home Opini, Pemikiran PT Indonesia Raya

PT Indonesia Raya

Al kisah di suatu masa di negeri yang punya banyak pulau hingga konon jumlahnya mencapai 17 ribu, hiduplah rakyat negeri entah berantah. Di tanahnya terkandung mineral yang beragam macamnya yang seakan tak ada habisnya. Di permukaan tanahnya terhampar sawah, hutan, dan kebun yang tak pernah mengecewakan petani-petaninya. Di lautnya tercecer ikan-ikan beragam warna dan jenisnya yang selalu memanjakan para nelayannya. Negeri yang diberkati, kemanapun kaki melangkah tidak ada yang bisa dilihat melainkan lukisan alam yang begitu mempesona.

Dengan anugrah Yang Maha Kuasa yang begitu melimpahnya, ternyata tak serta merta membuat rakyatnya bahagia. Setiap jengkal kebun disana katanya bukan milik petaninya. Setiap meter kedalaman lautnya dimanfaatkan oleh negeri tetangga bahkan juga ada yang jauh di utara sana. Setiap batang emas yang diambil dari dalam tanahnya hanya secuil upil yang jadi jatah mereka. Setiap liter minyak buminya ternyata sudah dipasang label harga. Bahkan mata air di gunung-gunungnya sudah milik segelintir orang dari negeri nun jauh disana.

Rakyat negeri entah berantah sedang berjuang mengembalikan kejayaannya seperti dongeng dari moyang mereka. Tapi ternyata tidak semua, hanya segelintir kelompok peduli saja. Sebagian besar rakyatnya hanya bermalas-malasan menunggu perubahan 5 tahunan yang ditentukan oleh 5 menit saja. Ya, mereka senang dengan berbagai audisi instan dari macam jadi artis hingga jadi penguasa. Padahal penguasa itu tidak dibikin setaun dua tahun lamanya lewat citra media. Apalagi lewat kontes yang konon sudah ditentukan pemenangnya oleh orang tak bertanggung jawab diluar sana.

Negeri entah berantah masih bergulat dengan keadaan yang miskin papa. Kesehatan, pendidikan, dan keamanan ternyata tetap bayar juga. Sekolah bermutu menjamur dimana-mana tapi sebanding dengan harganya. Jika sakit dan mau berobat ke rumah sakit yang maxi pelayanannya, mereka harus jual sapi kesayangannya. Ada juga dana sosial nasional, itu juga pemalakan terselubung katanya. Jika kemalingan, mereka juga harus merogoh kocek untuk minta tolong aparat keamanan sekitarnya.

Negara Korporatokrasi *

Baru-baru ini santer terdengar bahwa tarif kereta naik harganya. Ditambah lagi relnya yang akan ditarik pajaknya juga sempat jadi wacana. Tidak cuma itu saja, perhiasan, penjahit pakaian, setruk belanja, listrik, sampai kos-kosan pun menjadi target pajak yang membabi buta.

Pemimpinnya sering berbicara, bahwa pajak adalah tulang punggung negara mereka. Memang benar 70 persen dana pemerintahan didapat dari kantong rakyatnya. Kekayaan alam yang ada seakan fatamorgana. Rakyat negeri entah berantah membayar untuk pelayanan yang didapatnya. Mereka pun perlahan menyadari, bahwa mereka sedang patungan massal untuk menghidupi negerinya. Ya, mereka sebenarnya hidup dalam korporasi berkedok negara, mereka berjual beli dengan PT Indonesia Raya. []

*sumber gambar: https://mizzford.files.wordpress.com/2012/07/people-vs-govt-fishing.jpg

312 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

(Visited 114 times, 1 visits today)