Perkenalkan Kami

Gambaran Umum
Mahasiswa secara individu dan komunitas memiliki potensi yang besar. Mahasiswa, sebagai insan intelektual, yang levelnya berada di atas insan terpelajar, merupakan suatu potensi besar terhadap terbentuknya suatu role model masyarakat yang ideal. Dengan daya kritis yang dimilikinya, serta akses yang leluasa terhadap realita maupun teori semakin mengukuhkan anggapan tersebut.

 Namun apa yang mau dikata. Fakta berkata berbeda. Mahasiswa, dibalik potensinya yang begitu besar ternyata juga menyimpan problem yang besar dan jika dibiarkan, lama kelamaan akan dapat menggerogotinya hingga hancur. Mahasiswa menghadapi permasalahan-permasalahan yang menyerang individu, komunitas, dan organisasinya. Problematika mahasiswa bisa dibilang bukan merupakan problem linier dan sederhana. Problematika ini bisa dibilang lahir dari konsekuensi diterapkannya system pendidikan sekuler, hingga menghasilkan problem kompleks, dengan begitu banyak variable yang mempengaruhinya.

Sehingga problem-problem yang dihadapi oleh kaum intelektual ini menjadi suatu system, yang terus berputar laksana siklus yang bila tidak diputus akan terus terulang kembali di masa yang akan datang. Kondisi ini pun ternyata tidak hanya menyerang mahasiswa itu sendiri, namun juga menular pada organisasi-organisasi yang dimotori oleh mahasiswa. Sehingga akan kita temui organisasi-organisasi kemahasiswaan yang sangat tidak antusias terhadap isu-isu politik, mengkader anggotanya dengan ide-ide yang dangkal, hingga hilangnya visi dalam mengurus organisasi tersebut.

Kondisi seperti ini tidak hanya merusak individu mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan itu sendiri. Tapi juga secara tidak langsung merusak kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya. Mengingat mahasiswa ITB yang telah terlanjur mendapat cap sebagai mahasiswa terbaik di Indonesia, namun dengan kondisi kemahasiswaan sendiri yang menderita banyak masalah, maka potensi terbaik yang harusnya disumbangkan di tengah-tengah masyarakat tidak dapat tertunaikan.

Indonesia, memiliki tentara dalam jumlah cukup besar (129 juta personel) dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia(242 juta jiwa), serta memiliki potensi sumberdaya pertanian dan kekayaan mineral yang sangat melimpah, tapi semua itu tidak mampu membuat rakyatnya hidup dalam kebaikan. Mahasiswa ITB secara tidak langsung juga bertanggung jawab terhadap kondisi yang sangat memprihatinkan ini.

Meskipun sebenarnya masalah pengurusan Negara oleh pemerintah yang menjadi penyebab utamanya. Namun, karena diamnya mahasiswa ITB dalam memberikan kritik dan menyampaikan solusi kepada pemerintah, maka mahasiswa ITB patut untuk dijadikan sebagai salah satu factor atas kondisi ini. Sehingga, adanya gerakan kemahasiswaan yang dapat memunculkan potensi mahasiswa ITB untuk memberikan kritik dan solusi kepada penguasa adalah satu-satunya cara untuk “menebus” kesalahan tersebut.

Solusi Kami

Model Dasar

Permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dan gerakan kemahasiswaan merupakan permasalahan yang mendasar. Permasalahan dimana hilangnya visi gerakan kemahasiswaan yang ideologis, yang disebabkan karena belum tuntasnya pembahasan mengenai dasar pandangan hidup mahasiswa secara umum, yang tercermin di dalam konsepsi, yang juga menjadi dasar berdirinya organisasi kemahasiswaan kampus. Oleh karena itu perlu adanya pembahasan yang menyeluruh dan komprehensif mengenai kemahasiswaan dan arah gerak organisasi kemahasiswaan. Yang tidak lain pembahasan tersebut harus menyentuh falsafah dan moralitas dasar atau ideology.

Sehingga perlu ada pengkajian ulang terhadap konsepsi dan rancangan kaderisasi yang selama ini dijadikan sebagai acuan dalam menyusun gerakan dan pola pembinaan kaderisasi bagi seluruh mahasiswa ITB. Pengkajian ulang ini dilakukan agar dapat diperoleh suatu pandangan yang lebih mendasar, yang didasari oleh ideology yang benar. Proses pengkajian ini pun akan melibatkan massa kampus agar dapat terjadi pencerdasan secara langsung, dan massa kampus bersama-sama memahami dan berkomitmen untuk menjalankan konsepsi serta rancangan kaderisasi tersebut.

Kaderisasi Islam

Islam sebagai ideology memiliki arahan yang jelas dalam membina kepribadian manusia, termasuk juga mahasiswa. Islam mengarahkan bahwa untuk tingkah laku manusia dalam kehidupan ini tergantung pada persepsi manusia itu sendiri, maka dengan sendirinya tingkah laku manusia pun terkait erat dan tidak bisa dipisahkan dengan persepsi yang dimilikinya.

Persepsi itu sendiri terbentuk dengan cara mengasosiasikan fakta dengan pengetahuan, atau mengasosiasikan pengetahuan dengan fakta. Dengan cara seperti itu, akan terbentuk pada diri orang tersebut sebuah pola berpikir dalam fakta, kemudian barulah dia menentukan keputusan terhadapnya. Selain itu, dalam diri manusia juga dilengkapi oleh naluri yang menghasilkan kecenderungan-kecenderungan.

