home Analisis, Opini, Pemikiran Peradaban Dibangun dari Pemikiran

Peradaban Dibangun dari Pemikiran

Bila berbicara sebuah peradaban sudah tentu berbicara ideologinya. Berbicara Amerika tentu tidak bisa lepas dari Kapitalismenya, berbicara Uni Soviet sudah pasti tidak dapat dipisahkan dari Sosialismenya, dan berbicara kekhilafahan Islam sudah tentu berbicara ideologi Islam. Selama sebuah peradaban memegang erat apa yang menjadi ideologinya, selama itulah peradaban tersebut dapat tegak.

Pemikiran: tonggak peradaban

Uni Soviet yang bertahan selama sekitar 70 tahun dapat tegak selama mereka masih memegang teguh Sosialisme yang menjadi ideologi negaranya. Namun hingga pada 1989-an, dunia Timur yang membentang dari Berlin hingga Valdivostok berderap meninggalkan sistem usangnya yang menyerah dalam “perang dingin” dengan dunia Barat. Ide Sosialisme Soviet dianggap gagal, baik oleh dunia maupun rakyatnya sendiri, untuk dapat mengimbangi konsep kesejahteraan kapitalisme Amerika –yang sebenarnya hanya sedikit lebih baik. Hal ini sudah sejak lama diramalkan oleh Ludwig Von Mises pada 1919 menyatakan bahwa prinsip-prinsip ekonomi Sosialisme tidak akan pernah bekerja [1]. Tidak lebih dari 30 tahun Sosialisme berdiri, Berlin sudah menghadapi protes besar-besaran dari kaum buruh akibat diktatorisme. Hungaria pada 1965 serta Polandia pada 1956, 1970, 1976, dan 1980 juga mengalami hal yang sama.

Kapitalisme yang diemban Amerika dianggap sebagai ide yang lebih baik yang sampai saat ini masih diterapkan di banyak masyarakat dunia. Robert Gilpin dan Jean Millis Gilpin [2], memuji Kapitalisme sebagai “sistem ekonomi pencipta kesejahteraan paling berhasil yang pernah dikenal di dunia”. Namun hal itu nampaknya juga tidak relevan lagi untuk saat ini. Harry Shutt [3] menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”. Semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dunia, ketimpangan sosial yang tajam, dan semakin rapatnya interval krisis moneter setidaknya menjadi wajah baru –yang sebenarnya lama- bagi Kapitalisme. Pada tahun 1960, 20% penduduk dunia terkaya menikmati 75% pendapatan dunia; sedangkan 20% penduduk termiskin hanya menerima 2,3% pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketimpangan global itu bukan makin berkurang, namun makin parah. Sebanyak 20% penduduk terkaya itu menikmati pendapatan global makin banyak, yakni 80%. Sebaliknya, 20% penduduk termiskin menerima pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1% saja (Spilanne, 2003). Ide Kapitalisme tengah menghadapi gelombang ketidakpercayaan yang semakin besar.

Eksistensi ideologi Islam tegak dalam sebuah institusi negara direpresentasikan oleh Daulah Islam atau kekhilafahan Islam (pemerintahan pasca Nabi Muhammad SAW) yang berdiri sejak 632 M hingga 1924 M.  Selepas wafatnya Rasul, Sahabat dalam ijma’nya sepakat untuk melanjutkan pemerintahan rintisan Nabi SAW yang kemudian Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah pertama. Islam didalami, diajarkan, diterapkan, dan didakwahkan kepada seluruh penjuru dunia. Daulah Islam bertahan selama 1300 tahun dengan segala kedigdayaannya dan kecemerlangannya karena menjadikan Islam sebagai standar berpikirnya. Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Ad-Daulah Al-Islȃmiyah (1953) halaman 128 menuliskan:

 “Daulah Islam berdiri di atas ideologi Islam. Di dalam ideologi itulah kekuatannya. Dengan ideologi itu pula Daulah Islam kokoh dan mencapai ketinggian martabatnya yaitu sebagai penopang eksistensinya. Dengan demikian Daulah Islam berdiri dengan kuat karena kekuatan Islam. Daulah Islam berhasil membebaskan negeri-negeri di dunia yang sangat luas hanya dalam kurun waktu kurang dari satu abad. Padahal, sarana yang digunakan hanya kuda dan unta. Semua bangsa dan umat yang dibebaskan tunduk kepada Islam dalam waktu yang sangat singkat. Padahal alat-alat dan sarana penyebarannya sangat terbatas, yakni hanya lidah dan pena. Harus diingat bahwa yang merealisir hal itu semua dengan sangat cepat adalah Islam yang telah menjadikan negara memiliki kekuatan tersebut.”

Pemahaman akan pemikiran Islam benar-benar dijaga pada tiga generasi awal Islam (Sahabat, Tabi’in, Tabi’it-tabi’in) dan koreksi atas kesalahan pemikiran Islam terus dipertahankan. Abdurrahman [6] dalam bukunya menceritakan bahwa Abu Bakar ra. mengoreksi pendapat seorang muslim yang salah dalam memahami salah satu ayat pada QS Al-Maaidah ayat 105. Dikatakan bahwa ayat ini menjadi dalih untuk tidak memperhatikan urusan orang lain dan harusnya memperhatikan urusannya sendiri. Abu Bakar ra. pun mengoreksi bahwa ayat ini bukan dalil untuk menghentikan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar. Sebaliknya, ayat ini memerintahkan kaum muslim untuk tidak mengikuti orang-orang yang berbuat kesalahan.

Keberjalanan pemerintahan Islam pasca sahabat sebenarnya tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sempat pada 656 H kekhilafahan Islam Abbasiyah mengalami vacuum of power lantaran kehancuran akibat perang melawan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Namun karena masih adanya kesadaran Islam di benak kaum muslim untuk berada dalam satu kepemimpinan, kekosongan itu hanya bertahan sekitar 3,5 tahun. Kaum muslim dari wilayah Mesir yang dipimpin oleh Saifuddin Quthuz Al-Mu’izzi merebut kembali Baghdad dari pasukan Tartar yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan Islam ke Kairo [7].

Keruntuhan kekhilafahan terakhir

Kekhilafahan Islam yang terakhir adalah kekhilafahan Turki Utsmani yang berdiri sejak 1299 hingga 1924 yang melanjutkan era kekhilafahan Abbasiyah. Seiring meluasnya wilayah Daulah Islam, kendali pemerintahan pun semakin lemah dan serangan pemikiran dari luar pun semakin gencar. Tiga faktor yang mengakibatkan merosotnya proses berpikir kaum muslim adalah: pengaruh filsafat Yunani, filsafat ketimuran, dan serangan pemikiran Barat [6]. Serangan-serangan pemikiran tersebut telah terjadi sejak abad kelima Hijriyah [4].

Meski sempat mencapai masa keemasan pada abad 16 M, tak lama kemudian pada pertengahan abad 18 M kemunduran Era Turki Utsmani begitu terasa. Kaum muslim mengalami kekalahan di banyak pertempuran, pengecilan wilayah Daulah, dan terjadi pemberontakan di beberapa negeri muslim [8]. Dengan semakin besarnya kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi yang dicapai Eropa waktu itu, serangan pemikiran yang dilancarkan juga semakin memperlemah Daulah. Beberapa kaum muslim kemudian menganggap bahwa untuk menjadi kuat dan dapat menandingi Eropa, maka mereka harus menjadi seperti Eropa [5].

Memudarnya pemikiran Islam pada era Turki Utsmani mulai nampak jelas ketika diberlakukan Tanzimat (reformasi hukum Islam) pada era sultan Abdülmecid pada 1839. Tanzimat dibuat untuk memodernisasi hukum Islam agar dapat menyaingi Eropa dan menggantikan hukum syari’ah yang sudah sejak lama diberlakukan -walau efektifitasnya sudah jauh dibanding pada masa awal Islam. Revolusi Perancis pada awal abad 18 M mengawal konsep bahwa Gereja harus dipisahkan dari negara, memulai konsep negara sekuler demokrasi. Gereja Anglikan di Inggris juga sudah tidak memiliki kekuatan. Paus di Roma hanya sebagai tokoh agama saja. Eropa saat itu sedang dalam ide “jika kita memisahkan agama secara umum, maka kamu akan semakin sukses”. Dan inilah yang dicoba diterapkan pada Daulah Turki Utsmani [5].

Demikianlah dari peristiwa ke peristiwa, Daulah Islam semakin jauh dari pemikiran dan penerapan Islam. Kemudian hingga pada akhirnya salah satu pelopor Gerakan Turki Muda, Kemal Pasha Attaturk membubarkan Kekhilafahan Islam yang terakhir pada 3 Maret 1924.

Mengembalikan pemikiran Islam

Kita melihat bukan karena makmurnya Daulah Abbasiyah, cerdasnya ilmuwan Islam sekaliber Al-Khwarizmi, megahnya Masjid Cordoba dan Baitul Hikmah, atau kuatnya militer Turki Utsmani, namun karena eratnya genggaman Islam yang dipegang kaum muslim yang menjadikan Daulah Islam dapat eksis selama 13 abad tak tertandingi. Meski hanya berbekal kuda dan unta, kaum muslim pada tiga generasi awal membuktikan pencapaian luar biasa dengan perluasan wilayah yang paling masif sepanjang peradaban dunia. Semua itu terjadi ketika taqwa menjadi prioritas utama dan dakwah sebagai jalan mereka.

Alhasil, usaha kepada “peradaban Islam jilid dua” adalah tidak lain dengan mengembalikan ideologi Islam pada tubuh kaum muslimin yang kini sedang kehilangan jati dirinya. Bagai proses yang reversibel, usaha pengembalian Islam pada masa kejayaannya adalah invers dari sebab-sebab kemundurannya. Usaha tersebut membutuhkan manusia-manusia bertaqwa abad 21 yang percaya bahwa Allah lah sumber kekuatan. Manusia-manusia yang konsisten dalam dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan segala godaan ala akhir zaman.

Allah berfirman dalam QS Ar-Ra’du ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubahnya”

[tomas]

 

Referensi

[1]     Aslund, Anders. How Capitalism was Built. Cambridge. Cambridge University Press. 2007.

[2]     Gilpin, Robert & Gilpin, Jean Millis. Tantangan Kapitalisme Global (The Chalenge of Global Capitalism). Penerjemah Haris Munandar & Dudy Priatna. Jakarta. PT Raja Grafindo Perkasa. 2002.

[3]     Shutt, Harry. Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism). Penerjemah Hikmat Gumilar. Jakarta. Penerbit TERAJU. 2005.

[4]     An-Nabhani, Taqiyuddin. Ad-Daulah Al-Islȃmiyah. Dȃr Al-Ummah. Beirut. 1953.

[5]     Lost Islamic History. The Decline of the Ottoman Empire: Part 2 Islamic Decline. http://lostislamichistory.com/the-decline-of-the-ottoman-empire-part-2/ (diakses 11 Mei 2014)

[6]     Abdurrahman, M. Membangun Pemikiran Cemerlang. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah. 2011.

[7]     Assadi. Poster: Islam dengan dan tanpa Khilafah.

[8]     Hussain, Ishtiaq. The Tanzimat: Secular Reforms in The Ottoman Empire. Faith Matters. 2011.

 

159 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 87 times, 1 visits today)