home Analisis, Opini, Pemikiran Menyoal Insiyur Indonesia di Ajang MEA

Menyoal Insiyur Indonesia di Ajang MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memang sudah di depan mata. Sejak dicanangkan pada awal 2015 dan akan mulai pada awal 2016, sekilas Indonesia masih perlu merekondisi beberapa aspek. Beberapa kalangan meragukan bahwa Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, apalagi Singapura dalam hal sumber daya manusia.

Ajang MEA bisa diibaratkan ring gulat. Dimana ada yang bisa menang dan yang kalah, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, tergantung kekuatan. Tetapi tingkat kompetisi tersebut bergantung pada besar-kecilnya pangsa pasar komoditas tertentu (bisa barang atau jasa) di negara tersebut. Jika pangsa pasar dalam negeri masih cukup besar, tentu tidak perlu ada kekhwatiran bagi pribumi untuk kalah bersaing dengan negara luar. MEA, selain membuka keran liberalisasi pada sektor pedagangan, juga liberalisasi pada sektor jasa. Termasuk jasa keinsinyuran profesional.

Masih Bersaing

Kerjasama ASEAN di sektor keinsinyuran diatur dalam ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Engineering Services yang diratifikasi di Kuala Lumpur, pada 9 December 2005. MRA tersebut mengatur badan-badan yang terkait dalam kerjasama ini, termasuk syarat-syarat bagaimana seorang insinyur bisa cari nafkah di negara lain. Insinyur yang telah memenuhi berbagai macam syarat, dan berhak bekerja di lingkaran ASEAN akan terdaftar sebagai ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE).

Jumlah insinyur Indonesia yang terdaftar sebagai ACPE adalah yang paling tinggi (http://acpecc.net/, 12/12/2015) di ASEAN, yakni berjumlah 486. Saingan berat seperti Singapore dan Malaysia, masing-masing hanya berjumlah 229 dan 207. Hal tersebut memang wajar, mengingat populasi Indonesia adalah terbesar ke-4 dunia.

Secara umum, jumlah insinyur yang dicetak oleh Indonesia per tahun memang yang paling tinggi di ASEAN. Menurut World Economic Forum 2015, Indonesia menempati ranking 6 dunia penghasil insinyur terbanyak, dengan perolehan 140 ribu insinyur per tahun (tanpa memasukkan India dan Tiongkok). Jumlah ini bersaing dengan Vietnam yang menghasilkan 100 ribu insinyur baru per tahun. Tetapi mengukur dengan jumlah kepala tentu kurang representatif. Untuk mengukur persaingan insinyur sebaiknya digunakan rasio per jumlah penduduk. Rasio insinyur per 1 juta penduduk Indonesia adalah 3076. Sedangkan Malaysia 3333, Thailand 4121, dan Vietnam 9037. Dari sini kita melihat bahwa angka insinyur kita per 1 juta penduduk memang kalah jauh dengan negara tetangga yang pernah dilanda perang saudara berkepanjangan, Vietnam.

Terlebih lagi, banyaknya insinyur ‘kelas ASEAN’ tersebut ternyata di satu sisi mengandung ironi. Pada 2013, pekerja lulusan universitas di Indonesia hanya berjumlah 7,57 juta orang atau 6,83% dari seluruh  pekerja Indonesia dan lulusan diploma sejumlah 2,92 juta orang (2,63%). Porsi terbesar angkatan kerja kita adalah lulusan SD, yakni sebesar 46,93%. Sedangkan Malaysia, pada 2012, sejumlah 24,37% angkatan kerjanya adalah lulusan universitas dan diploma. Sedangkan Singapura tenaga kerja lulusan kampusnya sejumlah 29,4%.

Itu dari segi kuantitas. Dari segi kualitas, bisa dikatakan masih bersaing. ITB sebagai the leading engineering school di Indonesia menempati urutan ke-35 sekolah teknik terbaik se-Asia. Di ASEAN, ITB unggul dari UTM (Malaysia) yang berada di peringkat 46 dan hanya kalah 2 peringkat dari Chulalongkorn University (Thailand). Sedangkan kampus dari negara outlier, Singapura, memang tidak perlu ditanya, NTU dan NUS masing-masing peringkat 7 dan 2 Asia (topuniversities.com, 29/5/2014). Tapi perlu dicatat, itu cuma kampus ITB, yang notabene jebolannya hanya sekitar 3000 orang per tahun, atau sekitar 7% dari populasi sarjana teknik Indonesia per tahun. Artinya, secara statistik, kualitas sarjana teknik kita memang masih belum merata.

Jumlah sarjana teknik kita sedang digenjot. Di luar Pulau Jawa, kini sedang dikembangkan beberapa sekolah teknik ‘remote’. Di Sumatera pada tahun 2013 berdiri Institut Teknologi Sumatera (ITERA), yang merupakan kampus binaan ITB. Sedangkan di Kalimantan, pada 2011 berdiri Institut Teknologi Sumatera (ITK) yang merupakan binaan ITS. Menteri Pendidikan kala itu, M. Nuh, bercita-cita agar di setiap pulau di Indonesia harus ada institut tekniknya. Harapannya, bangsa kita bisa menyambut era industri setelah kita terlambat sadar bahwa di sektor agraris kita babak belur.

Terlambat Industrialisasi

Bangsa yang terindusrialisasi cenderung menjadi bangsa yang lebih mandiri. Bangsa tersebut terdorong menguasai teknologi yang pada gilirannya akan menguasai persaingan barang manufaktur. Barang-barang industri jelas mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi dibanding barang mentah, baik produk pertanian maupun hasil tambang.

Betapa banyak negara yang tidak diberkahi sumber daya alam melimpah tetapi menjadi singa di kancah perdagangan internasional. Sebagai contoh, Korea Selatan yang pada tahun 1950an dilanda perang saudara. Pada tahun 1953, Jenderal Mac Arthur, panglima perang AS di Pasifik pernah bilang bahwa negeri gingseng tersebut tidak punya masa depan, walau 100 tahun dibangun sekalipun. Pada 1961 naiklah seorang Jenderal Park Chung-hee ke kursi kepresidenan yang dia peroleh berkat kudeta. Walau dianggap diktator, Park mengerti betul bagaimana memimpin negerinya dan bagaimana harus bedamai dengan alam Korsel yang 70% nya hanya tanah gersang. Dia menyadari, hanya gembleng-an pendidikan lah yang dapat menyelamatkan Korsel dari keterbelakangan. Tidak tanggung-tanggung, waktu itu 90% APBN Korsel dialokasikan untuk pendidikan.

Alhasil, Korsel pada 1970an berhasil membangun pabrik-pabrik baja yang menjadi basis negara industri. Tangan dingin Park juga tidak melupakan pembangunan pedesaan. Lebih dari 33 ribu desa dibangun infrastrukturnya dan diperbaiki taraf hidupnya. Biaya tersebut didapat Korsel dari pengiriman pasukan di perang proxy di Vietnam. Pada akhir tahun 1960 hingga 1990an, ekonomi Korsel tumbuh hingga 10% per tahun. Korsel termasuk negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi dengan duduk di peringkat 15. Hasil industrialisasi Korsel juga membawa mereka menjadi negara penghasil baja ke-4 dunia pada 2014. Beberapa industri tingkat tinggi Korsel di bidang mesin, alat berat, kendaraan, dan gadget juga tak kalah mendunia. Korsel kini menjadi negara terbesar ke-5 dalam perdagangan internasional.

Singapura mendirikan NUS dan NTU pada 1905 dan 1981. India pada kurun 1950 hingga 1961 mendirikan institut teknik besar-besaran di 5 kota: Bombay, Kharagpur, Kanpur, Madras, dan Delhi. Hinga 2015, India telah membangun 18 institut teknik berskala nasional. Korsel, India, dan Singapura adalah sedikit teladan dalam visi negara industri.

