Ospek Ala Rasul SAW

Setiap entitas masyarakat, himpunan, atau organisasi akan terjamin eksistensinya bila didukung dengan seperangkat sistem kaderisasi. Keberadaannya merupakan tuntutan logis dari sebuah kelompok yang memiliki visi besar, karena visi tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya generasi penerus yang telah tertanam nilai-nilai organisasi.

Di dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, kaderisasi dikenal dengan nama “Ospek” yang biasa dijalani peserta didik baru (PDB) atau freshmen ketika masuk SMP, SMA, atau perguruan tinggi. Di SMP dan SMA, Ospek diharapkan dapat memberi pencerdasan kepada PDB tentang lingkungan sekolah hingga motivasi untuk menjadi siswa berprestasi. Di lingkungan kampus, misalnya BEM atau himpunan jurusan, ospek mengusahakan agar mahasiswa baru dapat mengenal lingkungan kampus hingga menguasai seluk beluk dan nilai-nilai dari himpunan/ BEM.

Namun kita dihadapkan dengan kontroversi seputar “perpeloncoan” dalam Ospek yang kerap menimbulkan korban jiwa. Dalam 15 tahun terakhir, ada 10 jiwa melayang diduga akibat plonco saat menjalani Ospek (okezone.com 4/8/2015). Di pihak yang pro, Ospek semacam itu akan mengasah jiwa para freshmen, memantapkan solidaritas antar sesama, dan menguatkan kesan. Sedang pihak kontra berpendapat bahwa itu tidak ada kaitannya dengan proses belajar mengajar, terlebih saat melihat fakta di negeri luar bahwa pendidikan berkualitas ternyata tidak dibarengi dengan Ospek ala ‘barbar’. Sedangkan dalam bentuk paling ‘halus’nya, Ospek sering dibumbui dengan tugas-tugas yang aneh-aneh yang begitu membebani peserta didik baru.

Teladan kita, Rasulullah SAW, telah mencontohkan pada ummatnya sebuah model kaderisasi terbaik (meski waktu itu belum dikenal Ospek). Rasul memiliki sebuah gerbong dakwah yang didukung sahabat-sahabat yang begitu loyal bahkan siap mati membelanya. Gerbong dakwah ala Rasul tersebut setidaknya memegang dua prinsip, yakni taqwa dan taktis. Taqwa artinya mengharuskan sahabat-sahabatnya memiliki ketaatan hanya pada Allah dan Rasul-Nya saja. Dari sini akan lahir bahwa benar dan salahnya perjuangan hanya dinilai dari ridho Allah, bukan yang lain, apakah itu manfaat dari harta, takhta, atau wanita. Alhasil gerbong dakwah tersebut tidak perlu mengadakan semacam intimidasi atau pemaksaan nilai-nilai pada juniornya, cukup dengan didikan untuk takut pada larangan Allah SWT.

Sedangkan prinsip taktis adalah adanya keharusan sebuah profesionalisme, yakni tahu cara menghubungkan sebab dengan akibat. Kelompok dakwah Rasul sadar, bahwa untuk menegakkan sebuah Daulah Islam, dibutuhkan proses politik seperti layaknya mengupayakan syarat-syarat berdirnya sebuah negara. Rasul mencetak kader-kader dakwah dengan ideologi Islam, yang dengan kader dakwah tersebut mereka berinteraksi dengan masyarakat untuk melakukan pertarungan pemikiran dan perjuangan politik. Rasul mengirim duta-duta dakwah untuk tidak hanya menyampaikan Islam, namun juga agar yang diseru itu mau mengerahkan pengorbanannya untuk tegaknya Daulah Islam.

Kelompok dakwah Rasul ini mendapat keberhasilan demi keberhasilan. Mulai dari tegaknya Daulah Islam di Madinah hingga meluasnya kekuasaan Islam sampai ke seluruh Jazirah Arab dalam kurang dari 10 tahun. Bisa dibilang ini adalah ajaran yang paling cepat penyebarannya di muka bumi.

Keberhasilan kaderisasi ala Rasul tersebut ternyata diadopsi oleh generasi sesudahnya, namun dalam  cakupan yang lebih luas, yakni Daulah Islam. Tercatat pada masa Khilafah Umayyah (661 hingga 750 M) wilayah Islam sudah tersebar hingga Asia Tengah, Afrika Utara, hingga Eropa bahkan China. Solidnya kekuatan muslim tersebut tentu buah dari kaderisasi yang berbasis ideologi Islam.

Pada saat penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, pemimpin penaklukkan tersebut, Muhammad Al Fatih (Mehmed II), adalah seorang pemimpin yang sudah dikader sejak usia dini. Al Fatih muda adalah seorang hafidz yang digembleng dengan ilmu hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, hingga taktik peperangan.

Kaderisasi ala Rasul tersebut menempatkan manusia sesuai dengan fitrahnya. Konsepnya, haruslah jelas dulu apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia beserta kaitannya dengan kehidupan setelah dunia (after life). Jawaban pertanyaan besar tersebut akan mengantarkan manusia pada seperangkat ajaran yang akan membekas dan sandaran yang awet sifatnya. Sehingga dalam konteks kaderisasi, tidak akan ada intimidasi yang sifatnya hanya menimbulkan efek patuh yang sementara. Kaderisasi Islam yang ideologis akan membawa pada kesadaran seluruh pihak bahwa berorganisasi adalah sebuah aqad antar manusia yang di akhirat nanti akan ditanyai pertanggungjawabannya. [tomas]

featured image: upload.wikimedia.org

(Visited 297 times, 1 visits today)