Yang mana kecenderungan ini akan juga akan menjadi pendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, dan senantiasa terikat dengan persepsi yang dimilikinya, tentang hal-hal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Kecenderungan, atau dorongan yang diasosiasikan dengan persepsi inilah yang membentuk pola sikap manusia.

Dalam rangka membentuk kepribadian yang sempurna, kedua hal ini perlu dibina. Pola pikir dibina dengan memberikan pemahaman terhadap fakta dan pengetahuan serta metode berpikir untuk mengambil keputusan. Sementara pola sikap dapat dibentuk dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan yang selaras dengan persepsi yang Islami.

Kajian Ideologis

Mengkaji merupakan bentuk yang lebih kompleks dari berpikir. Jika seorang individu mengambil keputusan dengan berpikir, maka organisasi mahasiswa mengambil keputusan pergerakannya berdasarkan hasil dari proses mengkaji. Proses mengkaji hanya dapat dilakukan oleh kaum intelektual, termasuk mahasiswa, yang telah mampu mengamati fakta dengan benar, memiliki sumber referensi teori dan pengetahuan yang benar, baik secara ilmiah maupun rasional, dan dapat menghubungkan keduanya untuk menghasilkan kesimpulan yang benar.

Untuk menghasilkan kesimpulan yang benar, maka dibutuhkan pengamatan fakta yang benar dan landasan ideology sebagai informasi awal yang juga harus dijamin kebenarannya. Maka, Islam sebagai ideology yang dapat dibuktikan kebenarannya secara rasional mestinya menjadi landasan dalam menyusun kajian dan kemudian diimplementasikan dalam gerakan.

Motor Gerakan Indonesia Mandiri

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan ITB sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang ikut berperan aktif dalam upaya pencerdasan kehidupan bangsa semakin terasa perannya. Hal ini terlihat dari semakin berkembangnya bidang keilmuan yang bisa dipelajari di ITB dan banyaknya calon mahasiswa yang memilih ITB sebagai tempat menimba ilmu. Seiring dengan persepsi tersebut, beberapa lembaga survey internasional mulai mengapresiasi kualitas pendidikan ITB di dunia internasional, diantaranya hasil survey tahun 2013 yang dirilis oleh halaman 4icu.com dan webometric.com.

Fakta tersebut tentunya memberikan beban tersendiri bagi ITB secara institusi dan civitas akademika ITB secara persona, yang mau tidak mau harus dapat dijawab, termasuk juga oleh mahasiswa. Oleh karena itu dibutuhkan adanya suatu gerakan yang dimotori oleh mahasiswa ITB dalam rangka memberikan solusi terhadap permasalahan rakyat Indonesia, sesuai dengan kapasitas dan kompetensi mahasiswa ITB itu sendiri.

ITB sebagai kampus teknologi terbaik di Indonesia menyimpan potensi besar dalam diri masing-masing individunya. Potensi besar tersebut kan menjadi sia-sia apabila tidak diarahkan pada jalur yang tepat. Maka gerakan yang diusung oleh mahasiswa ITB haruslah gerakan yang satu dan dapat mengakomodir keahlian dari semua komponen di ITB. Sehingga dipilihlah tema Energi sebagai tema besar gerakan tahun ini. Dengan melihat tema ini merupakan tema yang dapat merangkul seluruh keilmuan dan keahlian yang ada di ITB, sehingga diharapkan dapat menghasilkan suatu rekonstruksi system pengelolaan energy yang baik dan benar dari sudut pandang teori, teknologi, serta pandangan hidup.

Dengan adanya manifesto ini, ITB bisa dikatakan telah memberikan kontribusi terbaik terhadap kebangkitan Indonesia, sehingga Indonesia dapat menjadi Negara yang mandiri secara sumberdaya dan teknologi, dan juga secara regulasi dengan menerapkan ideology yang benar dan menyeluruh, yakni ideology Islam. Hingga akhirnya Indonesia dapat menjadi titik awal bagi proses penyatuan kembali seluruh dunia Islam, di bawah ideology Islam, menuju terwujudnya sebuah Negara yang paling kuat dan mandiri di dunia, yakni Khilafah Islamiyah.

Gerakan yang Berkelanjutan

Kami tidak sampai disini saja. Gerakan ini tidak akan berhenti dalam satu tahun. Gerakan ini tidak hanya berhenti dalam merekonstruksi pengelolaan sector energy. Sebab pe-er ITB tidak hanya itu. Dan tidak akan tuntas dalam 1 tahun. Masih banyak sector yang harus direkonstruksi menuju Indonesia Mandiri dibawah Syariah dan Khilafah. Sebut saja sector Media dan Informasi, sector Militer, sector pemerintahan, dan lain-lain.

Gerakan ini akan terus berlanjut hingga semua mimpi ini tercapai. Gerakan ini akan terus berlanjut dengan orang-orang yang pun akan berganti. Gerakan ini akan terus berkembang hingga seluruh mahasiswa ITB meyakini bahwa misi utamanya untuk menuntut ilmu di ITB adalah untuk menghasilkan karya-karya terbaik yang dapat memandirikan Negara ini. Hingga setiap goresan pena mahasiswa ITB adalah inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya yang dapat mengubah Negara ini ke arah yang lebih baik. Hingga setiap hembusan nafas mahasiswa ITB adalah adalah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah azza wa jalla dalam rangka melestarikan syariah-Nya. Nantikan kami saudara! [uw]

1,131 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

(Visited 222 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan