home Analisis, Opini, Pemikiran Problem Energi: Perspektif Kebutuhan

Problem Energi: Perspektif Kebutuhan

Energi menjadi isu serius yang selalu menarik diulik. Konferensi energi dengan beragam sub-tema dibahas di konferensi para ilmuwan hingga negarawan tingkat dunia. Energi merupakan syarat utama sebuah aktifitas, baik bagi individu maupun negara. Tanpa suplai energi yang mumpuni, keberjalanan keduanya tidak dapat dibayangkan.

Abad 19, dimana pengeboran minyak modern pertama dilakukan oleh Edwin Drake di Pennsylvania, merupakan abad penting yang menentukan bentuk peradaban dunia di abad setelahnya. Abad energi hewan telah tergusur dan diganti dengan minyak yang menghidupkan mesin-mesin bakar. Minyak bumi mendorong manusia menciptakan beragam moda transportasi yang menghasilkan jaringan jalan, jaringan rel, bandara, pelabuhan, dan beragam hub-transportasi yang kita temui hari ini. Industrialisasi yang pesat dewasa ini juga produk tak langsung dari abad energi minyak.

Sejak abad 20 hingga kini, masyarakat dunia terus mengeksploitasi minyak bumi. Seolah candu, manusia selalu mencari cara untuk memuaskan dahaganya terhadap minyak. Teknologi pengeboran minyak bumi pun semakin berkembang. Pengeboran yang awalnya dilakukan di laut dangkal kini mulai menjamah hingga ke laut dalam. Sumur-sumur tua juga dicarikan akal supaya bisa dieksploitasi lagi lewat penggalakan Enhanced Oil Recovery (EOR).

oil

Gambar 1. Konsumsi energi dunia (BP, 2015)

Minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara masih menjadi primadona sumber energi dunia. Dari Gambar 1, minyak yang menempati urutan pertama dikonsumsi sekitar 4.200 juta ton per tahunnya. Bersamaan dengan batu bara dan gas alam, ketiganya merupakan 65% sumber energi dunia (IEA, 2014). Sedangkan energi terbarukan (angin, sel surya, gelombang laut, dsb) masih terseok-seok untuk sekedar bersaing dengan energi nuklir. Angkanya tidak lebih dari 6% dari total konsumsi energi dunia (BP, 2015).

Terlepas masih berlakunya teori Hubbert soal oil peak atau tidak, migas dan batu bara tetap harus dicari alternatif penggantinya. Di satu sisi, penggunaan energi fosil juga menghasilkan gas rumah kaca yang kita tahu merusak lingkungan. Maka problem energi dewasa ini adalah bagaimana membawa teknologi energi terbarukan untuk dinaikkan dari level “coba-coba” menuju level masyarakat selain tetap memperluas penggunaan pembangkit tenaga air dan nuklir. Namun, seperti dikutip dari ucsusa.org (1999), pemanfaatan energi terbarukan tersebut masih menghadapi beberapa kendala. Secara global diantaranya: 1) ketidaksiapan infrastruktur (SDM, jaringan, dll), 2) kalah ekonomis dengan energi fosil, 3) pemerintah yang rajin men-subsidi bahan bakar fosil, 4) kesadaran masyarakat yang rendah untuk meninggalkan energi fosil.

Solusi problem energi sebenarnya tidak melulu soal menggenjot eksploitasi migas dan perluasan aplikasi energi terbarukan. Selain pendekatan suplai, ada juga pendekatan kebutuhan (demand) yang masih belum banyak digarap. Terlepas adanya desas-desus bahwa perusahaan minyak raksasa sengaja menggembosi perkembangan teknologi energi terbarukan, kebutuhan tetap harus di-manage untuk mengurangi penggunaan energi fosil yang juga akan mengurangi emisi CO2 di atmosfer. Penghematan tersebut juga pasti sesuai dengan semangat Islam yakni mengamalkan ajaran Nabi SAW untuk tidak berbuat tabdzir (berlebih-lebihan).

Setidaknya ada tiga pendekatan penyelesaian energi dalam perspektif kebutuhan: 1) teknologi barang hemat energi, 2) perbaikan gaya hidup, 3) perbaikan tata kota dan sistem transportasi.

Pertama, barang berteknologi  hemat energi mutlak diperlukan untuk mengurangi laju konsumsi energi. Kini “teknologi hijau” semakin gencar diteliti dan dibuat prototype-prototypenya. Barang berteknologi hijau bahkan sudah banyak hadir di hampir semua aspek kehidupan kita, mulai dari barang elektronik, alat transportasi, hingga arsitektur rumah. Barang elektronik seperti AC inverter, kulkas hemat listrik, hingga televisi full LED yang bisa menghemat daya hingga 80%, kini mulai membanjiri pasar. Para produsen otomotif juga berlomba menciptakan green car termasuk mobil listrik untuk menarik minat konsumen di tengah fluktuasi harga BBM yang liar. Mobil non-mesin bakar juga berperan mengurangi emisi gas rumah kaca. Mobil listrik Nissan, misalnya, yang di-charge dengan pembangkit tenaga batu bara dapat mereduksi emisi CO2 sebesar 8,7 gram per 100 mil dibanding mobil Nissan berbahan bakar bensin di kelas yang sama (greencarreports.com, 2012).

Arsitektur rumah yang smart juga pasti akan menghemat energi. Dan trendnya kini semakin banyak digandrungi masyarakat perkotaan yang notabene well-educated. Ada beberapa konsep untuk mendesain “rumah hijau”, misalnya: maksimalisasi ekspose cahaya matahari, ventilasi yang memadai, dan  penggunaan material dinding atau atap yang memberikan kesan sejuk. Ekspose cahaya matahari dapat ditingkatkan dengan menghadapkan rumah ke barat atau timur, dan menambah jumlah jendela. Cahaya alami tersebut akan mengurangi penggunaan lampu listrik disamping dapat membunuh kuman penyakit. Sirkulasi udara yang baik dapat dicapai dengan menempatkan ventilasi pada dua sisi ruangan secara bersilangan. Untuk kesejukan rumah, hal-hal yang harus diperhatikan adalah material atap, warna cat dinding, hingga keberadaan tanaman. Terdapat ribuan lagi ide-ide rumah hemat energi yang masih terus dikembangkan.

Kedua soal gaya hidup. Masyarakat perkotaan, karena tuntutan kehidupan yang serba cepat, umumnya menggunakan listrik lebih besar dibanding masyarakat pedesaan. Orang kota terbiasa menggunakan berbagai macam barang elektronik yang kadang tidak digunakan orang desa seperti kulkas, laptop, printer, hair dryer, hingga mesin cuci. Penghematan yang dapat dilakukan diantaranya: meminimalisir buka-tutup kulkas yang tidak perlu, mematikan televisi ketika tidak ditonton, hingga mencabut kabel alat elektronik ketika tidak dipakai.

Lebih jauh lagi bila kita bicara soal apa yang menjadi mindset hidup masyarakat kebanyakan dewasa ini, ternyata pola hidup kita memang “didesain” secara sistemis untuk buang-buang energi. Hedonisme telah mentransformasi masyarakat kita untuk mengkonsumsi listrik lebih banyak lagi. Adanya tempat hiburan malam, hiburan rakyat, console games, hingga olahraga ekstrim semuanya lahir dari pola hidup Barat yang notabene ditujukan untuk pemuasan kebutuhan manusia yang dianggap tidak terbatas. Padahal, semua itu tidak akan terjadi di masyarakat Islam yang telah menjawab tujuan hidup ini dengan jawaban yang memuaskan. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang serius. Mereka selalu merasa “dikejar” untuk mengisi hari dengan amal yang akan mengalihkan mereka dari hal-hal yang kurang bermanfaat.

Ketiga soal tata kota dan sistem transportasi. Keduanya merupakan satu rangkaian mengingat tata kota yang baik didukung oleh sistem transportasi yang baik, vice versa. Saat ini, sektor transportasi menempati urutan ke-2 dalam konsumsi energi nasional, yakni sekitar 34% (DEN, 2013). Transportasi di beberapa kota besar dunia masih dihinggapi problema, utamanya kemacetan. Padahal, dengan sarana transportasi yang memadai, selain menghemat konsumsi BBM, juga akan menghemat waktu tempuh para pengguna jalan.

Transportasi merupakan usaha pemindahan barang dan orang, bukan sarana transportasi itu sendiri. Jadi, penyelesaian masalah transportasi, utamanya kemacetan, harus berorientasi pada perpindahan barang dan orang, bukan pergerakan mobil pribadi atau motor. Dalam mewujudkan sistem transportasi kota yang hemat energi dan ramah lingkungan, studi Ofyar dkk (2011) menempatkan TDM (Transportation Demand Management) sebagai solusi utama. Ada empat paradigma dalam TDM (Prayudantyo, 2009):

  1. Pergeseran Waktu (Time Shift): dimana proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama, akan tetapi pada waktu yang berbeda. Contohnya pengaturan pemerintah kota terhadap jam masuk anak sekolah dan jam masuk orang kantoran. Pembedaan keduanya dapat mengurangi densitas kendaraan pada ruas jalan yang sama di waktu yang sama.
  2. Pergeseran Rute/Lokasi (Location Shift): dimana proses pergerakan terjadi pada waktu yang sama, akan tetapi pada rute atau lokasi yang berbeda, dapat dicapai dengan menambah jaringan jalan atau penggunaan jalan alternatif.
  3. Pergeseran Moda (Mode Shift): dimana proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama dan pada waktu yang sama, akan tetapi dengan moda transportasi yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan penerapan transportasi umum yang memadai sehingga dapat menarik minat masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi. Munculnya teknologi komunikasi seperti telepon dan internet juga mengurangi pergerakan manusia untuk bertukar informasi.
  4. Pergeseran Lokasi Tujuan (Destination Shift): proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama, waktu yang sama, dan moda transportasi yang sama, akan tetapi dengan lokasi tujuan yang berbeda. Hal ini dicapai dengan membangun tata kota dengan konsep mixed-use development. Misalnya dengan sistem block terpadu, dimana dalam block tersebut terdapat apartemen, perkantoran, sekolah, hingga tempat perbelanjaan. Masyarakat yang hidup dalam block tersebut akan dengan mudah memenuhi segala kebutuhannya hanya dengan jangkauan jalan kaki.

