home Analisis, Opini Menyoal Propaganda

Menyoal Propaganda

Oleh  : Dwi Sancahyo

Bagi Barat, tidak ada lagi yang mengancam peradaban mereka kecuali kebangkitan Islam dan gerakan kaum Muslimin yang terdiri atas kaum fundamentalis yang tidak takut mati sekalipun tidak dipersenjatai peluru-peluru kendali.” – Adrian Hamilton, Observer, 17 Juni 1990 (dalam Romli, 2000).

Propaganda seringkali diasosiasikan dengan perang.  Tapi di zaman modern ini medan tempur tak lagi hanya berupa tanah lapang atau hutan belantara, tetapi juga media massa.  Pihak-pihak yang berseteru saling berebut pengaruh di media massa.  Tujuannya adalah mempengaruhi lawan politiknya dan masyarakat luas. Sekadar contoh bisa kita simak berita-berita agresi AS ke Irak. Sebelum agresi dilakukan, AS gencar mengopinikan bahwa Irak adalah negara yang berbahaya karena menyimpan senjata pemusnah massal.  Demi keselamatan umat manusia, senjata pemusnah massal itu harus dimusnahkan. Dengan alasan memaksa Irak menunjukkan tempat-tempat penimbunan senjata pemusnah massal, AS menginvasi Irak.  Di saat invasi sudah berjalan, media massa AS selalu menampilkan berita-berita tentang kegemilangan tentara AS sebagai headline.  Sementara kisah-kisah sadis tentara AS yang membunuhi anak-anak dan wanita tidak pernah dimuat.  Dari sini kita bisa melihat bagaimana AS melakukan propaganda untuk mencari dukungan atas serangan ke Irak.  Berikutnya, media massa AS melaporkan ‘misi pembebasan’ itu sedemikian rupa sehingga AS terlihat sebagai pahlawan.  Minimal di mata warganya sendiri.

Misi propagandis adalah mengubah opini, persepsi, emosi, sikap, dan perilaku kita.  Tujuannya tiada lain untuk mengajak kita mempercayai atau melakukan sesuatu yang normalnya tidak akan kita percayai atau lakukan.  Karena pesan-pesan propagandistik dirancang untuk menguntungkan seseorang yang ingin mengambil keuntungan dari kita, maka pesan-pesan itu dibungkus serapi mungkin sampai-sampai kita tidak sadar bahwa kita sudah termakan propaganda..  Mengidentifikasi ‘udang di balik propaganda’ jelas bukan perkara gampang.  Para perancang propaganda tahu betul bahwa kita tidak mau dipengaruhi begitu saja.  Oleh karena itu, mereka menjalankan propagandanya serapi mungkin, dan dengan menggunakan banyak cara sekaligus.

Karena itu pula kita harus memahami propaganda dari akar hingga buahnya.  Pemahaman yang sahih tentang propaganda, terutama teknik dan cara kerjanya, bisa memudahkan kita mengidentifikasi maksud-maksud terselubung di balik propaganda.  Dengan begitu, kita tak akan jadi korban propaganda.

Definisi Propaganda

Berikut ini adalah beberapa definisi propaganda yang dikemukakan oleh sejumlah pakar dan sumber.

  1. Encyclopedia International: ‘propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan’.
  2. Everyman’s Encyclopedia: ‘propaganda adalah suatu seni untuk penyebaran dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya suatu kepercayaan agama atau politik’.
  3. Qualter: ‘propaganda is the deliberate attempt by some individual or group to form, control or alter the attitudes of other groups by the use of the instruments of communication with the intention that in any given situation the reaction of those so influenced will be that desired by the propagandist (= propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa individu atau kelompok untuk membentuk, mengawasi atau mengubah sikap dari kelompok-kelompok lain dengan menggunakan media komunikasi dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang diinginkan oleh sang propagandis)’.
  4. Lindley Fraser: ‘propaganda may be defined as the activity, or the art, of inducing others to behave in a way which they would not behave in its absence (= propaganda dapat dirumuskan sebagai aktivitas atau seni mengajak atau menyebabkan orang lain berperilaku sedemikian rupa yang tidak akan dilakukan tanpa adanya propaganda tersebut)’.

Dari sekian definisi Sastropoetro menyimpulkan bahwa propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.

Unsur-unsur Propaganda

 Propagandis.  Propagandis adalah pihak atau pelaku yang secara sengaja melakukan penyebaran pesan dengan tujuan mengubah pola sikap dan pola pikir sasaran propaganda.  Propagandis bisa berupa individu, individu yang melembaga (institutionalized person), atau lembaga.  Adapun yang dimaksud dengan individu yang melembaga adalah seseorang yang ketika berpropaganda selalu mengatasnamakan atau dikaitkan dengan suatu lembaga.  Daya tarik propagandis akan dipengaruhi oleh status, kredibilitas dan daya tarik komunikatornya

 Pesan.  Pesan propagandistik adalah isi atau materi yang propagandis susun sedemikian rupa agar mampu mengubah pola pikir dan pola sikap reaktor.  Pesan ini disusun secara cermat dan matang agar reaktor dapat menerima pesan yang disampaikan sehingga pola sikap dan pola pikirnya sesuai dengan kehendak propagandis.

Media.  Untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, propagandis menggunakan berbagai sarana yang dipilih secara cermat agar sesuai dengan sasaran propaganda dan menimbulkan efek yang optimal.  Propaganda kontemporer menggunakan semua saluran komunikasi –interpersonal, organisasional, dan massal– seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, film, poster, kunjungan, dan sebagainya.

Reaktor.  Reaktor adalah pihak yang menjadi sasaran propagandis.  Reaktor inilah yang pola pikir dan pola sikapnya hendak diubah mengikuti kehendak propagandis.  Agar aktivitas propagandanya efektif, propagandis harus mengenal betul karakter reaktor.  Kumpulkan segala macam informasi mengenai reaktor; usianya, pekerjaannya, agamanya, tingkat pendidikannya, kebiasaannya, dan lain-lain.

Efek.  Efek adalah umpan balik yang dikehendaki oleh propagandis, berupa perubahan pola sikap dan pola pikir reaktor sesuai yang dikehendaki propagandis.

TEKNIK PROPAGANDA

Berikut ini adalah teknik-teknik propaganda yang dirumuskan oleh beberapa pakar.

 Name-Calling.

Secara harfiah kita mengartikannya teknik ini sebagai julukan-julukan yang buruk.  Teknik Name-Calling mengaitkan seseorang, atau suatu ide, dengan suatu simbol yang negatif.  Propagandis menggunakan teknik ini dengan harapan reaktor akan menolak orang atau ide tersebut berdasarkan simbol negatif yang melekat padanya dengan mengabaikan bukti yang tersedia.

Tipe Name-Calling yang paling kentara adalah julukan yang berkonotasi jelek, misalnya Misalnya sebutan radikal, teroris, fanatik, bar bar,  dan lain-lain.

Proses name calling terhadap ide syariah dan Negara Islam atau Khilafah makin menguat dan terbuka. Tidak hanya terjadi di negeri-negeri Barat yang menjadi sentral kendali Kapitalisme global, namun juga terjadi di negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Berikut sebagian fakta proses kriminalisasi tersebut yang tampak dilakukan secara sistematik.

Pertama: dalam jumpa pers di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (24/9), Kapolri Jenderal (Pol.) Bambang Hendarso Danuri menyatakan, “Aksi teroris yang dilakukan sejak tahun 2000 hingga kasus terakhir penembakan tiga polisi di Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut, tahun 2010 memiliki target mengambil alih kekuasaan negara untuk menegakkan Negara Islam” (Kompas, 25/9/2010).

Kapolri juga menambahkan bahwa para tersangka teroris menganggap harta hasil perampokan sebagai fai yang sah dan halal, karena harta tersebut didapat dari orang kafir.