Di satu sisi, negeri ini sudah punya institut teknik warisan Belanda sejak 1920. Namun sejak merdeka, pertambahan jumlah kampus teknik di Indonesia tidak signifikan apalagi bisa menampung begitu banyak lulusan SMA. Berdirinya banyak BUMN yang menjadi tonggak industrialisasi pada Orde Lama dan Orde Baru juga tidak diimbangi dengan pemutakhiran teknologi hingga kini. Beberapa malah jatuh bangun bahkan gulung tikar akibat struktur pemodalannya cekak sehingga tidak sanggup bersaing dengan arus liberalisasi di era pasca Orba. Indonesia baru tahun kemarin punya UU keinsinyuran (UU no. 11 tahun 2014) untuk memberi payung hukum persiapan para insinyur mereka menghadapi persaingan global, khususnya MEA. Tenaga kerja yang bersinggungan dengan dunia keinsinyuran diharapkan mengurus Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI). Beberapa himpunan keprofesian juga ‘dipecut’ untuk mengakselerasi kesiapan dunia insinyur Indonesia. Indonesia memang terlambat mengindustrialisasi diri.

Perbaikan hakiki

Indonesia yang diberi keberlimpahan sumber daya alam justru menjadi negara “ala kadarnya” dan menjadi ‘korban’ pemasok sumber energi dan bahan baku murah untuk negara industri. Indonesia disebut-sebut masuk dalam “jebakan sumber daya alam”; selain dijarah sumber daya alamnya, dibodohkan secara sistemis, dan rakyatnya juga tidak merasa terpacu untuk beralih dari negara pemasok bahan mentah menjadi negara industri. Meski di kancah regional seperti ASEAN Indonesia mungkin masih cukup bersaing, namun untuk bisa secara dunia masih sulit dibayangkan.

Bagi negara yang punya visi besar atau negara ideologis memang bukan fitrahnya bersikap ‘kaget’ terhadap persaingan global. Uni Soviet yang berideologi komunis yang waktu itu vis a vis dengan negara kapitalis Amerika Serikat, keduanya adalah negara yang menguasai teknologi dan memimpin lingkaran perdagangan di kawasan masing-masing. Mereka terlibat dalam perang dingin, perang saling unggul teknologi untuk menunjukkan mana yang lebih layak memimpin dunia. Pun juga pernah ada negara Khilafah yang berideologi Islam yang juga aktif mengatur perdagangan di kawasannya dan ilmuwan-ilmuwannya adalah pemimpin teknologi mutakhir. Negara adidaya akan proaktif menginisiasi pertarungan global bukan malah reaktif.

Indonesia yang mengklaim menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan menjaga perdamaian dunia memang tidak pernah punya tafsir yang tegas. Akibatnya, negeri ini sudah lama menjadi ladang percobaan para petualang demokrasi yang berkuasa memperkaya diri. Upaya-upaya mewujudkan kemandirian teknologi juga sering dihambat oleh pihak asing. Tak heran jika banyak insinyur cemerlang Indonesia yang memilih mengabdi di negeri orang.

Alhasil, untuk memenangkan persaingan global memang tidak cukup menggembleng insinyur, ilmuwan, dan generasi muda, atau hanya terfokus pada sistem pendidikan saja. Sistem politik negeri ini masih belum ramah terhadap solusi-solusi parsial perbaikan sumber daya manusia. Negara pemenang harus punya visi besar. Visi tersebut haruslah dapat menginspirasi masyarakatnya untuk berkontribusi pada tingkat dunia dan memimpin persaingan global. Bukan menjadi negara ala kadarnya dengan visi abal-abal. [tomas]

Teknologi tanpa Islam akan menjajah.  Dan Islam yang menginspirasi dan memandu teknologi, akan membebaskan manusia dari penjajahan.

Referensi

http://www.topuniversities.com/university-rankings-articles/asian-university-rankings/top-universities-asia-engineering-technology-2014
http://www.forbes.com/sites/niallmccarthy/2015/06/09/the-countries-with-the-most-engineering-graduates-infographic/
http://kampusislami.com/masyarakat-ekonomi-asean-dan-permasalahannya-untuk-indonesia/
https://www.selasar.com/politik/rahasia-kemajuan-korea-selatan
https://en.wikipedia.org/wiki/Indian_Institutes_of_Technology
http://www.fahmiamhar.com/2013/08/kita-masih-dijajah.html

sumber gambar :
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bf/ITB_1.jpg
http://cdn.tmpo.co/data/2015/11/19/id_455985/455985_620.jpg

339 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 170 times, 1 visits today)