3] SI makin menampakkan jati dirinya sebagai partai politik Islam yang radikal, dinamis, dan progresif. Organisasi ini menjadi ujung tombak rakyat untuk menggulingkan pemerintah Kolonial Belanda. Simpati rakyat mengalir deras, sehingga pada tahun 1919, anggota Sarekat Islam telah mencapai 2 juta orang.[4]

Dalam kongres-kongres Sarekat Islam nampak semangat dan jiwa merdeka yang sangat kental. Pada Kongres nasional pertama SI di Bandung (1916),  HOS Tjokroaminoto menyatakan ideal hubungan Indonesia dengan Belanda sebagai berikut:

“Tidaklah layak Hindia –Belanda diperintah oleh Holand, Zoals een landheer zijn percelen beheert (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Tidaklah wajar untuk melihat Hindia Belanda sebagai sapi perahan yang diberikan makanan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya.  Keadaan yang sekarang yaitu negeri kita diperintah oleh suatu Staten-General yang begitu jauh tempatnya nun di sana…dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggung jawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri….Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa kita”.[5]

Nampak jelas perjuangan SI untuk membangkitkan semangat Kemerdekaan, dan bangkit berdiri sendiri tanpa terjajah Belanda. Sekaligus bukti sebagai pelopor kesadaran politik bangsa Indonesia. Dalam Kongres Nasional SI ke II yang diselenggarakan di Batavia (1917) melahirkan Program asas dan program Tandzim. Keterangan Asas (Pokok) mengemukakan kepercayaan Central Sarekat Islam bahwa:

“Agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat manusia…dan bahwasannya itulah sebaik-baiknya agama buat mendidik budi pekertinya rakyat…Partai juga memandang agama sebagai sebaik-baiknya daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya budi akal masing-masing orang itu ada bersama-sama budi pekerti….dan memperjuangkan agar tambah pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat…di atas jalannya pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya akan boleh mendapat kuasa pemerintah sendiri (Zelf bestuur).

Semakin jelas perjuangan SI, pada kongres nasional kedua di Batavia ini adalah cita cita Zelf bestuur (pemerintahan sendiri) dengan mengambil dasar Islam, sebagai agama mayoritas bangsa indonesia.

Lihat juga Program-Asas (Beginsel-program) dan Program-Pekerjaannya (Program van Actie) Sarekat Islam dalam Tafsir Asas dan Program Tandzim PSII. Dimana Program Tandhim Sarekat Islam (1917) meletakan kemerdekaan sebagai program perlawanan terhadap penjajah. Program tandhim SI itu adalah: (1) Persatuan Umat ke dalam dan antara, (2) Kemerdekaan Umat, (3) Sifat Pemerintahan, (4) Ekonomi Umat, (5) Kesamaan derajat, (6) Kemerdekaan Sejati.[6] Dalam Tafsir Program Asasnya, Sarekat Islam bertujuan:  “akan menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya kita mendapat suatu Dunia Islam yang sejati.”

Program Tandhim Sarekat Islam sering disingkat dikalangan Sarekat islam menjadi:

(1) Kemerdekaan Bangsa,

(2) Kemerdekaan Umat dan

(3) Kemerdekaan Sejati atau kemerdekaan dunia Islam.

 

Sejarah Boedi Oetomo

“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Perintis organisasi ini, menurut sejarawan M.C. Ricklefs (1994), adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917). Ia adalah seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden (yang sesudah tahun 1900 dinamakan Stovia). Ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899).  Dalam Anggaran Dasarnya pasal 2 disebutkan program utama organisasi BO adalah menggalang kerjasama untuk de harmonische ontwikkeling van land en volk van Java en Madura (memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.)

Dalam kongres BO di Jogjakarta, 11-12 Oktober 1909, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo memberikan usulan agar BO memperluas keanggotaan sehingga tidak hanya terbatas dari bangsawan Jawa semata, tetapi terbuka bagi semua “Anak Hindia” yang lahir, hidup dan akan mati di tanah Hindia. , Cipto Mangunkusumo juga mengusulkan agar BO dijadikan partai politik dengan beranggotakan masyarakat banyak yang bukan priyayi. Usulan tersebut ditolak oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat. Sikap yang Jawasentris dalam tubuh BO masih terlihat pada kongresnya di Bandung tahun 1915. Ketika itu, R. Sastrowidjono yang terpilih sebagai ketua meminta hadirin yang hadir untuk menyerukan Leve pulau Djawa, Leve bangsa Djawa, LeveBoedi Oetomo (Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo). Dalam kongres itu juga diputuskan bahwa BO berusaha untuk mengekalkan dan menguatkan agama Jawa, suatu ajaran yang berorientasi kejawen dan kebatinan dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Aktifitas yang digeluti oleh BO boleh disebut hanya berkutat di bidang pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan aktifitas politik tidak dilakukan sama sekali. Hal ini adalah keberhasilan politik etis yang diagendakan Belanda. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial. Tak heran sejak tahun 1909, BO sudah disahkan oleh Belanda. Bahkan, anggaran dasarnya pun berbahasa Belanda.

Menjadi anggota BO tidak mudah. Selain bangsawan dan ningrat keturunan Jawa dan Madura jangan harap bisa bergabung. Nuansa kesukuan sempit sangat kental terasa. Konsep persamaan derajat dan kesetaraan tidak dikenal dalam organisasi ini. Sistem pendidikan dan ekonomi yang dianut sejalan dengan kebijakan pemerintah kolonial pada masa itu. Terdapat tembok tebal yang memisahkan antara golongan bangsawan Jawa Madura dengan inlander biasa.

Lalu pantaskah gerakan semacam ini dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional? Entah kebangkitan apa yang dimaksud. Setiap tahun momentum kelahirannya selalu diperingati oleh bangsa kita. Seakan-akan bangsa ini mengkhianati cita-cita luhurnya.

Kritik Para Sejarawan Terhadap BO

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai bahwa BO tidak layak disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja” katanya. Dalam buku yang ditulisnya, “Seabad Kontroversi Sejarah“ Asvi sendiri menulis bahwa Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Seorang ahli sejarah, Vlekke, juga mengungkapkan bahwa BO digerakkan oleh para bupati yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintahan kolonial dibantu oleh kaum bangsawan Jawa dan pejabat pemerintah yang lain. Tentunya, para bupati dan bangsawan tersebut bersikap sangat loyal terhadap Belanda.[7]  Pernyataan KH Firdaus AN lebih keras lagi. Menurut mantan ketua majelis syuro Syarikat Islam ini, BO adalah antek-antek penjajah. Beliau memberi bukti-bukti kongkret di antaranya: BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan atas Indonesia. BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Selain itu, KH Firdaus AN memaparkan, “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, dan bagaimana memperbaiki nasib golongannya sendiri”.

Mengenai hubungan BO dengan Islam, KH Firdaus AN mengungapkan adanya indikasi kebencian terhadap Islam di kalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo. Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya. sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Sebagai upaya meluruskan sejarah, bagi KH Firdaus AN, seharusnya pemerintah mengusung spirit kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Sarekat Dagang Islam (SDI). Gerakan yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905 ini lebih membumi. SDI yang berganti nama menjadi sarekat Islam (SI) keanggotanya berasal dari beragam etnis, daerah, dan suku di seluruh Indonesia. Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh pelosok-pelosok desa.

Di berbagai daerah untuk tahun 1916 saja, SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.

Berbeda dengan BO yang tidak berani terjun ke dunia politik, akibat kebijakan politik etis Belanda saat itu. SI dengan gagah menekuni dunia politik dan berkonfrontasi langsung dengan penjajah. Belanda menganggap ini sebagai ancaman atas eksistensi mereka. Mengingat cakupan SI yang luas meliputi bidang keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan tentunya politik, akhirnya banyak anggota SI ditangkap, di buang ke Digul Irian Barat, atau dibunuh. Perlakuan yang tentu tidak sama dengan apa yang dirasakan anggota BO.  Inilah faktor utama yang membuat rakyat respek dan simpati pada perjuangan SI.

Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda. Islam juga diyakini bisa menjadi sarana pemersatu bangsa. bagaimanapun juga Islam mengakui plularitas. Islam mensejahterakan semua rakyat. Islam senantisa berpihak kepada yang lemah. Adanya faktor Islam inilah yang membuat SI lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat.

Kesimpulan

Bila kita turut mengkaji historiografi Indonesia, terkesan ada upaya-upaya sistematis yang dilakukan oleh pihak-pihak sekuler untuk mengebiri peran umat Islam. Padahal sumbangsih umat Islam dalam perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Indonesia tidak bisa dipungkiri. Proses deislamisasi tampak halus. Bagi umat Islam Indonesia yang tidak peka sejarah, tentu akan menerima begitu saja.

Mereka membesar-besarkan hari-hari dan tokoh-tokoh yang momen dan perannya tidak begitu dominan. Tokoh Kartini sebagai simbol perjuangan kaum wanita sehingga hari kelahirannya pun diperingati. Apa andil Kartini dalam perjuangan bila dibandingkan Cut Nyak Dien, Cut Mutia atau Dewi Sartika atau bahkan Laksamana Malahayati? Ki Hajar Dewantoro ditasbihkan sebagai Bapak Pendidikan berkat Taman Siswa yang didirikannya. Usaha beliau jelas kalah dibandingkan perjuangan KH Ahmad Dahlan di dunia pendidikan. Buktinya, saat ini Taman Siswa hampir punah dimakan sejarah. Sedangkan perguruan Muhammadiyah berkembang pesat merambah berbagai lini kehidupan.

Sejarah perjuangan bangsa ini sesungguhnya didominasi oleh perjuangan umat Islam. Tanpa menihilkan peran umat agama lainnya, umat Islam punya andil yang nyata dalam menggelorakan semangat persatuan. Umat Islam memilih berkronfontasi dengan penjajah daripada kooperatif dengan mereka. Umat ini tidak pernah menerima kedaulatan atas tanah airnya dicederai, harga dirinya diinjak-injak, dan haknya dirampas.

Bagi pemerhati dan pakar sejarah, ada beberapa isu penting dari sejarah negeri ini yang perlu diluruskan. Upaya pelurusan sejarah ini telah, sedang, dan akan terus bergulir. Ini penting dalam rangka mencerdaskan masyarakat dan mendudukkan perkara sesuai dengan hakikatnya. Harapannya agar kabut tebal yang menyelimuti isu-isu tersebut sedikit demi sedikit mulai hilang. Rahasia-rahasia di baliknya mulai terungkap. Kebenaraan terselubung akan muncul dan tampak jelas di depan mata.  Wallahu a’lam bishowab

[1] Hasil wawancara Tamar Djaja dengan H. Samanhudi pada 25 Juni 1955 di rumah Piatu Muslimin Jakarta. Hasil wawancara ini bisa dilihat dalam tulisan Tamardjaja dalam Daulah Islamiyah  edisi/no. 1, Jakarta,1957

[2] Jaylani, Timur. 1959. Sarekat Islam: Its Contribution to Indonesian Nationalism. Tesis tidak diterbitkan untuk Institute Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada.

[3] Korver, A.P.E. 1985. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil? Hal. 202-221. Jakarta: Grafitipers

[4] Rambe, Safrizal. 2008. Sarekat Islam: Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942. Jakarta: Yayasan Insan Cendikia.

[5] Noor, Deliar. “Gerakan Modern Islam Di Indonesia, 1900-1942”. Jakarta : Penerbit LP3ES

[6] Tafsir Program Thandhim dan tafsir  Asas P.S.I.I , hal 3 dan 4

[7]  Vlekke, Bernard H.M. 2010.  Nusantara Sejarah Indonesia hlm. 391. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia)

featured image: http://geospotter.org/

307 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 125 times, 1 visits today)