home Event, Opini Urgensitas Pergerakan Politik Mahasiswa

Urgensitas Pergerakan Politik Mahasiswa

Sebelum panjang lebar berbicara urgensitas pergerakan mahasiswa. Sebaiknya kita awali dengan meninjau kembali pemaknaan mahasiswa. Ini sangat menentukan sikap seorang mahasiswa yang berangkat dari pemaknaan mahasiswa itu sendiri.Kami melihat bahwasanya mahasiswa pada dasarnya adalah masyarakat sipil tetapi mahasiswa itu bisa termasuk kedalam masyarakat politik atau ekonomi juga. Disinilah letak strategis nya posisi mahasiswa. Dengan posisi seperti ini, mahasiswa bisa melakukan proses perubahan. Sedangkan potensi mahasiswa, mahasiswa itu adalah komponen yang independent dari sisi pergerakan. Kemudian mahasiswa juga dinilai sebagai komponen masyarakat yang kritis. Mahasiswa juga bisa mengembangkan metode terkait dengan pergerakan dengan keilmuannya karena mahasiswa adalah basisnya keilmuan. Mengenai peran, yang paling penting dari seorang mahasiswa adalah sebagai social control. Sehingga mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dari masyarakat.

Prof Ismail Suny, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta ditahun 73-78. Beliau menyampaikan pada tahun 77-78, bahwasanya gerakan mahasiswa sejatinya adalah gerakan ekstraparlemen yang konstitusional dan ini adalah gerakan politik. Dimana statement ini menjadi bara untuk terbentuknya gerakan mahasiswa yang diinisiasi Kampus ITB, melalui Dewan Mahasiswa ITB dan kampus-kampus di Bandung, yang mana kemudian mengumpulkan mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia. Mahasiswa membentuk GAK (Gerakan Anti Kebodohan), hal ini merespon keadaan negeri ini yang mana hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tanpa diimbangi dengan pembangunan Sumber Daya Manusia, padahal pembangunan manusialah yang penting bagi aset atau keberjalanan negeri ini kedepan.Dan pada tahun 77/78 juga merupakan momentum ikrar sumpah mahasiswa, pada tahun inilah istilah gerakan mahasiswa hadir.

Sejatinya, munculnya gerakan mahasiswa tahun 77/78 tidak lepas dari pergerakan mahasiswa tahun 1974 yang merespon momentum dibukanya keran kapitalisasi asing oleh Soeharto. Dimana pada saat itu masih dikenal sebagai gerakan pemuda, yang melibatkan semua elemen masyarakat dan mahasiswa. Pada saat itu mahasiswa masih sedikit dan ekslusif nan borjuis. Hanya saja pada saat itu pergerakan mahasiswa masih chaos, sehingga banyak yang menjadi tahanan politik.

Kembali menilik pergerakan mahasiswa pada tahun 77/78, dengan adanya gerakan mahasiswa yang diinisiasi ITB ini. Rezim soeharto menstigmatisasi gerakan mahasiswa ini sebagai gerakan politik yang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik dan tentarapun diturunkan untuk mengepung kampus ITB. Mengapa rezim merespon sebegitunya ?, hal ini dikarenakan ikrar sumpah mahasiswa tahun 77/78 ini langsung melawan dan menolak rezim. Dan mahasiswa baru berhasil menumbangkan Soeharto tahun 1998. Dan setelah itu gerakan mahasiswa mulai redup hingga saat ini.

Dengan menilik realitas mahasiswa saat ini, kita tidak bisa menolak bila dikatakan mahasiswa sekarang apatis, hedonis, tidak peduli akan bagaimana keadaan masyarakat, bagaimana pengurusan urusan publik oleh negara, dan lain sebagainya. Hal ini tidak lepas dari hal-hal yang makro sampai mikro, dari paradigma global sampai paradigma personal, dari sistem pendidikan sampai pribadi mahasiswa. Semenjak adanya normalisasi kehidupan kampus, adanya kebijakan-kebijakan yang memang memfokuskan mahasiswa pada studi-oriented ataupun gaya hidup apatis-hedonis yang diakibatkan dari kegiatan akademik yang begitu rupa membuat redupnya pergerakan mahasiswa. Maka disinilah urgensi harus dikembalikannya pergerakan politik mahasiswa, yang tidak hanya melanjutkan pergerakan mahasiswa dimasa lalu, tetapi haruslah pergerakan mahasiswa yang menjadi pembaharu bagi perubahan masyarakat menuju keidealan yang berangkat dari paradigma mendasar yang cemerlang, yang tidak hanya bersifat nasional/regional, namun global nan transendental. Dan berangkat dari paradigma inilah akan terbentuk persepsi politik yang cemerlang jua.

Rusaknya realitas politik saat ini, adalah buah dari persepsi politik yang rusak juga. Tidak bisa disimpulkan bahwa politik itu kotor hanya karena realitas politik yang rusak. Maka disini diperlukan membangun pergerakan politik itu dengan persepsi politik yang cemerlang nan transendental yakni persepsi politik Islam untuk mengubah persepsi politik yang ada.

(yp)

61 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

(Visited 12 times, 1 visits today)