home Analisis, Opini, Pemikiran Ummat Islam Mundur karena Meninggalkan Sains?

Ummat Islam Mundur karena Meninggalkan Sains?

Kebangkitan Barat dinilai sebagai buah sekulerisme, yakni memisahkan pengaturan negara dari agama. Hasil survey PEW Research melaporkan bahwa negara-negara relijius (yang kebetulan negara muslim), cenderung memiliki GDP per capita yang rendah. Sebaliknya, negara-negara sekuler (yang biasanya negara Barat) menjadi pemimpin dalam perolehan GDP per capita [1].

Keberhasilan Barat disebut-sebut juga karena hasil gemblengan sains. Dulu, eropa disibukkan dengan agama maka mereka mengalami kemunduran, sedangkan kaum muslim sibuk dengan sains sehingga bisa bangkit. Kondisi sebaliknya terjadi saat ini. Benarkah demikian?

Sains dan Islam

Paradigma mendasar antara iman dan ilmu adalah bagai saudara kembar. Menuntut ilmu adalah wajib untuk semua kaum muslim, yang juga salah satu jalan mengenal Allah (ma’rifatullah). Ahli ilmu adalah pewaris para nabi, sementara percaya tahayul adalah sebagian dari sirik. Paradigma ini menggantikan paradigma jahiliyah, atau juga paradigma di Romawi, Persia atau India kuno yang menjadikan ilmu sesuatu privilese kasta tertentu dan rahasia bagi awam [2].

Rasulullah pernah mengatakan “Antum a’lamu umuri dunyaakum” (Kalian lebih tahu urusan dunia kalian) – dan hadits ini secara jelas berkaitan dengan masalah teknologi – waktu itu teknologi penyerbukan kurma. Ini adalah dasar bahwa teknologi bersifat bebas nilai. Bahkan Rasulullah telah menyuruh umat Islam untuk berburu ilmu sampai ke Cina, yang saat itu pasti bukan negeri Islam. Rasul juga mengadopsi teknologi perang dari Bangsa Persia yang diperoleh dari sahabat Salman Al-Farisi.

Ilmuwan Barat, Hunke, menyebut “satu bangsa pergi sekolah”, untuk menggambarkan bahwa paradigma tersebut begitu revolusioner sehingga terjadilah kebangkitan ilmu dan teknologi. Dulu, peran negara Islam (Khilafah) memang sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih positif dibanding penguasa muslim sekarang ini. Para konglomeratpun sangat antusias dan bangga bila berbuat sesuatu untuk peningkatan taraf ilmu atau pendidikan masyarakat, seperti misalnya membangun perpustakaan umum, observatorium ataupun laboratorium, lengkap dengan menggaji pakarnya. Sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis. Sekolah ini mengajarkan ilmu tanpa dikotomi ilmu agama dan sains yang bebas nilai [2].

Namun penguasaan teknologi oleh kaum muslim tersebut memang tidak digunakan untuk menjajah. Mereka meyakini bahwa berda’wah dan berjihad mutlak membutuhkan teknologi, karena kaidah “ma laa yatiimul waajib illaa bihi, fahuwa waajib” (apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban, hukumnya wajib pula). Sains di tangan Islam akan digunakan untuk melengkapi peran seorang muslim sebagai hamba Allah, untuk memerdekakan manusia dari jerat penghambaan selain Allah untuk hanya pada Allah SWT semata. Alhasil, antara sains dengan Islam memang tidak ada kontradiksi.

Sains dan Barat

Berbeda dengan kaum muslim, Barat baru mengawali era pencerahan (Renaissance) pada abad 16 M. Eropa pada awal masehi masih diliputi dengan praktik-praktik pemerintahan teokrasi (kongkalikong antara gereja dan raja) yang jelas-jelas tidak ‘pro-rakyat’. Raja-raja eropa menerapkan pajak dhalim, memeras rakyat, memerintah dengan tangan besi, hingga menolak kebenaran ilmiah. Kondisinya praktis jauh berbeda dengan khilafah Islam yang hanya berjarak sejengkal saja. Bila pada abad 8 M jalanan di Baghdad dan Cordoba sudah mulus berlapis aspal dan penuh penerangan, namun di Paris, London, dan Madrid masih becek dan gelap gulita.

Pertentangan antara gereja dan masyarakat Eropa mencapai mencapai puncaknya pada Revolusi Prancis (1789). Revolusi yang tak kalah pentingnya adalah Revolusi Amerika pada 1776 dan “Glorious Revolution” di Inggris pada 1688 yang mengawali ide tentang pembagian kekuasaan dan hak asasi. Revolusi ini membawa eropa kepada bentuk pemerintahan kompromistis antara penguasa dengan rakyat yang kemudian disebut demokrasi.

Di sisi lain, Barat juga mulai menjadi masyarakat yang mencintai sains. Banyak putera-putera eropa yang belajar di negeri muslim, termasuk Silvester II yang kemudian menjadi Paus di Vatikan pada 999-1003 M yang kuliah di Universitas al-Karouiyinne di Maroko [3]. Pada abad 11 hingga 15 berdiri insitusi pendidikan di Eropa yang masih beroperasi hingga kini [4]. Kehadiran kopi yang diimpor dari negeri muslim juga memberi kontribusi besar. Masyarakat eropa mulai meninggalkan beer dan wine, dan memulai diskusi-diskusi serius dalam hal politik, filosofi, hingga sains. Iklim penelitian dan penemuan ilmiah di Eropa pun bergairah. Dengan dukungan revolusi politik, kemajuan dalam bidang ilmiah pun dapat dikonversi menjadi hal-hal produktif, setelah sebelumnya kadang harus dimandulkan oleh gereja. Dari sini kita melihat bahwa kemajuan di Barat memang hasil sentuhan dari dunia Islam.

Baca juga: “Ketika Barat Bangkit (1)”

Eropa yang memperoleh angin segar dalam bidang politik dan sains tersebut kemudian merasa harus menjajah negeri lainnya. Kondisi iklim yang ekstrim serta tekanan militer dan politik dari Khilafah Islam memaksa Eropa untuk mencari penghidupan dari negeri lain. Era ini disebut era kolonialisme. Dengan dukungan teknologi pelayaran dan militer, pada abad 18, Eropa berhasil menjangkau beberapa bagian dunia termasuk Amerika Latin, Indocina, India, Afrika, hingga Nusantara. Pada abad 20, Barat berhasil menggeser dominasi kaum muslim. Pada 1924, dimana insitutsi kaum muslim, khilafah, secara formal sudah dihapuskan, dunia Islam ‘dipaksa’ untuk mengakui identitas bangsanya masing-masing.

Baca juga: “Ketika Barat Bangkit (2)” 

Bekas kolonialisme tersebut masih terasa hingga abad 21 namun tampil dalam bentuk yang sama sekali baru. Para penguasa negeri muslim dipaksa mengambil nilai-nilai Barat dalam mengelola kekayaan alamnya. Kehadiran lembaga keuangan internasional kerap juga memberi solusi menjebak bagi dunia Islam. Inovasi kaum muslim di bidang teknologi juga mandek akibat campur tangan asing. Alhasil, Barat kini tetap di atas angin dalam dominasinya atas dunia Islam.

Mundurnya Islam

Bangkitnya peradaban tanpa diiringi kebangkitan teknologi memang tidak bisa dibayangkan. Dalam konteks materialisme seperti pada budaya Barat, memang kualitas suatu bangsa biasa diukur dari produk peradaban (iptek, kesenian, arsitektur, etc).  Namun dalam konteks Islam, ukuran yang standard adalah kontribusi bangsa itu dalam amar ma’ruf nahi munkar (QS Ali Imran: 110).  Produk peradaban sesungguhnya hanyalah alat semata.  Motivasi amar ma’ruf nahi munkar-lah yang pernah membawa ummat Islam untuk menciptakan peradaban yang maju.

Baca juga: “Mendefinisikan Kebangkitan” 

Jihad membebaskan manusia dari pemikiran kufur adalah tugas mulia Nabi yang diwariskan pada ummatnya. Pengorganisasian aktivitas tersebut by default ada di pundak Negara/ Daulah Islam. Persatuan dunia Islam tersebutlah yang kemudian memacu perkembangan teknologi dan sains dalam semangat amar ma’ruf nahi munkar. Bila kini kita temui kondisi kaum muslim yang tertinggal di segala bidang, utamanya sains dan teknologi, hal itu adalah akibat tidak langsung dari ketiadaan Daulah Islam.

Sains dan Islam dulu berhasil diintegrasikan tanpa dipertentangkan. Artinya, kaum muslim dulu memang sibuk dengan urusan ‘agama’ yang juga pasti sibuk urusan garap-menggarap teknologi dan sains. Ini berbeda dengan paradigma Barat, dimana sains tidak boleh disentuh agama, pun juga sebaliknya. Bila saat ini di negeri-negeri kaum musilm –yang terpecah belah- masih terdengar sayup-sayup relijiusitas, itu artinya memang ruh Islam tidak bisa dihilangkan dari benak kaum muslim. Relijiusitas ummat muslim terlalu besar untuk dikandangkan di masjid atau musholla.

Al-Qur’an boleh dibacakan pada yang mati

Tetapi bagi yang hidup tidak boleh jadi solusi

 Al-Qur’an boleh dibaca saat sholat

Tetapi tidak ketika bicara migas milik rakyat

 Al-Qur’an boleh dibaca di masjid, surau, dan musholla

Tapi tidak untuk negeri yang salah kelola

 Al-Qur’an boleh ditaruh di tempat tinggi

Tetapi luput saat ummat bicara solusi

[tomas]

 

featured image source: http://faizehaakimi.com/uploads/images/azhar-park.jpg

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/12/23/americans-are-in-the-middle-of-the-pack-globally-when-it-comes-to-importance-of-religion/?utm_source=Pew+Research+Center&utm_campaign=27fcdbb66f-Religion_Project_Weekly_Update_Dec_23_2015&utm_medium=email&utm_term=0_3e953b9b70-27fcdbb66f-399971765

[2] http://www.fahmiamhar.com/2006/05/integrasi-sains-dan-islam.html

[3] http://www.fahmiamhar.com/2013/11/kampus-bermutu-yang-sesungguhnya.html

[4] https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_oldest_universities_in_continuous_operation

[5] http://www.fahmiamhar.com/2012/12/diagnosis-kemunduran-umat.html

[6] puisi dari: http://gardabumi.blogspot.co.id/

[sumber gambar: http://www.pewresearch.org/files/2015/12/FT_15.12.17_religiousSalienceScatter.png]

451 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 263 times, 1 visits today)