Penjelasan (singkat) Akar Masalah Umat

Sebenarnya permasalahan umat Islam kini sangat banyak. Beberapa mengatakan bahwa masalah-masalah itu diantaranya: kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan teknologi, rendahnya kesehatan, hingga penindasan yang terjadi seperti di Palestina. Namun kalau kita renungkan, semua masalah itu hanya terjadi ketika mereka masih hidup di dunia saja. Setelah mati, maka semuanya akan selesai. Maka masalah umat manakah yang benar-benar “masalah”?

Permasalahan umat, karena konteksnya umat, maka mau tidak mau harus ditinjau dari sudut pandang Islam. Umat yang bermasalah berarti umat yang mundur. Dan mundur dan majunya umat hanya ditakar dari tingkat ketaqwaannya.

Qualitas ummat terbaik adalah ditemui pada generasi Nabi, generasi  sesudahnya (Tabiin) dan generasi sesudahnya lagi (Tabiit-Tabiin)”  (HR Bukhari, dll).

Generasi terbaik adalah generasi Nabi, bukan karena kebesaran ekonomi, kecanggihan pasukan perang, maupun kemajuan ipteknya (karena waktu itu masih kalah jauh dari peradaban Romawi dan Persia), namun karena jumlah muttaqin per kapitanya paling tinggi.

Semua ini dapat diraih dengan modal dasar bahwa Islam harus hadir dalam sebuah negara, sehingga tidak ada satupun aktifitas muslim yang malah menurunkan kualitas taqwanya alias jauh dari aturan syari’at.

Apa-apa yang didatangkan oleh Rasul SAW kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarang pada kamu maka tinggalkanlah. [TQS Al Hasyr 7]

Sehingga agenda besar umat Islam bukanlah perbaikan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, peningkatan pendidikan, maupun upgrading teknologi. Agenda besar kita adalah mengembalikan kehidupan Islam, sehingga generasi muttaqin seperti Rasul dulu bisa kembali terrealisasi. Mengembalikan kehidupan Islam ini akan berimplikasi pada wajibnya khilafah, bentuk negara dalam Islam yang akan menjalankan segala macam syariat.

Keberadaan khilafah ini sudah include dengan agenda-agenda keumatan yang lain seperti perbaikan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, peningkatan pendidikan, upgrading teknologi, dsb. Dengan kaidah “suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna karena sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib“, koneksi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Khilafah wajib dan pasti menggencarkan dakwah bertaraf internasional (QS Ali Imran 110). Namun dakwah ini jelas membutuhkan teknologi. Kecanggihan teknologi mewajibkan adanya ilmuwan dan iklim ilmiah kelas dunia. Ilmuwan dan iklim ilmiah ini pasti membutuhkan sistem pendidikan berkelas tinggi, ekonomi yang merajai, infrastruktur yang memadai, dan penguasa yang peduli. Dari sini dapat dilihat bahwa ‘kejaran-kejaran’ negara khilafah yang sifatnya ‘duniawi’ spiritnya adalah kewajiban dakwah yang siap mentransformasi. [tomas]

*sumber gambar:  http://www.ambergristoday.com/sites/default/files/imagecache/page_full/image/conservation-and-poverty-in-belize.jpg

(Visited 266 times, 1 visits today)