Sebelumnya, Kapolri juga mengungkapkan bahwa rencana kelompok teroris yang berlatih di pegunungan di Aceh Besar digunakan untuk melancarkan aksi pembunuhan terhadap para pejabat negara saat upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2010. Ketika semua pejabat negara berhasil dibunuh, termasuk Presiden dan Wakil Presiden, kata Kapolri, kelompok teroris akan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (Kompas.com, 14/5/2010).

Hal ini yang kemudian menjadi alasan dan pembenaran atas tindakan aparat Densus 88 yang membabi-buta terhadap orang-orang yang disangka pelaku tindak pidana terorisme. Selama kurun waktu 2000-2010 saja, sebanyak 44 orang yang disangka teroris tewas ditembak aparat. Bahkan, Densus 88 secara arogan dan kasar menginjak-injak tubuh Khairil Ghazali yang sedang menunaikan shalat magrib saat Densus yang berjumlah sekitar 30 orang dan bersenjata lengkap menyerbu dan mendobrak rumahnya. Ghazali dituding sebagai bagian jaringan teroris yang melakukan perampokan Bank CIMB Niaga di Medan.

Kedua: Presiden SBY juga mengeluarkan pernyataan resmi yang mengaitkan kasus terorisme dengan pendirian Negara Islam. Dalam keterangan persnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Senin (17/5/2010), sebelum bertolak ke Singapura dan Malaysia, Presiden SBY menegaskan bahwa tujuan dari para teroris adalah mendirikan Negara Islam. Padahal, menurut SBY, perdebatan tentang pendirian Negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Menurut dia juga, aksi teroris telah bergeser dari target asing ke pemerintah dan menolak kehidupan berdemokrasi. Karena itu, menurut Presiden keinginan mendirikan Negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa diterima rakyat Indonesia.

Pernyataan Presiden ini sejalan dengan proyek kontra-terorisme yang berada di bawah Kementerian Koordinator Polhukam. Paradigma dasar yang dibangun pada proyek kontra-terorisme ini adalah mengaitkan terorisme dengan pemahaman agama yang dianggap radikal dan fundamentalis. Berdasarkan asumsi paradigma ini, mereka kemudian membangun strategi deradikalisasi agama (Islam). Misal, melalui pengarusutamaan tokoh-tokoh Islam moderat, penerbitan buku-buku Islam moderat, perubahan kurikulum pesantren atau sekolah. Islam moderat yang dimaksudkan adalah Islam yang bisa menerima ide-ide Barat seperti pluralisme, liberalisme, sekularisme dan demokrasi.

Ketiga: pada 27-28 Juli 2010 lalu, Pemerintah mengadakan Simposium Nasional yang bertema “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme”, di Hotel Le Meridien Jakarta.

Hasil rekomendasi simposium tersebut di antaranya adalah dukungan kepada Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) untuk memainkan peran selaku focal point serta koordinator pencegahan dan pemberantasan teror secara komprehensif. Pemerintah dianggap perlu mengamandemen UU Tindak Pidana Terorisme No. 15 Tahun 2003, terutama tentang kriminalisasi atau perluasan obyek hukum dan perbaikan mekanisme hukum acara, agar lebih mampu menggulung jaringan teroris sebelum beraksi.  Paska bom Thamrin Januari kemarin, usulan revisi UU ini  menjadi salah satu prioritas prolegnas DPR. Ini harus diwaspadai umat Islam.

Keempat: media juga turut memainkan perannya untuk menanamkan opini kepada publik bahwa pelaku terorisme adalah kaum Muslim. Salah satunya tampak dari pemberitaan Detik.com dengan judul, “Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad” . Detik.com (8/8) juga melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap Densus 88 karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas berisi tulisan Arab gundul, antara lain kumpulan fatwa Ibnu Taimiyah tentang jihad, hijrah dan dakwah. Tentu saja pemberitaan seperti ini sangat tendensius dan dapat menimbulkan citra negatif terhadap syariah Islam terutama Jihad.

Selama ini pemberitaan tentang terorisme lebih banyak datang dari Polri secara sepihak. Keterkaitan aksi terorisme dengan perampokan yang dianggap sebagai harta fa’i juga datang sepihak dari Polri, meskipun katanya berdasarkan keterangan pelaku yang ditangkap. Stasiun TVOne termasuk yang terdepan dalam memberitakan kasus terorisme seraya mengaitkannya dengan Islam dan kaum Muslim. Mereka biasanya mendatangkan para narasumber yang selama ini memang concern menuding Islam radikal berada di balik aksi-aksi terorisme.

Baru-baru ini  Metro TV juga menuai kecaman karena memasukkan ormas Islam terbesar di wilayah Indonesia Timur Wahdah  al Islamiyyah sebagai organisasi Teroris. Sebagai mantan wartawan & penulis Editorial Indonesia  (Metro TV) Edy A Effendi berkicau di twitternya bagaimana berita dimainkan.

Kelima: kriminalisasi terhadap syariah dan Khilafah juga gencar dipropagandakan oleh para pemimpin negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Baru-baru ini sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat mendesak pemerintah Obama untuk meninggalkan sikapnya bahwa Islam tidak terkait dengan terorisme dan menyatakan bahwa Muslim radikal menggunakan hukum Islam untuk menumbangkan Amerika Serikat (The Washington Times ,14/09/2010).

Pada 14/5/2010 lalu, mantan kepala staf Angkatan Darat Inggris, Jenderal Richard Dannat, dalam BBC’s Today Program, dengan sangat gamblang menyatakan bahwa perang di Afganistan adalah perang melawan Islam. Ketika ia ditanya tentang alasan pendudukan di Afganistan, dengan tegas ia menyatakan bahwa hal itu untuk mencegah agenda Islamis yang ingin menegakkan Khilafah Islam abad ke 14 dan 15, yang sekarang bergerak tumbuh dari Asia Selatan, Timur Tengah hingga Afrika Utara.

Sebelumnya, dalam wawancaranya dengan Radio BBC (05/01/2010), Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyerukan peningkatan intervensi Barat di Yaman. Ia menyerang tuntutan dunia Islam akan Khilafah sebagai ideologi pembunuh dan menganggapnya sebagai penyimpangan terhadap Islam.

Lalu pada Juli 2007, Menteri Pertahanan Inggris saat itu, Lord Wist, ketika menceritakan para pelaku yang berusaha meledakkan mobil di London, ia menyatakan, “Mereka adalah kaum rasis dan puritan. Mereka sedang mencari kekuatan. Mereka adalah orang-orang yang gila harta dan selalu berbicara tentang Khilafah.”

Mantan PM Inggris Tony Blair, di hadapan Konggres Partai Buruh, pernah menyatakan bahwa Islam adalah ideologi iblis (BBC News, 16/7/2005). Ia menjelaskan bahwa ciri-ciri ideologi iblis itu adalah ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariah Islam sebagai sumber hukum, menegakkan Khilafah serta menentang nilai-nilai liberal.

Perlu dipahami bahwa tegaknya Negara Islam, apalagi dalam wujud Negara Islam global Khilafah Islamiyah, sebenarnya sangat ditakuti oleh Barat. Sebab, tegaknya Khilafah akan menghentikan hegemoni Kapitalisme Barat yang telah terbukti gagal memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi dunia. Karena itu, tuntutan pelaksanaan syariah Islam secara kaaffah dalam format institusi Khilafah Islamiyah harus dapat dibaca sebagai wujud kepedulian terhadap problema dunia baik ekonomi, sosial, militer, hukum maupun politik yang mengalami krisis dan karut-marut akibat penerapan sistem Kapitalisme global.

Citra Khilafah Islam semakin terpuruk dengan berdirinya ISIS yang sangat merugikan umat Islam.  Siapa sebenarnya ISIS, dan apa tujuannya didirikan? Dalam satu konferensi pers membicarakan ISIS di awal Juli 2015, Obama terpeleset lidah mengatakan bahwa, “Kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” ISIL adalah sebutan lain dari ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.  Aktivis antiperang Ken Stone menyatakan pada media Iran Press TV, “ISIL adalah aset Amerika yang merupakan kuda troya bagi AS untuk mempertahankan keberadaan mereka di Irak dan untuk mengubah rezim di Suriah.”

Pemerintah AS juga memasukkan HAMAS sebagai organisasi teroris. Sebaliknya menutup mata bahkan mendukung Israel yang telah mengagresi Palestina dari tahun 1948. Negara yang tidak sejalan dengan AS di Timur Tengah dicap sebagai ‘negara militan’, sementara yang sejalan dengan arahan AS disebut ‘negara sahabat’ atau ‘negara moderat.

Di Indonesia, teknik name calling ini juga diberikan kepada Front Pembela Islam yang digelari preman bersorban. Hizbut Tahrir di Indonesia kenyang dengan ejekan sebagai gerakan trans nasional, anti NKRI, Neo Khawarij, Neo Muktazilah dan munafik karena menolak demokrasi sementara keleluasaan dakwahnya dianggap sebagai bentuk menikmati demokrasi. Pada saat musim pemilu atau pilkada, HTI kerap disebut pengkhianat karena tidak mau terlibat dalam pesta demokrasi.

Glittering Generality.

Secara naluriah, kita percaya dan ingin memperjuangkan ide yang memiliki kesan mendalam atau kata-kata yang kita anggap luhur dan bernilai, misalnya cinta, moral, baik, sejahtera, keibuan, kebapakan, sains, medis, kesehatan, membela kebenaran, melindungi wong cilik, dll. 

Glittering Generality, singkatnya, adalah kebalikan dari Name-Calling.  Name-Calling berupaya membuat sasaran propaganda membentuk penilaian untuk menolak dan mengutuk sesuatu atau seseorang dengan tanpa memeriksa bukti-bukti, sedangkan Glittering Generality berupaya membuat sasaran propaganda menyetujui dan menerima sesuatu atau seseorang dengan tanpa memeriksa bukti-bukti.  Contoh Glittering Generality adalah isu hak asasi manusia (HAM).  Ketika Barat, didalangi oleh AS, rajin berkampanye tentang isu perlindungan HAM, kita begitu terpukau oleh istilah itu sendiri.  Dan ini wajar saja, karena secara normal, siapa yang tidak setuju bahwa hak asasi manusia harus dilindungi?  Hanya saja, kita menjadi tidak cukup kritis untuk melihat bahwa isu HAM yang dilontarkan negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris, hanyalah tipu daya untuk melakukan tekanan politis terhadap negara yang didakwa melanggar HAM.  Pihak Baratlah yang menentukan mana peristiwa yang melanggar HAM dan mana yang tidak melanggar HAM, sesuai dengan kepentingannya.

Eufemisme.

Ketika para propagandis menggunakan simbol-simbol Glittering Generality dan Name-Calling, mereka berupaya menggugah reaktor dengan kata-kata yang gamblang dan sugestif secara emosional.  Akan tetapi, dalam situasi tertentu, para propagandis berupaya untuk menentramkan reaktor dalam rangka membuat realitas yang tidak menyenangkan menjadi lebih menyenangkan.  Ini dapat dicapai dengan menggunakan kata-kata yang lunak dan eufemistik.

Misalnya, hendak menyerang Irak, AS menyebut aksinya sebagai upaya membebaskan rakyat Irak dari rezim represif.  Ini dilakukan untuk meraih simpati rakyat Irak khususnya dan publik dunia pada umumnya. Dampak dari Perang tersebut 200.000 orang Irak meninggal dunia.  Bahkan hingga kini, setelah Saddam Husein digantung, AS masih mengangkangi wilayah dan kekayaan minyak Irak.  Kalaulah AS berniat baik menjatuhkan para diktator, mengapa  Asisi di Mesir, Pervesh Musharaf di Pakistan, Islam Karimov di Uzbekistan tidak diserang?

Testimonial.

Teknik Testimonial berisi perkataan seseorang atau lembaga yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau program/produk adalah baik atau buruk.  Contoh Metro TV dibully oleh netizen karena mengasosiasikan teroris dengan organisasi Islam.  Pada 5 September 2012 dalam suatu acara Dialog menghadirkan suatu hasil penelitian berikut narasumbernya, yakni Dosen Antropologi UIN Jakarta Prof. Dr. Bambang Pranowo dengan judul “Pola Rekrutmen Teroris Muda” dengan Catatan Kaki “Awas Generasi Baru Teroris!” menyebutkan:

  1. Sasarannya siswa SMP akhir dan SMA dari sekolah-sekolah umum
  2. Masuk melalui program ekstra kurikuler di masjid-masjid sekolah
  3. Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup, keadilan tidak seimbang
  4. Dijejali doktrin bahwa penguasa adalah toghut/kafir/musuh.

Disebutkan bahwa salah satu sumber munculnya teroris adalah masuk melalui kegiatan ekstrakurikuler di masjid.  Ini jelas-jelas merujuk pada kegiatan Rohani Islam (Rohis) dengan berbagai macam sebutannya. Kalau bukan Rohis, kira-kira ekstrakurikuler mana lagi yang ada di masjid sekolah? Apa Pramuka? PMR atau Klub Basket? Miris sekali jika media sebesar Metro TV bisa terjebak ke dalam fallacy of thinking.  Sampai kegiatan positif anak-anak setingkat SLTA yang menekuni ilmu agamanya pun diusik. Difitnah Seolah-olah Rohis-lah pusat inkubasi teroris. Pendapat Profesor ini dapat kita pahami jika melacak rekam jejak pemikirannya yang kerap menyerang Islam dan dikaitkan dengan Jaringan Islam Liberal.

Diharapkan sasaran mengerti tentang jaringan Jamaah Islamiyah atau jaringan Al Qaidah di Asia Tenggara, media massa Barat merujuk pada pendapat orang yang disebut ‘pakar teroris’ seperti Rohan Gunaratna atau Sydney Jones. Disebut ‘pakar’ antara lain karena melakukan studi tentang terorisme dan mengarang buku tentang terorisme.  Di sini tidak dipersoalkan, apakah buku yang dikarangnya atau penelitiannya memberikan bukti-bukti ilmiah atau tidak.  Demikian juga untuk menambah keyakinan pendengar tentang ‘pemahaman Islam’ yang benar –maksudnya yang sejalan dengan kepentingan Barat- Media massa Barat akan merujuk pada orang mereka yang digelari ‘pakar islam’ atau ‘cendekiawan muslim’.  Padahal yang dirujuk sering merupakan antek Barat yang dicangkokkan di tubuh umat.  Di sini Umat Islam penting untuk melihat argumentasi (maa qoola) bukan terpesona dengan gelar-gelarnya (man qoola).

Disamping itu, untuk menambah keyakinan sasaran, propagandis juga merujuk pada lembaga-lembaga swasta yang dikesankan independen.  Padahal, pada praktiknya, lembaga ini merupakan lembaga pesanan yang menjalankan proyek-proyek penelitian berskala besar dengan biaya pemerintah.  Banyak studi tentang Islam atau Timur Tengah yang disponsori pemerintah AS atau organisasi donor yang berafiliasi kepada pemerintah AS.  Lembaga-lembaga yang terkesan independen ini kemudian memperkuat (baca: membenarkan) pandangan/ langkah pemerintah AS dan mereka kemudian menjadi rujukan media massa.

Plainfolks.

Secara harfiah, plainfolks berarti merakyat.  Dengan menggunakan teknik plainfolks, pembicara berusaha meyakinkan reaktor bahwa mereka, dan ide mereka, sama dengan atau berasal dari ‘orang banyak’.