Kota yang terrencana dan tertata akan memudahkan kontrol dan pengawasan pergerakan masyarakatnya sehingga sangat mungkin untuk menghemat energi secara signifikan. Dunia Islam telah lama mempelopori hal itu dengan dibangunnya Kota Baghdad pada tahun 762 M oleh khalifah Al Mansur.

Sejarah metropolitan Baghdad dimulai pada 758 M ketika Al Mansur, khalifah kedua Khilafah Abbasiyah, menyusuri Sungai Tigris hingga bertemu desa kecil bernama “Baghdad”. Desa tersebut diberkahi dengan tanah yang subur, angin yang sepoi-sepoi, dan kanal yang menghubungkan sungai Tigris dan sungai Eufrat. Lokasi tersebut sangat tepat untuk mendukung Kota Baghdad sebagai kota perdagangan dunia. Baghdad dapat disebut dengan kota well-planned pertama yang dibangun benteng-benteng dan jaringan jalan yang terhubung ke Persia, Asia Tengah, Syria, dan Hejaz. Dalam waktu 30 tahun, Baghdad telah dihuni oleh sekitar 1 juta penduduk dengan warganya yang multikultur dan multireligi. Sedangkan London, Paris, dan Roma waktu itu hanya dihuni sekitar ribuan orang eropa yang monokultur.

Baghdad

Gambar 2. Peta Baghdad pada masa Abbasiyah (muhammadanism.org)

Keberadaan Sungai Tigris dan Eufrat serta kanal-kanal di sekitar Baghdad memberikan kemudahan transportasi waktu itu. Baghdad juga didesain untuk terhindar dari banjir yang mungkin terjadi akibat meluapnya Sungai Tigris. Dengan kondisi kota Baghdad yang minim banjir, maka jelas itu termasuk bentuk penghematan energi.

Tiga konsep manajemen kebutuhan di atas akan dengan mudah diterapkan bila didukung dengan birokrasi yang bersih dan dengan kesadaran penuh masyarakat untuk membuang gaya hidup yang berlebihan. Namun kita juga tidak boleh lupa terhadap problema energi yang utama, yakni kebobrokan manajemen di sisi suplai. Liberalisasi migas, terutama, harus tetap dijadikan concern oleh dunia Islam untuk bisa merebut emas hitam tersebut agar dikelola sendiri sesuai dengan semangat Islam, disamping tetap menapaki solusi demand management.

Perbaikan dari sisi suplai maupun kebutuhan akan dapat terealisasi jika didukung penuh oleh negara yang independen dari kepentingan cukong maupun golongan tertentu. Kita melihat berbagai kebobrokan demokrasi hari ini terjadi ketika pengusaha bergandengan tangan dengan penguasa menata segala aspek kehidupan kita. Maka tidak heran, bila hari ini beragam solusi-solusi parsial selalu tidak pernah berjalan efektif karena terbentur kebijakan selektif anggota legislatif maupun eksekutif. Maka sejatinya, tugas ummat Islam saat ini adalah bekerja keras mengusahakan tegaknya sistem yang islami sambil merekonstruksi tata kelola energi. [tomas]

 

Daftar Pustaka

BP: Statistical Review of World Energy 2015. [PDF] http://www.bp.com/content/dam/bp/pdf/energy-economics/statistical-review-2015/bp-statistical-review-of-world-energy-2015-full-report.pdf

Gordon, Nikki. (2012) Are Electric Cars Really Bad for The Planet? Simple Math Says No. Diakses pada 30 Mei 2016. http://www.greencarreports.com/news/1072943_are-electric-cars-really-bad-for-the-planet-simple-math-says-no

International Energy Agency. 2014 Key World Energy Statistics. [PDF] http://www.iea.org/publications/freepublications/

Muir, William. (1883) The Caliphate: Its Rise, Decline, and Fall from Original Sources, Edinburgh, Scotland. lewat http://www.muhammadanism.org/maps/default.htm

Tamin, Ofyar Z. (2012). Pull Factors [Power Point Slides]

Tamin, Ofyar Z., Dharmowijoyo, Dimas B.E., (2011). Menuju Terciptanya Sistem Transportasi Kota Hemat Energi Dan Ramah Lingkungan. LPPM ITB.

The Empire of Abbasids. Diakses pada 30 Mei 2016. http://dlx.bookzz.org/foreignfiction/720000/5b587695964a94505a4f204367f1c2cf.html/_as/[Calliope]_Al_Ma’mun,_Caliph_Of_Baghdad(BookZZ.org).html

Union of Concerned Scientists. (1999) Barriers to Renewable Energy. Diakses pada 30 Mei 2016. http://www.ucsusa.org/clean_energy/smart-energy-solutions/increase-renewables/barriers-to-renewable-energy.html#1

featured image: http://pixeljoint.com/files/icons/full/nirmanacity.gif

584 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 163 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *