Pengungsi di Masa Daulah Islam

Sekarang, ketika Timur Tengah pasca perjanjian Sykes-Picot, perbatasan antar negara tidak hanya menjadi sangkar yang memisahkan ummat muslim dengan garis-garis semu, tetapi juga menjadikan mereka sebagai orang asing dan enggan diterima oleh satu dengan yang lainnya. Kasus tersebut tidak pernah terjadi pada masa setelah penegakan Daulah Islam oleh Nabi SAW yang menghapus batas-batas negara pada era modern ini, yang membolehkan masyarakatnya dengan bebas mencari penghidupan dan tempat tinggal. Mereka yang tinggal di luar Daulah juga diperbolehkan untuk migrasi ke dalamnya.

Nilai-nilai Islam, tidak seperti nilai-nilai Inggris (Barat), tidak terpengaruh iklim politik. Sekarang ini ketika kita melihat dua prinsip Inggris, yakni “rule of law” dan “the opposition to capital punishment” menjadi sia-sia di tangan serangan yang dipimpin oleh Cameron.

Kita akan menengok tiga contoh sejarah bagaimana kaum muslim melayani para pengungsi sebagai pelaksanaan ajaran Islam.

Migrasi dari Mekah ke Madinah

Ketika muslim Mekkah hijrah ke Madinah untuk membantu penegakan Daulah Islam yang pertama, kebanyakan dari mereka datang dengan tangan kosong kecuali pakaian yang mereka bawa. Setelah mengalami penganiayaan keras oleh Quraisy Mekkah, mereka tidak bisa membawa banyak barang. Cinta dan kemurahan hati para kaum Anshar Madinah kepada para Muhajirin kemudian masih menjadi contoh sepanjang waktu.

Nabi SAW memasang-masangkan kaum Muhajirin dengan Ansar dan menjadikan mereka saudara. Mereka membagikan rumah-rumah dan kesejahteraan hidup pada kaum Muhajirin. Dari sini muncullah ikatan kuat dan solusi terhadap kebutuhan rumah dan kebutuhan lainnya para Muhajirin.

Abdurrahman RA dipasangakan dengan Sa’ad Bin ar-Rabi’ah RA oleh Nabi SAW. Sa’ad yang dengan murah hatinya menyambut Muhajirin berkata pada Abdurrahman: “Saudaraku, diantara orang-orang Madinah, akulah yang paling memiliki banyak harta. Aku memiliki dua kebun dan dua istri. Pilihlah kebun mana yang kau sukai dan aku akan mengosongkannya untukmu dan pilihlah salah satu dari istriku yang menyenangkan dirimu dan aku akan menceraikannya untukmu.” Ini adalah hasil dari persaudaraan dan cinta yang muncul dalam hati para laki-laki dan wanita karena Islam.

Pengungsi karena Kelaparan

Kita sudah sering dengar tentang cerita seorang wanita yang berpura-pura memasak untuk mendiamkan anaknya yang menangis kelaparan di suatu malam. Khalifah ummat Muslim waktu itu, Umar RA, sering patroli di Madinah pada waktu malam. Pada suatu saat beliau tertarik oleh api yang terlihat olehnya dan datang mendengar anak kecil yang menangis. Ibu dan keluarga itu migrasi ke Madinah ketika kelaparan hebat melanda kampungnya. Meski ibu itu tidak memiliki makanan, dia berpura-pura memasak untuk menenangkan anaknya yang kelaparan.  Umar RA kemudian kembali ke Baitul Mal (kas negara) dan mengambil bahan makanan, kemudian memasaknya dan memberinya ke anak tersebut, dan beliau pun pergi setelah mereka dalam keadaan senang.

Dari sini kita belajar bahwa:

  1. Para imigran yang masuk ke Madinah yang mencari makanan tidak dipulangkan kembali, namun mereka diberi tempat tinggal di Madinah.
  2. Orang-orang yang kelaparan diberi makan oleh Baitul Maal. Umar RA sangat mengerti kewajiban untuk melayani mereka dari Baitul Maal dan ini bukan sekedar tindakan bakti sosial.

Pengungsi Yahudi dari Spanyol

Banyak orang telah menulis tentang Yahudi yang diusir oleh para Kristen dari Spanyol. Meski mereka bukan Muslim, para Khalifah Muslim memberikan mereka tempat tinggal di dalam Daulah Islam.

Sebagai kelanjutan Dekrit Alhambra, pengusiran Yahudi dari Spanyol pada 31 Juli 1492, Sultan Bayezid II mengirimkan pasukan angkatan laut Utsmani dibawah komando Laksamana Kemal Reis ke Spanyol untuk menyelamatkan Yahudi yang diusir. Dia mengumumkan ke seluruh teritorial yang dia pimpin, bahwa semua pengungsi akan ditampung. Dia memberikan izin pada para pengungsi izin tinggal di Khilafah Utsamani dan menjadi warga negara. Dia mencela tindakan Ferdinand II of Aragon dan Isabella 1 of Castile yang mengusir penduduknya “Kalian berani menyebut Ferdinand sebagai pemimpin yang bijaksana”, katanya pada penghuni istananya – “dia yang telah memiskinkan negaranya dan memperkaya kami!”. Bayezid membuat dekrit kepada seluruh gubernurnya di provinsi-provinsi Eropa, berpesan kepada mereka agar tidak mengusir pengungsi dari Spanyol, dan juga agar memberi mereka sambutan hangat. Dia mengancam hukuman mati kepada seluruh orang yang mengancam para Yahudi dengan keras atau menolak mereka dari negeri Muslim.

Islam memiliki sebuah sejarah yang membanggakan tentang bagaimana menerima pengungsi apakah mereka muslim maupun non-muslim. Itu semua adalah nilai-nilai yang diabadikan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang mana sudah ditinggalkan pasca era Sykes-Picot dalam kelanjutan musnahnya Daulah Khilafah Utsamni. Saudara sesama muslim saat ini menjadi asing di negerinya sendiri dan pagar-pagar telah berdiri di sekitar negara-negara yang berbasis kesukuan yang menyedihkan untuk menjaganya dari yang lain.

Semoga pertolongan Allah segera datang untuk membebaskan mereka yang tertindas dan menderita, Aamiin.

 

disadur dari: http://www.hizb.org.uk/current-affairs/refugees-in-islamic-history

sumber gambar: arrahmah.com

(Visited 151 times, 1 visits today)