Setiap pelaku propaganda sadar bahwa masalah bertambah rumit jika ia tampak pada pendengarnya sebagai ‘orang asing’.  Karena itu, mereka berupaya mengidentifikasi diri sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup sasaran dengan menggunakan logat, aksen, dan ungkapan setempat.  Untuk itu, biasanya propagandis lebih suka menggunakan penduduk ‘pribumi’ untuk menyuarakan kepentingan mereka.  Cara yang paling efektif adalah merekayasa  seseorang untuk menjadi tokoh tersebut secara terus-menerus, atau dengan memberinya gelar/ penghargaan.  Tentu saja memberi kesan wah dan go internasional.  Jadi umat Islam justru harus waspada kalau ada calon tokoh atau tokoh yang idenya bertentangan dengan Islam bahkan menyerang Islam, namun mendapat banyak penghargaan dari Barat.

Bandwagon.

Secara harfiah, bandwagon berarti kereta musik, yaitu sejenis kendaraan yang mengangkut sekelompok pemusik lengkap dengan peralatannya, biasanya ada di karnaval.  Sebagai teknik propaganda, bandwagon mengajak reaktor untuk secara beramai-ramai menyetujui sesuatu dengan asumsi bahwa orang lain pun, dan orang lain itu banyak, telah menyetujuinya.

Teknik ini memanfaatkan keinginan pendengar ‘menjadi bagian’ atau ‘satu sikap’ dengan orang banyak.  Propaganda AS dan sekutunya menggunakan ungkapan ‘masyarakat internasional’, ‘sahabat-sahabat AS’, dsb.  Dengan teknik ini akan terbangun anggapan; siapa yang menentang atau minimal tidak ikut propaganda tersebut akan menjadi minoritas dan terkucil.

Teknik ini paling sering digunakan oleh AS dalam kampanye ‘Perang Melawan Terorisme’-nya saat ini.  AS dan sekutunya menyatakan bahwa terorisme adalah serangan terhadap dunia.  Sama halnya dengan ungkapan para penolak syariat Islam yang sering menggunakan ungkapan, ‘mayoritas umat Islam Indonesia adalah moderat’, ‘organisasi Islam mainstream di Indonesia menolak ide khilafah’, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya. Padahal, kebenaran tidaklah bergantung pada suara mayoritas.

Fear.

Ketika seorang propagandis memperingatkan anggota reaktornya bahwa bencana akan terjadi jika mereka tidak mengikuti arahan aksi tertentu, propagandis itu sedang menggunakan teknik yang membangkitkan rasa takut.  Dengan membangkitkan rasa takut reaktor, pengguna teknik ini berharap bisa mengarahkan dan mengerahkan massa dengan alasan untuk menghilangkan rasa takut.

Misalnya, Kasus penyerangan FPI terhadap Aliansi Kerukunan Berbangsa dan Beragama (AKBB), diduga diawali provokasi dari AKBB di Monas pada 1 Juni 2008.  Serangan tersebut berupa pemukulan dengan tongkat dan perampasan spanduk AKBB.  Tidak ada satupun korban meninggal, namun media berhari-hari berulang menayangkannya dengan bumbu pembahasan yang melebar pada ancaman terhadap disintegrasi bangsa, dll.

Peledakkan bom oleh para ‘teroris sebagian besar low explosive, sebagiannya high explosive, namun semua peristiwa itu high effect. Uniknya tuduhan teroris  itu akan otomatis diarahkan kepada muslim seperti kasus bom Thamrin Januari lalu.  Hanya 5 jam dari peristiwa tersebut, Polisi menyimpulkan pelakunya adalah ISIS.  Jika pelakunya dikemudian hari terbukti bukan muslim seperti kasus Timothy di AS dan Leopard Wisnu Kumala seorang katolik pelaku Bom Alam Sutra di Indonesia, penembakan polisi dan tentara oleh OPM di Papua maka istilah teroris menguap. Contoh untuk kasus bom Alam Sutra, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Tito Karnavian  menyatakan –sebagaimana dikutip BBC Indonesia (7/10/2015),” Pelaku tidak terkait sama sekali dalam jaringan teror yang sudah dipetakan oleh kepolisian selama ini, jadi pelaku tunggal dan motifnya bukan dalam rangka ideologi tetapi lebih banyak masalah ekonomi untuk melakukan pemerasan untuk mendapatkan uang.’ Dari pernyataan tersebut tampak, bahwa yang dipersoalkan terkait terorisme bukan ledakkan bomnya tapi ideologinya. Ideologi apa?

MEDIA PROPAGANDA

 Bentuk-Bentuk Media Propaganda:

  1. Media massa

Menurut Annabell Sreberny-Mohammadi, cara media menyeleksi dan menginterpretasikan peristiwa, apa yang menjadi fokus dan apa yang dihilangkan, akan membantu membangun opini publik.  Media massa terutama sekali membantu terciptanya stereotip.  Stereotip adalah penciptaan pandangan atau opini yang bias.

Hampir setiap media massa profesional mengklaim bahwa liputan yang mereka lakukan sudah objektif, benar, tidak bias, dan apa adanya.  Namun, klaim ini terbantah oleh kenyataan di lapangan.  Contoh paling mudah adalah pemberitaan media massa Barat ihwal orang-orang Arab atau Timur Tengah.

Media massa Barat, khususnya AS, seringkali menggambarkan orang-orang Arab secara negatif.  Orang-orang Arab dipandang sebagai teroris dan pembunuh berdarah dingin.  Koran-koran menggunakan kata-kata seperti ekstrimis, teroris, dan fanatis (dengan konotasi negatif) untuk menggambarkan orang Arab.

Mengidentifikasi orang Arab sebagai teroris berarti menjadikan orang Arab sebagai musuh.  Dalam penelitian yang dilakukan oleh L. John Martin (1985), kata “terorisme” digunakan oleh pers untuk menggambarkan peristiwa atau orang-orang yang tidak mereka sukai.  Namun demikian, ketika tindakan yang persis sama tapi dilakukan bukan oleh orang Arab, media dengan sangat hati-hati menggunakan kata-kata yang netral dan tidak bias.

Amerika Serikat sadar betul tentang pentingnya menguasai media massa.  Pada masa Eisenhower, AS membentuk United States Information Agency untuk melakukan fungsi propaganda.  Badan ini menjalankan program-program radio multibahasa seperti radio Voice of America (VOA), Radio Free Europe, televisi, film, dan media berita; serta program khusus seperti pertukaran mahasiswa dan sarjana, pidato keliling, konferensi-konferensi artistik dan ilmiah.

Pemerintah AS juga melakukan propaganda lewat media massa swasta yang mengklaim diri independen.  Dalam kasus terorisme, misalnya, sebagian besar media massa AS menggunakan pejabat pemerintah sebagai sumber-sumbernya.

AS memang leluasa menentukan realitas yang harus ditampilkan media massa karena banyak surat kabar, kantor berita, dan media lainnya yang dimiliki, disubsidi, dan dipengaruhi Amerika Serikat, terutama melalui tangan CIA (Ade Armando dalam Terorisme dan Konspirasi Anti Islam, hal. 78-79).

Selepas peristiwa Black September, pemerintahan Bush membuat jaringan penyiaran baru dalam rangka mengarahkan pesan-pesan AS kepada dunia muslim.  Dengan anggaran $US 30 milyar untuk tahun fiskal 2004 dan 2005, Departemen Luar Negeri AS dan pengelola program-program internasional bisa leluasa mempromosikan tujuan-tujuan kebijakan luar negeri AS dan mendukung sekutu-sekutu kunci.  Selain itu juga dialokasikan $US 1,3 milyar untuk meningkatkan penyiaran internasional, termasuk membangun Middle East Radio and Television Network.  Program ini tampaknya menjadi respon Washington atas Al-Jazeera, jaringan televisi berbahasa Arab yang berbasis di Qatar yang menarik perhatian dunia internasional dengan menyiarkan serangkaian pesan yang konon berasal dari Osama bin Laden, orang yang dituduh sebagai otak di balik serangan 11 September 2001.

Program itu mengudara selama 24 jam setiap harinya, terdiri atas gabungan program berita dan hiburan.  Menurut Henry Hyde, Ketua Komite Hubungan Internasional Senat AS, Jaringan baru ini akan memberi kontribusi banyak terhadap peningkatan upaya kita untuk memerangi misinformasi dan propaganda yang telah meningkatkan sentimen anti-Amerika di wilayah Timur Tengah).

Di Indoonesia, The Jakarta Post (TJP) juga patut mendapat perhatian tersendiri.  Koran berbahasa Inggris terbitan Jakarta itu pada 24 Agustus 2003 menurunkan berita berjudul Police to watch militants.  Di sana ditulis, “A number of districts in West Java, believed to be home to extremists advocating sharia (Islamic law), are now under tight surveillance to prevent the possibility of further terrorist attacks, says provincial police chief Insp. Gen. Dadang S. Garnida (= Kapolda Jabar, Injen. Dadang S. Garnida, mengatakan bahwa sejumlah daerah di Jawa Barat, yang dipercaya menjadi basis para ekstrimis yang menyerukan syariat Islam, kini berada dalam pengawasan ketat guna mencegah kemungkinan serangan teroris lebih jauh).”

Pada 28 Agustus 2003, TJP menurunkan berita berjudul ‘Pesantren’ nurtures militants.  Di sana ditulis, “Central Java Police Chief Insp. Gen. Didi Widayadi said on Tuesday that several pesantren (Islamic boarding schools) in the province were believed to be home to followers of militant group Jamaah Islamiyah (JI). Didi, nevertheless, refused to disclose the names of the pesantren due to technical reasons, but stressed that police would watch their activities closely (= Kapolda Jawa Tengah Injen. Pol. Didi Widayadi pada Selasa menyatakan bahwa sejumlah pesantren di Jawa Tengah dipercaya menjadi basis bagi pengikut kelompok militan Jamaah Islamiyah (JI).  Meskipun menolak memaparkan nama-nama pesantren tersebut dengan alasan teknis, tetapi Didi menegaskan bahwa polisi akan mengamati aktivitas mereka secara seksama).”

Dari kedua berita itu, kita bisa melihat bagaimana TJP secara tidak langsung membuat rumus militan = ekstrimis = vokalis syariat Islam = teroris.

  1. Film

Selain sebagai sarana hiburan, film juga dapat dijadikan media propaganda.  Film propaganda adalah suatu film, biasanya berjenis dokumenter, yang diproduksi untuk tujuan propaganda; yakni meyakinkan pemirsa tentang masalah politis tertentu.  Propaganda melalui film tidak terbatas dalam wujud film nonfiksi.

Tahun 2002, setahun pasca serangan terhadap menara WTC, Indonesia dibikin heboh oleh film iklan bertajuk Kesamaan Pandangan Kehidupan Muslim di Amerika.  Film iklan miniseri hasil garapan Lembaga Muslim Amerika untuk Persahabatan yang dibuat dengan dukungan penuh dari Departemen Luar Negeri AS itu terdiri atas lima episode singkat berkisah kehidupan muslim di AS.  Setelah diluncurkan pada 28 Oktober 2002 oleh Ralph L. Boyce, duta besar Amerika untuk Indonesia, iklan tersebut sempat wara-wiri di media massa kita sebelum muncul protes dari masyarakat.  Dalam iklan tersebut digambarkan lima sosok pemeluk Islam yang menjalani hidup di Amerika.

Di sana ada Abdul Raouf Tawfik Hammuda, seorang kelahiran Tripoli, Libya, yang berimigrasi ke Amerika empat belas tahun silam.  Saat iklan dibuat ia sedang menjabat Presiden Direktur Tiger Lebanese Bakery di Toledo, Ohio.  Dalam iklan itu, dengan tersenyum Hammuda berkata, ‘Saya menyukai keramahan dan perhatian yang ditunjukkan masyarakat Amerika kepada komunitas kami…’  Di layar kaca diperlihatkan bagaimana Hammuda sekeluarga bisa dengan bebas melakukan shalat berjamaah di lapangan rumput di dalam area sebuah taman rekreasi.

Juga ada Rawia Ismail, muslimah asal Beirut, Libanon.  Dia menjejakkan kakinya di Amerika dua belas tahun yang lalu. Dia tinggal di Toledo juga dan menjadi guru.  ‘Saya mengenakan jilbab di kelas tempat saya mengajar.  Tidak ada seorang anak pun di kelas saya yang berpikir bahwa hal ini merupakan sesuatu hal yang aneh.  Bahkan mereka dan orangtua mereka senang karena diperkenalkan kepada kebudayaan yang berbeda,” ujar Rawia.

Selain mereka, ada juga Farooq Mohammad, paramedis yang bertugas di City Fire Department.  Dia mengaku bahwa siapapun bisa memiliki keyakinan apa pun dan menjalankan keyakinan tersebut dengan bebas.  ‘Saya merasa rekan-rekan kerja saya menghormati agama dan pekerjaan saya,” demikian Mohammad mengisahkan pengalamannya.

Kemudian ada Dr Elias Zerhouni yang di iklan diperkenalkan sebagai Kepala Departemen Radiologi dan Executive Vice Dean di Fakultas Kedokteran.  Oleh George W. Bush, Zerhouni dinominasikan menjadi Director of the National Institutes of Health.

Terakhir, ada Devianti Febriani Faridz, sosok perempuan muda yang mengaku beragama Islam dan asli kelahiran Bandung, Indonesia.  Saat itu ia tengah berupaya mendapatkan gelar Master dalam Ilmu Jurnalistik Penyiaran di University of Missouri, Columbia.  Dalam iklan itu Devianti berkata, ‘Saya adalah anggota organisasi mahasiswa muslim di kampus ini.  Kami sangat aktif melakukan kegiatan sosial.  Kami juga bekerjasama dengan kelompok mahasiswa kampus lain, seperti Christian Student Association, untuk mengadakan acara dan pertemuan sosial gabungan.’

Pariwara itu sangat mengada-ada.  Bagaimana tidak?  Sejak peristiwa Black September 2001, media massa kita gencar memberitakan sejumlah peristiwa serangan terhadap warga muslim di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.  Rupanya, pemerintah AS berupaya menutup-nutupi peristiwa penyerangan terhadap warga muslim di Barat itu dengan cara menampilkan wajah Amerika yang “sangat bersahabat” terhadap kaum muslimin, melalui pariwara tadi.  Tak heran kalau orang awam pun serta-merta menuding iklan itu sebagai propaganda.

  1. Poster dan Selebaran

Poster dan selebaran biasanya digunakan oleh kelompok tertentu yang ada dalam masyarakat untuk mempengaruhi kebijakan publik pemerintahnya.  Ini sangat dimungkinkan mengingat iklim politik belum memberi peluang keterbukaan kompetisi sehat.

Bantuan Keuangan

 Sarana lain selain media massa, film, buku, poster, yang cukup sistematis menggiring instrumen suatu negara muslim terlibat dalam Propaganda menyerang Islam ini adalah bantuan keuangan dari Barat. There’s no such thing as a free lunch, demikian sebuah peribahasa bahasa Inggris.  Setiap bantuan keuangan atau ‘hibah’ itu tidak ada yang gratis begitu saja.  Harus selalu ada imbalannya.  Meskipun tidak selalu imbalan langsung.

Sejak peristiwa Black September, melalui kebijakan stick and carrot-nya AS membagi penduduk bumi menjadi dua katagori, yaitu pendukung AS dan pendukung teroris dengan satu pertanyaan: Apakah (negara) Anda berada di pihak AS atau di pihak teroris? Setiap negara yang berada di belakang AS akan diberi carrot, dalam bentuk bantuan dana atau segala macam kemudahan bekerja sama dengan AS; sedangkan yang di pihak teroris harus rela dicambuk oleh stick, yang bisa jadi berupa serangan militer seperti yang terjadi terhadap Afghanistan dan Irak, serta yang sangat mungkin terjadi terhadap negara-negara yang dianggap ‘Poros Setan’.

Indonesia adalah negara yang kebagian carrot.  Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dukungan Indonesia terhadap AS jelas membikin senang negara Paman Sam.  Oleh karena itu, wajar jika pemerintahan Bush menjanjikan bentuk perhatian yang lebih terhadap Indonesia (Republika, 20 September 2001).  Perhatian yang lebih tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk bantuan untuk pendidikan masyarakat sipil dalam bidang pertahanan melalui perluasan pelatihan dan pendidikan militer (E-IMET), sebesar US$ 400 juta (Republika, 21 September 2001).  Belum sebulan berita itu dirilis, muncul koreksi bahwa nilai bantuan itu US$ 400 ribu, bukan US$ 400 juta.  Padahal, nilai US$ 400 juta itu jelas-jelas tercantum dalam teks resmi Kantor Sekretaris Pers Gedung Putih per tanggal 19 September 2001 (Republika, 2 Oktober 2001).  Rupanya, perubahan itu terjadi menyusul kekecewaan AS terhadap kinerja kepolisian RI dalam mengamankan warga AS di sini.

Pada 26 Agustus 2004, Densus 88 didirikan dengan kekuatan 400 personel ditingkat pusat dan 45-75 orang di setiap Polda. Awal berdirinya pasukan khusus ini dibiayai pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Luar Negeri AS. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS.  Wakil KaDiv Humas Polri, Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana mengatakan Polri mendapatkan bantuan dari Luar Negeri untuk penanganan anti terror. “Bantuan itu berupa fasilitas pelatihan, peralatan.  Tidak ada berupa uang operasional.” Fasilitas itu berupa intercept/ alat penyadap dan pelatihan-pelatihan anti terror dari Australia dan Amerika Serikat, juga dari negara-negara luar. Yoga memperkirakan nilai bantuan bisa hingga miliaran rupiah.  Namun bantuan itu akan diperoleh lagi atau tidak bergantung pemerintah negara-negara tersebut.

Kembali pada peribahasa Inggris di atas, bahwa tidak ada makan siang gratis, maka kita bisa mengamati bagaimana tindakan Densus 88, BNPT, dan lain-lain dalam upaya pencegahan dan penindakan terorisme di Indonesia. Pengawasan terhadap ulama, masjid, rohis, buku-buku dan kurikulum keislaman, pemblokiran situs-situs media yang menyuarakan keislaman, penangkapan berulang terhadap tokoh sepuh ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan pengaitan terorisme dengan perjuangan ideologi Islam membantah ucapan normatif mereka, bahwa yang diperangi adalah kekerasannya bukan Islamnya.

ISLAM YANG DIINGINKAN BARAT

Karena tujuan propaganda Barat-Kapitalis itu adalah melenyapkan cahaya Islam, maka yang menjadi sasaran propagandanya meliputi setiap orang, tanpa memandang keyakinannya, profesinya, tempat tinggalnya, dan lain sebagainya.  Setiap orang, siapapun dia orangnya, harus menerima Islam yang diinterpretasikan Barat, yaitu Islam yang ‘damai’.  Islam yang ‘damai’ itu adalah Islam yang nonpolitik.

Interpretasi itu didasari oleh kekuatiran Barat terhadap potensi terpendam yang dimiliki Islam-politik.  Barat sadar betul, tidak ada satupun gerakan yang memiliki pengaruh terhadap realitas politik yang berkembang di masyarakat, selain gerakan yang bersifat politik.  Dan, tidak ada gagasan yang berdampak luas terhadap konstelasi politik internasional, selain gagasan Islam-politik.  Yang dimaksud gerakan politik di sini adalah gerakan yang menyoroti masalah-masalah politik, yaitu masalah-masalah umat dan berusaha menerapkan syariat Islam dalam konteks bernegara dan bermasyarakat.  Sementara Islam-politik adalah pemahaman tentang Islam sebagai suatu sistem hidup yang utuh.  Oleh karena itu, Barat berusaha sekuat tenaga untuk menyerang dan memerangi gagasan tentang politik dan gerakan politik dalam Islam, seraya memantapkan ide sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kancah kehidupan praktis.

Untuk itu, Barat tidak segan-segan mendukung gerakan dan gagasan Islam yang nonpolitik.  Tak heran kalau Barat sangat menyambut baik tumbuh suburnya gerakan dan gagasan Islam yang hanya seputar akhlak dan ibadah, kelompok-kelompok yang mementingkan dan menyucikan akidah an sich tanpa peduli masalah hukum.  Islam yang seperti itulah yang Barat ingini.  Karena Islam yang seperti itu tidak akan mengancam kepentingan Barat.

Misalnya dalam masalah kemiskinan.  Islam yang sekadar akhlak, ketika berbicara tentang kemiskinan, hanya mengatakan bahwa kemiskinan itu adalah ujian dari Allah swt.  Hikmahnya, kita harus mengencangkan ikat pinggang.  Harus lebih rajin berusaha.  Harus hemat.  Harus sabar.  Itu saja.  Sementara bagi Islam-politik, tidak.  Memang setiap kesulitan hidup adalah ujian.  Dan memang dalam menghadapi ujian kita harus sabar.  Tapi pada saat yang sama, kita harus melakukan tinjauan kritis terhadap masalah itu.  Dan, kemiskinan yang terjadi sebenarnya lebih tepat disebut pemiskinan.  Yaitu kemiskinan yang diakibatkan tidak diterapkannya syari’at Islam dalam masalah ekonomi.  Hukum ekonomi Islam tidak bisa berjalan sempurna kalau tidak ditopang oleh sistem politik Islam.   Sistem politik Islam tidak akan dipahami rakyat kalau rakyatnya tidak didik dengan syariat Islam.  Oleh karena itu, masyarakat harus diajak untuk mau menerapkan syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan.  Ingat, dalam Islam, orang miskin bisa sejahtera.  Inilah gagasan yang dilontarkan oleh Islam-politik dalam masalah kemiskinan.  Pemikiran semacam itulah yang akan membahayakan kepentingan Barat-Kapitalis.  Makanya harus dibungkam sebungkam-bungkamnya.  Lihat saja tayangan-tayangan keislaman di televisi.  Penuh oleh kajian-kajian seputar akidah, ibadah, dan terutama akhlak.  Tidak ada ruang bagi kajian-kajian Islam-politik.

Sebaliknya, Barat sangat suka dengan Islam yang damai.  Yaitu Islam yang diam ketika negeri-negeri Islam diserang.  Islam yang diam ketika hukum-hukum Islam digudangkan.  Islam yang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai pajangan dan perlombaan.  Islam yang seputar rajin ibadah dan perbagusan akhlak.

MELAWAN PROPAGANDA

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaun tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian lakukan (TQS al-Hujurat 6)”

 Sejarah propaganda AS di Timur Tengah pada masa Perang Dingin seharusnya membuat kita sebagai kaum Muslimin semakin buka-mata-buka-telinga.  Kita harus waspada.  Kita tidak boleh termakan propaganda Barat.  Memang mustahil menghindari serangan propaganda.  Propaganda Barat begitu beragam dan banyak yang tidak kentara.  Tapi menghindari pengaruh propaganda mereka tidaklah mustahil.  Atau, jika mampu, kita justru harus melawannya.  Upaya untuk menghindari pengaruh sekaligus melawan propaganda bisa dilakukan setidaknya oleh individu, kelompok, maupun negara.  Individu bisa memulainya dengan cara 1) bersikap selektif dalam mencerna berita, 2) senantiasa berpikir dalam konteks politik, dan 3) melakukan counter propaganda.  Individu atau kelompok juga dapat mengelola media-media yang bersifat sebagai pembanding.

Selektif dalam Mencerna Berita

Media propaganda yang kini paling laku adalah media massa.  Media massa bercita-cita menjadi lembaga yang melayani kebutuhan masyarakat akan informasi.  Melalui berita, artikel, dan jenis tulisan lainnya, media massa berupaya tampil netral dengan menyajikan berita secara objektif dan berimbang.

Akan tetapi, menurut Husaini (2002) berita yang disajikan oleh suatu institusi media massa, cetak maupun elektronik, bukanlah fakta yang sebenarnya.  Berita itu merupakan ‘fakta semu’ yang telah direkayasa oleh institusi penyiar berita tersebut.  Masyarakat, sebagai konsumen berita, menerima fakta bukan sebagaimana adanya, tetapi apa yang mereka anggap sebagai fakta.  Sehingga ada kesenjangan antara fakta sebenarnya dan ‘apa yang dianggap sebagai fakta’.

Ungkapan senada datang dari Mulyana (1999).  Mulyana melihat yang namanya berita yang objektif dalam pengertian murni atau mutlak itu tidak ada.  Tidak akan pernah ada.  Berita merupakan (re)konstruksi pikiran wartawan mengenai suatu peristiwa atau pernyataan yang telah lewat.  Pemberitaannya, terutama kalau tidak direkam atau dicek ulang, adalah semata-mata berdasarkan perspektif kewartawanannya, yang bisa berbeda dari perspektif seorang politisi, ilmuwan, pengusaha, atau orang awam mengenai hal yang sama. Oleh karena itu bias dalam pemberitaan adalah hal yang tak dapat dihindari.  Dalam konteks inilah, ideologi serta visi dan misi wartawan atau redaksi suatu media massa menjadi faktor yang amat menentukan.

Posisi vital dan krusial media massa membuatnya menjadi rebutan pihak-pihak yang ingin berkuasa.  Sayangnya, kantor berita dan media massa internasional hingga saat ini justru dikuasai oleh Barat-Kapitalis-Yahudi-Kristen (Arrifa’i, 1995).  Hal ini jelas memudahkan mereka untuk mempengaruhi dan menguasai masyarakat dunia melalui aneka ‘fakta semu’ yang mereka sodorkan.  Di sisi lain, kebutuhan akan informasi merupakan hal yang mutlak agar kita melek dengan urusan-urusan kemasyarakatan, nasional maupun internasional.

Karena itulah, ketika mengonsumsi berita kita harus selalu ingat firman Allah swt,

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaun tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian lakukan (QS al-Hujurat 6)”.

Ayat di atas memperingatkan orang-orang yang beriman agar berhati-hati ketika menerima berita dari orang yang fasik (lih Abdurrahman, 2002).  Dalam situasi seperti itu, orang-orang beriman seyogianya memeriksa kabar itu dan tidak menelannya mentah-mentah.  Orang yang fasik adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan.  Ia kerap melakukan dosa besar secara sengaja atau terus-terusan melakukan dosa kecil.  Nah, kalau terhadap berita yang dibawa oleh seorang Muslim (tapi fasik) saja kita harus mengeceknya, apalagi terhadap berita yang dibawa oleh non-Muslim.

Berpikir dalam Konteks Politik

Berita-berita yang dicerna harus senantiasa dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang melibatinya.  Di sini kita dituntut untuk mampu senantiasa berpikir dalam konteks politik.  Dengan kata lain, kita dituntut untuk mampu mencari keterkaitan antara kepingan-kepingan informasi yang ada.  Kita harus bisa melihat adanya keterjalinan antara satu peristiwa politik dan peristiwa politik yang lain.  Antara satu pernyataan politik dan pernyataan politik yang lain.  Atau antara satu peristiwa politik dan pernyataan politik.  Atau, kombinasi dari semua itu.  Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilah antara fakta dan opini.

Counter propaganda

Ketika kita telah memiliki kemampuan untuk menyeleksi informasi dan melakukan analisis politik terhadap rangkaian peristiwa dan pernyataan politik, dan setelah kita mampu menilai bahwa di balik itu semua ada propaganda musuh, kita bisa melakukan counter propaganda.

Counter propaganda bisa diartikan sebagai propaganda yang dilakukan dengan tujuan untuk melawan propaganda yang ada.  Mengingat propaganda umumnya dilakukan dengan cara memanipulasi fakta, maka counter propaganda berfungsi membeberkan fakta-fakta yang sebenarnya secara utuh apa-adanya.  Sejatinya, counter propaganda dilakukan oleh pihak-pihak yang dirugikan oleh propaganda sebelumnya.  Meskipun tidak selalu harus begitu.  Ada kalanya counter propaganda (secara kebetulan) dilakukan oleh pihak yang tidak dirugikan, tapi sekadar ingin ada pemberitaan yang benar-benar fair, objektif, dan berimbang.

Ketika umat Islam sangat terpojok oleh pemberitaan media massa dalam kasus Bom Bali, Dedi Junaedi (wartawan Republika) menulis sebuah buku yang berisi analisisnya terhadap kumpulan data dan informasi seputar peristiwa Bom Bali.  Dari hasil telaahnya itu, kita bisa melihat bahwa kemungkinan terbesar pelaku Bom Bali justru adalah pihak asing.  Atau, ‘orang lapangannya’ memang orang-orang Muslim yang bergiroh sangat tinggi tapi berilmu lumayan rendah sehingga mudah diperalat pihak asing untuk melakukan ‘jihad’.

Saat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir disudutkan oleh gencarnya pemberitaan yang mengaitkannya dengan terorisme, Idi Subandy Ibrahim dan Asep Syamsul M. Romli hadir dengan buku Kontroversi Ba’asyir: Jihad Melawan Opini “Fitnah” Global.  Di dalam bukunya, kedua penulis yang merupakan ahli komunikasi itu menyoroti peran media sekular dalam melakukan pencitraburukan terhadap Ba’asyir.  Sang Ustadz yang merupakan pejuang syari’at Islam sejati itu oleh media-media sekular justru digambarkan sebagai teroris.  Inilah yang kemudian coba diluruskan oleh Ibrahim dan Romli.  Mereka justru menilai bahwa upaya menciduk Ba’asyir itu merupakan bagian dari agenda besar musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam.

Dua buku di atas merupakan contoh counter propaganda yang dilakukan oleh pihak yang dirugikan, atau dalam hal ini, oleh sebagian dari pihak yang dirugikan.

Buku berjudul L’Effroyable Imposture karya Thierry Meyssan, seorang jurnalis dan aktivis yang giat melakukan advokasi hak-hak sipil di kancah nasional maupun internasional, merupakan contoh konkrit untuk counter propaganda yang dilakukan bukan oleh pihak yang dirugikan secara langsung.  Buku itu diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi 9/11 The Big Lie, yang lantas diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia oleh Setiadharma dengan judul Bohong Besar Amerika.  Selesai membaca buku itu, pembaca akan berkesimpulan bahwa serangan 11 September 2001 itu besar kemungkinan didalangi oleh unsur dari dalam AS sendiri.  Bukan oleh Osama bin Laden seperti yang dituduhkan pemerintahan Bush dan diamini media massa AS.  Hanya saja, siapa yang menjadi dalang sesungguhnya itu masih merupakan misteri.  Melihat latar belakangnya, Meyssan jelas tidak bernawaitu membela Islam.  Tapi buku yang ditulisnya itu telah menjungkirbalikkan seluruh versi resmi seputar serangan 11 September 2001.  Secara tidak langsung, upaya Meyssan dalam mengungkap, mengurai, dan menjalin fakta-fakta seputar peristiwa tersebut membantu menyeimbangkan opini yang sebelumnya sangat berat sebelah dan terkesan ditutuptutupi.

Media Pembanding

Kehadiran media massa yang pro-Islam juga dapat menghilangkan efek propaganda Barat.  Media massa Islam memang belum menggurita layaknya media massa sekular, dan tirasnya pun barangkali kalah telak, tapi dengan adanya sedikit perimbangan informasi dan opini, hal itu sudah membantu menghindari penyebarluasan informasi-informasi yang bersifat sepihak.  Media-media itu ada yang dikelola sebagai bagian dari wasilah dakwah sejumlah gerakan Islam, dan ada juga yang dikelola oleh swasta yang memang pro-Islam.

Sehubungan hal itu, kehadiran Buletin Al Islam, majalah SABILI, SAKSI, Al-Wa’ie, Tabloid Media Ummat dan semacamnya, tentu saja membantu mengurangi rasa dahaga umat akan informasi publik yang terpercaya.  Ditambah lagi dengan koran Republika, yang meskipun dari sisi opini masih banyak kekurangan, tapi dari segi penyajian berita sudah terlihat cenderung pro-Islam.  Dan bagi yang sering wara-wiri di dunia maya, kehadiran situs-situs semacam islamonline.net, khilafah.com, atau eramuslim.com untuk di Indonesia, pastinya membuat hati kaum Muslimin bisa bernafas agak lega.

Goliath Versus Goliath

Empat cara di atas merupakan upaya yang bersifat individual dan kelompok.  Hingga batas tertentu, memang cara-cara tersebut cukup ampuh untuk menjadi kekuatan pembanding.  Tapi ingat, propaganda yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dilakukan secara gotong-royong melibati semua unsur.  Dan itu ditulangpunggungi serta dikoordinir oleh negara adikuasa pengemban Kapitalisme, yakni AS.  Artinya, yang terjadi sebenarnya sudah bukan lagi kesalahan informasi yang manusiawi, melainkan yang memang disengaja. Untuk dapat menandingi opini dan propaganda Barat, kalaupun tak bisa mengalahkannya, maka harus ada counter opini dan counter propaganda yang dilakukan oleh institusi negara agar terjadi pertarungan antara Goliath vs Goliath, tidak David vs Goliath seperti yang kini terjadi.

Negara memiliki sarana dan prasarana yang lebih dari cukup untuk memelihara rakyatnya agar terhindar dari informasi-informasi bermuatan propaganda yang menyesatkan rakyat.  Pada saat yang sama, negara juga mampu memberikan Tapi, negara yang mampu melakukan hal itu adalah negara yang ideologis.  Dalam arti, negara tersebut memiliki suatu ideologi yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Sebagai negara ideologis, ia juga akan berusaha menyebarkan ideologinya ke negara lain dengan menggunakan sarana-sarana yang ada, termasuk media massa.  Sayangnya, saat ini umat Islam tidak memiliki negara yang seperti itu.  Kaum Muslimin yang kini hidup terkotak-kotak di pelbagai negara-bangsa tidak mampu melindungi diri mereka dari serangan propaganda musuh-musuh Islam.  Itu terjadi sejak runtuhnya Khilafah pada 1924.

Padahal, karakter Khilafah sebagai negara yang menaungi seluruh kaum muslimin sedunia, yang menerapkan hukum Islam dan mengemban Islam ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad, niscaya akan menjadi lawan setimpal bagi Barat.  Khilafah mampu terlibat dalam perang opini dan propaganda bahkan militer yang dilancarkan Barat.  Berbeda dengan Barat yang banyak melakukan manipulasi berita, misinformasi dan disinformasi, negara Khilafah justru akan menampilkan Islam dan kekufuran apa adanya pada saat yang bersamaan.  Dengan begitu kebenaran akan tampak.  Karena itulah, ketiadaan Khilafah jelas merupakan pukulan telak bagi kaum muslimin.

Menghadapi serbuan propaganda Barat, secara individual kaum Muslimin harus melek media dan politik.  Mereka harus senantiasa mencermati perkembangan yang terjadi di kancah politik, nasional maupun internasional.  Mereka juga harus mampu meningkatkan kualitas berpikir mereka agar memiliki kesadaran ideologis. Dengan begitu, mereka tidak terus-menerus hanya menjadi buih di tengah derasnya arus gelombang globalisasi.  Pada saat yang sama, secara berjamaah mereka harus tetap berdakwah, berjuang menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

Saat ini memang masih ada sebagian dari kaum Muslimin yang ‘lelap tertidur’.  Tapi, “Islam tidak akan membiarkan umatnya tertidur seperti tidurnya Ahlul Kahfi, sebab Islam adalah agama yang dinamis dan hidup.  Allah senantiasa mengutus individu, kelompok, institusi, atau gerakan yang akan membangunkan umat dari tidurnya dan menghidupkan gerakan Islam.  Selain itu, kebangkitan merupakan naluri umat Islam” (Qaradhawi, 1993: 5). []

 

Maraji’ :

Arrifa’i, Fuad bin Sayyid Abdurrahman.  1995.  Yahudi dalam Organisasi dan Informasi (diterjemahkan oleh H. Moh. Hamdan Usman Abu Fa’iz).  Jakarta: Gema Insani Press.

Effendy, Onong Uchjana. 2000.  Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Husaini, Adian.  2002.  Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra.  Jakarta: Gema Insani Press.

Ibrahim, Idi Subandy & Romli, Asep Syamsul M.  2003.  Kontroversi Ba’asyir: Jihad Melawan “Fitnah” Global. Bandung: Nuansa.

Junaedi, Dedi.  2003.  Konspirasi di Balik Bom Bali: Skenario Membungkam Gerakan Islam.  Jakarta: Bina Wawasan Press.

Meyssan, Thierry.  2003.  Bohong Besar Amerika (diterjemahkan oleh Setiadharma).  Bandung: Jalan Lurus.

Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nimmo, Dan. tt. Political Communication and Public Opinion in America. Goodyear Publishing Co. (terjemahan Indonesia: Komunikasi Politik – Komunikator, Pesan, dan Media oleh Tjun Surjaman. 2000. Bandung: Remaja Rosdakarya).

Nurudin. 2001. Komunikasi Propaganda. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Romli, Asep Syamsul M.  2000.  Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam.  Jakarta: Gema Insani Press.

Sastropoetro, Achmad Santoso. 1991. Propaganda: Salah Satu Bentuk Komunikasi Massa. Bandung: Alumni.

Sunario, Astrid S. Susanto. Teori Laswell yang Terlupakan. dalam Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. Vol. V/Oktober 2000.  Industri Pers dan Prospek Kebabasannya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Malaky, Ekky.  Dakwah, Film Dokumenter, dan Kesadaran, dalam SAKSI, No. 5 Tahun V 26 Nopember 2002.

Sabili, No. 11 Th. X 12 Desember 2002/7 Syawal 1423 H.

Sabili, No. 11 Th. XI 18 Desember 2003/24 Syawal 1424 H.

Sabili, No. 13 Th. XI 15 Januari 2004/23 Dzulhijjah 1424 H.

Sabili, No. 15 Th. XI 13 Februari 2004/22 Dzulhijjah 1424 H.

Sabili, No. 2 Th. XI 14 Agustus 2003/15 Jumadil Akhir 1424 H.

Sabili, No. 7 Th. X 23 Oktober 2003/27 Syaban 1424 H.

 

Makalah asli : “Mengupas Propaganda Barat Menyerang Islam”

featured image: http://www.skrewdriver.net/stranger1.gif

content image : http://www.globalresearch.ca/wp-content/uploads/2014/03/warmedia.bmp

 

 

9,858 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 369 times, 1 visits today)